VOKASI NEWS – Tidak semua obat digunakan dengan cara diminum. Beberapa obat memerlukan teknik penggunaan khusus, seperti inhaler untuk gangguan pernapasan, patch transdermal yang ditempel pada kulit, hingga implan yang dipasang oleh tenaga kesehatan. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami cara penggunaan sediaan obat tersebut dengan benar.
Kondisi tersebut ditemukan dalam kegiatan edukasi kesehatan yang dilaksanakan pada 24 April 2026 di Dusun Bulu Gondang, Desa Bulu Margi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Kegiatan ini menyasar 25 peserta lansia dan bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai penggunaan obat khusus yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Pentingnya Memahami Penggunaan Obat Khusus
Menurut World Health Organization (WHO), penggunaan obat yang tidak tepat masih menjadi salah satu penyebab utama masalah keselamatan pasien di berbagai negara. Oleh karena itu, edukasi mengenai penggunaan obat yang benar menjadi langkah penting untuk meningkatkan keamanan terapi dan kualitas hidup masyarakat (WHO, 2017).
Selain itu, pemahaman yang baik dapat membantu masyarakat menghindari kesalahan penggunaan obat. Dengan demikian, manfaat pengobatan dapat diperoleh secara optimal.
Edukasi Penggunaan Obat Khusus bagi Lansia
Salah satu materi yang banyak menarik perhatian peserta adalah penggunaan inhaler. Selama ini, sebagian peserta hanya mengetahui fungsi obat tanpa memahami teknik penggunaannya. Padahal, penggunaan inhaler yang kurang tepat dapat mengurangi jumlah obat yang masuk ke saluran pernapasan.
Akibatnya, efektivitas terapi menjadi berkurang. Oleh sebab itu, peserta memperoleh penjelasan mengenai langkah-langkah penggunaan inhaler yang benar agar obat dapat bekerja secara maksimal.
Selain inhaler, peserta juga mendapatkan informasi mengenai patch transdermal atau obat tempel. Selama ini, sebagian masyarakat menganggap patch transdermal sama dengan koyo biasa. Padahal, sediaan tersebut memiliki mekanisme kerja khusus melalui penyerapan obat lewat kulit.
Karena itu, penggunaan patch transdermal harus dilakukan sesuai petunjuk agar manfaat terapi dapat dirasakan secara optimal.
Pengetahuan Peserta Meningkat Setelah Edukasi
Untuk mengetahui efektivitas kegiatan, peserta mengikuti pre-test sebelum edukasi dan post-test setelah kegiatan selesai. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor pengetahuan peserta sebelum edukasi sebesar 53,04 persen.
Setelah memperoleh materi dan mengikuti sesi diskusi, rata-rata skor meningkat menjadi 90,76 persen. Dengan demikian, terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 37,72 persen.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan masih menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai penggunaan obat khusus yang aman dan rasional.
Selain memperoleh pengetahuan baru, peserta juga memiliki kesempatan untuk bertanya secara langsung mengenai penggunaan obat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Antusiasme Peserta Selama Kegiatan
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari cara menggunakan inhaler yang benar hingga keamanan penggunaan implan dalam jangka panjang.
Selain itu, sesi diskusi yang interaktif membuat suasana edukasi menjadi lebih hidup dan mudah dipahami. Peserta juga terlihat aktif berbagi pengalaman terkait penggunaan obat di lingkungan keluarga.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa keberhasilan pengobatan tidak hanya ditentukan oleh jenis obat yang digunakan. Namun, cara penggunaan yang benar juga memiliki peran yang sangat penting.
Dengan pengetahuan yang lebih baik, risiko kesalahan penggunaan obat dapat diminimalkan sehingga manfaat terapi dapat diperoleh secara maksimal.
Sumber:
World Health Organization. Medication Without Harm: Global Patient Safety Challenge. 2017.
[BACA JUGA : Evaluasi Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Bahan Alam dan Pentingnya Intervensi Edukasi]
Penulis: Armanda Wildan Yanuarta
Pembimbing: Hafna Ilmy Muhalla
Editor : Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



