Peran Fleksibiltas Hamstring Dalam Kecepatan Berjalan Pada Lansia

VOKASI NEWS – Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia tidak lagi seelastis dulu. Pada lansia, salah satu perubahan yang cukup terasa terjadi pada otot, termasuk otot hamstring di bagian belakang paha. Otot ini perlahan menjadi lebih kaku karena berkurangnya serabut otot yang kemudian tergantikan oleh jaringan yang kurang elastis. Selain itu, perubahan pada struktur kolagen juga membuat otot semakin sulit untuk diregangkan secara optimal. Kondisi inilah yang akhirnya menyebabkan fleksibilitas hamstring pada lansia cenderung menurun (Gutiu et al., 2025).

Selain perubahan pada otot, kemampuan berjalan juga menjadi hal penting yang sering digunakan untuk melihat kondisi kesehatan lansia. Kecepatan berjalan bukan hanya soal aktivitas sehari-hari, tetapi juga mencerminkan tingkat kebugaran dan kemandirian seseorang. Bahkan, penurunan kecepatan berjalan bisa menjadi tanda awal adanya penurunan fungsi tubuh dan meningkatnya risiko jatuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lansia yang berjalan lebih lambat memiliki kemungkinan jatuh yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang berjalan dengan kecepatan normal (Djoar dan Anggarani, 2022; Thi Ha et al., 2021).

Peran Fleksibilitas Hamstring dalam Kecepatan Berjalan

Jika dilihat lebih dalam, fleksibilitas hamstring ternyata ikut berperan dalam menentukan seberapa baik seseorang berjalan. Saat melangkah, otot ini membantu mengontrol pergerakan kaki agar tetap stabil dan tidak berlebihan. Ketika hamstring dalam kondisi kaku, gerakan kaki menjadi terbatas, lutut tidak dapat lurus sepenuhnya, dan langkah menjadi lebih pendek.

Hal tersebut membuat pola berjalan kurang efisien dan kecepatan pun menurun. Sebaliknya, ketika fleksibilitas hamstring terjaga, gerakan berjalan menjadi lebih leluasa sehingga langkah bisa lebih panjang dan ritme berjalan lebih optimal (Kotwal & Mittal, 2020; Zhang et al., 2022).

Masih Perlu Diteliti Lebih Lanjut

Untuk mengetahui kondisi kondisi fleksibilitas dan kecepatan berjalan, terdapat metode yang sederhana dan aman bagi lansia. Fleksibilitas hamstring diukur melalui Chair Sit and Reach Test, yaitu gerakan membungkuk dari posisi duduk untuk menjangkau ujung kaki. Sementara itu, kecepatan berjalan diukur menggunakan 4 Meters Walking Test, yaitu berjalan sejauh empat meter dengan kecepatan biasa. Kedua metode ini umumnya menjadi pilihan karena mudah dilakukan, tidak membutuhkan alat rumit, serta meminimalkan risiko cedera atau kelelahan.

Menariknya, penelitian terkait topik ini masih belum banyak dilakukan di Indonesia. Bahkan, ada penelitian sebelumnya yang tidak menemukan hubungan yang bermakna antara fleksibilitas hamstring dan kecepatan berjalan (Henriques et al., 2021). Meski demikian, secara teori dan biomekanik, keterkaitan antara keduanya tetap penting untuk dikaji lebih lanjut, terutama dalam konteks pencegahan risiko jatuh pada lansia.

Implikasi bagi Kesehatan Lansia

Pada akhirnya, hal ini diharapkan dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam praktik di lapangan. Misalnya, sebagai dasar untuk skrining sederhana di Posyandu Lansia. Lebih dari itu, informasi ini juga bisa meningkatkan kesadaran bahwa menjaga fleksibilitas tubuh merupakan bagian penting untuk mempertahankan mobilitas, sehingga lansia dapat tetap aktif, mandiri, dan terhindar dari cedera.

[BACA JUGA: Riset 6G dan Peluang Indonesia dalam Transformasi Digital]

Penulis: Sabitha Valentina Azzzahra

Pembimbing: Rwahita Satyawati, Lantjar Januwidodo

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)