VOKASI NEWS – Menjaga kesehatan keluarga memerlukan perhatian dalam setiap pengambilan keputusan kesehatan, termasuk penggunaan obat. Banyak ibu-ibu posyandu menggunakan obat untuk membantu menjaga kondisi kesehatan anggota keluarga. Namun demikian, tidak semua obat aman digunakan tanpa pertimbangan yang tepat. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), keputusan untuk memulai atau menghentikan penggunaan obat sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan agar manfaat dan risikonya dapat dipertimbangkan secara cermat.
Selain itu, risiko penggunaan obat dapat berbeda-beda bergantung pada jenis obat, dosis, dan kondisi kesehatan pengguna. Food and Drug Administration (FDA) menjelaskan bahwa informasi pada label obat resep disusun untuk membantu tenaga kesehatan menilai manfaat dan risiko penggunaan obat. Sementara itu, World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya pemantauan keamanan obat, terutama pada kelompok rentan seperti ibu-ibu dan anak-anak.
Kesadaran mengenai penggolongan obat dan dampaknya terhadap sistem tubuh menjadi kebutuhan penting di masyarakat. Informasi yang tepat membantu masyarakat memahami bahwa obat bukan sekadar produk yang digunakan saat keluhan muncul. Sebaliknya, penggunaan obat perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. Oleh karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan sebelum menggunakan obat tertentu.
Edukasi Penggolongan Obat bagi Masyarakat
Berdasarkan kebutuhan tersebut, Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menyelenggarakan edukasi kesehatan di Balai Desa Randu Agung pada 9 Mei 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman ibu-ibu posyandu mengenai penggolongan obat berdasarkan dampaknya terhadap sistem tubuh. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong perilaku yang lebih bijak dalam membaca informasi obat sebelum digunakan.
Untuk mempermudah pemahaman peserta, penyampaian materi didukung menggunakan banner obat dan leaflet. Melalui media tersebut, peserta dapat mengenali contoh obat, manfaat penggunaan, serta potensi risiko yang mungkin terjadi. Materi juga disampaikan secara sederhana, mulai dari cara membaca aturan pakai hingga mengenali efek samping dan tanda bahaya yang memerlukan konsultasi medis.
Dalam sesi edukasi, narasumber menyampaikan bahwa “Obat perlu dipilih berdasarkan manfaat, risiko, dosis, dan kondisi tubuh agar keselamatan ibu dan keluarga tetap terjaga.”
Pernyataan tersebut sejalan dengan FDA yang menegaskan pentingnya memahami informasi penggunaan obat melalui label dan konsultasi profesional. Selain itu, penilaian manfaat dan risiko juga perlu dilakukan secara cermat. Informasi yang diperoleh dari internet belum tentu dapat menggantikan pertimbangan klinis dari tenaga kesehatan.
Penyuluhan Interaktif Tingkatkan Pemahaman Peserta
Agar suasana lebih menarik, kegiatan edukasi dikemas secara interaktif melalui kuis berhadiah. Peserta yang mampu menjawab pertanyaan mengenai penggolongan obat, keamanan penggunaan obat, dan langkah konsultasi yang tepat memperoleh apresiasi langsung. Dengan demikian, peserta dapat lebih fokus sekaligus mengingat materi yang telah disampaikan.
Setelah sesi kuis selesai, peserta mengisi lembar kuesioner tingkat pemahaman. Kuesioner tersebut digunakan untuk mengetahui sejauh mana materi dapat dipahami oleh peserta. Selain itu, hasil kuesioner juga membantu mengidentifikasi materi yang masih memerlukan penjelasan tambahan. Oleh karena itu, evaluasi kegiatan dapat dilakukan secara lebih objektif.
Edukasi Dorong Penggunaan Obat yang Lebih Bijak
Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama antara peserta, pemateri, dan pelaksana kegiatan. Momen tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus penanda bahwa edukasi kesehatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu membangun kesadaran baru mengenai penggunaan obat yang aman dan tepat.
WHO juga menegaskan bahwa pengawasan keamanan obat pada kelompok rentan tetap penting dilakukan. Hal tersebut karena beberapa efek obat dapat muncul setelah digunakan secara luas di masyarakat.
Melalui edukasi kesehatan di Balai Desa Randu Agung, pemahaman mengenai penggolongan obat dan dampaknya diharapkan semakin meningkat. Pada akhirnya, edukasi sederhana yang dilakukan secara langsung mampu membuka ruang diskusi, memperbaiki pemahaman, dan mendorong masyarakat menggunakan obat secara lebih bijak demi menjaga kesehatan keluarga.
Penulis: Kelompok 3–2A
- Shafiyyah Nitisara (005251010)
- Naysilla Chika Maulida Hadi (005251009)
- Siti Haliza Putri (005251007)
- Dhiva Stavelani (005251006)
- Halwa Kamilia Febriyanti (005251022)
- Jelita Novita Sari (005251030)
- Yessy Octavera Wilson (005251031)
- Muhammad Ade Nadhifun Nafis (005251016)
Pembimbing: Susilo Harianto
Editor : Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



