Hari Gizi dan Makanan : Bagaimana Islam Telah Mengajarkannya

“Olahraga adalah raja, dan gizi adalah ratu. Gabungkan keduanya, dan anda akan mendapatkan sebuah kerajaan.” ~ Jack Lalanne

Setiap tanggal 25 Januari, Indonesia memperingati Hari Gizi dan Makanan. Hari tersebut merupakan sebuah momentum penting dalam meningkatkan kepedulian dari berbagai pihak untuk membangun gizi menuju bangsa yang sehat dan berprestasi melalui pemenuhan gizi seimbang dan produksi pangan berkelanjutan, sehingga mampu mendorong pencapaian RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) di bidang kesehatan.

Hari Gizi dan Makanan ditetapkan pada tanggal tersebut karena bertujuan untuk memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan oleh LMR (Lembaga Makanan Rakyat) pada tanggal 25 Januari 1951. Hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an, kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak tahun 1970-an hingga sekarang.

Zat Gizi adalah elemen dalam makanan yang memiliki peran penting bagi kesehatan tubuh. Zat Gizi dapat membantu tubuh dalam mendapat energi yang diperlukan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Zat gizi berperan dalam mengatur metabolisme tubuh, memelihara dan mengganti jaringan tubuh, mendukung pertumbuhan, berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh dan sebagainya. Gizi yang seimbang akan sejalan dengan tubuh yang sehat. Sedangkan kurangnya asupan gizi akan menyebabkan seseorang rentan terhadap serangan infeksi dan penyakit. Oleh karena itu menjaga kesehatan tubuh dan asupan gizi yang seimbang merupakan suatu hal yang sangat penting.

Islam juga telah mengajarkan akan hal ini. Islam mewajibkan bagi setiap muslim untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib. Halal artinya terbebas dari zat-zat yang diharamkan oleh islam seperti bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih tidak menyebut nama Allah… (QS. Al-Maidah: 3). sedangkan thayyib artinya baik dan bermanfaat untuk kesehatan tubuh serta tidak menimbulkan masalah jika dikonsumsi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sesuai dengan firman Allah “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi…”(QS. Al Baqarah, 2: 168)

Selain itu, mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib juga telah dicontohkan oleh suri tauladan kita, Rasulullah SAW. Setiap tindakan yang beliau lakukan bernilai kebaikan di dunia dan akhirat. Begitu juga dengan pola makan beliau yang diakui oleh dunia kesehatan sebagai pola makan sehat yang dapat menghindarkan diri dari berbagai penyakit. Menurut Profesor Hans Heinrich Reckeweg, M. D., pakar toksikologi  dalam bukunya berjudul Biological Therapy Vol. 1 No. 2, mengatakan bahwa kaum barat yang tidak memperhatikan dan mencontoh adab makan yang diajarkan oleh Islam, pada akhirnya akan mudah terserang oleh berbagai macam penyakit. Namun, mereka yang mematuhi aturan dan adab makan menurut Islam akan sehat, serta mereka yang mengikuti cara makan Barat yang buruk akan sakit. Pola makan yang sehat dan adab makan dalam Islam seharusnya ditiru oleh kaum Barat.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadist yang berbunyi Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Muslim).”

Hadist tersebut menjelaskan bahwa, mukmin yang kuat lebih dicintai dibandingkan dengan mukmin yang lemah. Kuat dalam hal ini bukan hanya kuat imannya saja tapi kuat secara fisik. Oleh karena itu, menjaga tubuh yang kuat dan sehat adalah kewajiban bagi setiap muslim.. Muslim yang memiliki tubuh kuat akan mampu memperbanyak intensitas dan kualitas ibadahnya kepada Allah SWT dibandingkan dengan muslim yang lemah. Muslim yang memiliki tubuh kuat dan bugar akan mampu mengoptimalkan setiap ibadah yang ia lakukan kepada Allah SWT.  

Untuk menjaga kebugaran tubuh, diperlukan pola hidup yang sehat dan memperhatikan setiap asupan makanan agar terpenuhi syarat gizi yang seimbang. Menurut Dokter spesialis penyakit dalam dari Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Purwokerto, dr Andreas, SpPD mengatakan bahwa makanan bergizi adalah makanan yang memiliki komposisi nutrisi yang lengkap. termasuk kandungan vitamin dan mineralnya, jika asupan makanan bergizi sudah kuat dan seimbang maka daya tahan tubuh akan terjaga dengan baik.

Pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang di masa sebelum pandemi sudah menjadi masalah serius di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya perbaikan status gizi buruk (stunting) pada balita di Indonesia. Proporsi status gizi sangat pendek turun dari 37,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen (Riskesdas 2018). Hal ini juga terjadi pada proporsi status gizi kurang, turun dari 19,6 persen (Riskesdas 2013).menjadi 17,7 persen (Riskesdas 2018). Walaupun telah mengalami penurunan, tapi penurunan tersebut masih kurang memenuhi batas prevalansi 20 persen yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain masalah stunting, masalah serius lainnya adalah obesitas. Berdasarkan data Riskesdas 2018, angka obesitas di Indonesia mencapai 21,8 persen. Angka tersebut terus naik sejak Riskesdas 2007 sebesar 10,5 persen dan 14,8 persen pada Riskesdas 2013. Peningkatan ini dapat berpengaruh pada Penyakit Tidak Menular seperti stroke, diabetes, hipertensi, gangguan ginjal kronis, hingga jantung. Hal ini tentu disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat termasuk mengkonsumsi makanan dengan asupan gizi yang tidak seimbang.

Di Masa pandemi COVID-19 ini, masalah pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang turut membutuhkan perhatian lebih. Menurut Perwakilan Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan bahwa sebelum terjadi pandemi, ada sekitar 2 Juta anak Indonesia yang menderita gizi buruk. Lebih dari 7 Juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting. Bahkan, UNICEF memperkirakan jumlah anak yang mengalami kekurangan gizi akut di bawah lima tahun bisa meningkat 15 persen secara global pada tahun ini jika tidak ada tindakan. Hal ini disebabkan karena daya beli masyarakat saat pandemi ini menurun. Akibatnya, kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil beresiko mengalami keterbatasan pangan dalam keluarga.

Berbagai masalah terkait pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang di Indonesia, perlu mendapat perhatian yang serius oleh Pemerintah. Hal ini disebabkan karena masalah tersebut sangat mengganggu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah dapat terus mengoptimalkan upaya untuk mengatasi hal ini. Jika dilihat dalam perspektif Islam, pemerintah memiliki peran untuk memberikan jaminan kesehatan dan kesejahteraan kepada seluruh masyarakat. Seperti yang telah dicontohkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu khalifah di masa pemerintahan Bani Umayyah yang terkenal dengan prestasinya dalam memberantas kemiskinan. Pada masa kepemimpinannya, sulit ditemukan masyarakat yang miskin karena semua sudah hidup berkecukupan. Dikisahkan pada saat itu Umar bin Abdul Azizi memerintahkan seorang petugas pengumpul zakat, Yahya bin Said untuk memungut zakat ke Afrika dan membagikannya ke masyarakat miskin. Namun Yahya bin Said tidak menemukannya. Semua masyarakat sudah hidup makmur. Kemakmuran umat ini ternyata bukan hanya terjadi di Afrika tapi di seluruh wilayah kekuasaanya.  Hal ini terjadi karena Umar bin Abdul Aziz mampu mengoptimalkan lembaga sosial dalam mendistribusikan kekayaan yang adil kepada seluruh masyarakat. Pada masa ini, bukan hanya pemerintah saja yang bertanggungjawab pada kemakmuran rakyatnya, namun kaum cendekiawan juga membantu dengan melakukan kajian ilmiah yang dikaitkan pada aspek sosial, politik, ekonomi, hingga keagamaan sehingga mampu memecahkan masalah-masalah kemiskinan. Karena kemiskinan dapat diatasi, maka tercipta pula kemakmuran dan kesejahteraan.

Kebijakan Umar bin Abdul Aziz dapat menjadi contoh yang baik bagi Pemerintah Indonesia. Walaupun tidak dapat meniru keseluruhan, namun pemerintah Indonesia juga telah berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi kemiskinan dan pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang bagi seluruh masyarakat Indonesia termasuk masyarakat miskin. Pemerintah telah berupaya dalam peningkatan ketahanan pangan yang meliputi peningkatan produksi, peningkatan daya beli masyarakat, pengkoordinasian kebijaksanaan harga, pengembangan kelembagaan pangan yang efektif dan efisien serta berbagai kebijaksanaan lainnya. Kebijakan-kebijakan ini juga termasuk salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs). Sustainable Development Goals (SDGs) adalah suatu rencana global yang disepakati oleh para pemimpin dunia termasuk Indonesia untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Jika permasalahan terkait gizi ini dapat diatasi maka pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan upaya aksi global dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) akan berhasil.

Selamat Hari Gizi dan Makanan Indonesiaku

Sumber:

  1. https://jagokata.com/
  2. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/
  3. https://health.kompas.com/
  4. https://fk.uii.ac.id/
  5. https://medium.com/
  6. https://republika.co.id/
  7. https://fk.ui.ac.id/
  8. https://www.kompas.com/
  9. https://republika.co.id/
  10. https://www.bappenas.go.id
  11. https://www.sdg2030indonesia.org

 

Writer : Tika Widiastuti, Syifa Philai Shopia, Taqiyah Dinda Insani

 

Repost From : http://tikawidiastuti-feb.web.unair.ac.id/artikel_detail-325758-Perayaan%20dan%20Peringatan-Hari%20Gizi%20dan%20Makanan%20:%20Bagaimana%20Islam%20Telah%20Mengajarkannya.html

There are no comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart