Belajar Bersama Warga Desa Domas, Mahasiswa D3 Keperawatan UNAIR Ajak Masyarakat Lebih Bijak Terkait Penggolongan Obat

VOKASI NEWS – “Obat ini diminum sebelum atau sesudah makan, ya?.” Pertanyaan sederhana itu membuka diskusi dengan ibu-ibu di Desa Domas, Menganti, Gresik. Dari satu pertanyaan tersebut, obrolan terus berkembang. Ada warga bercerita sering membeli obat karena rekomendasi tetangga. Ada pula yang menganggap antibiotik bisa diminum untuk semua jenis penyakit. Bahkan, ada yang baru tahu bahwa obat batuk kering dan berdahak itu berbeda. Momen ini menyadarkan bahwa banyak informasi kesehatan belum dipahami masyarakat. Informasi tersebut perlu disampaikan dengan cara yang lebih mudah.

Keresahan dan Tantangan Edukasi

Melalui Project Based Learning (PjBL), mahasiswa D3 Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga mengadakan edukasi di Desa Domas. Kegiatan edukasi ini mengenai penggolongan obat berdasarkan indikasi klinis bagi ibu-ibu rumah tangga. Acara ini lahir dari keresahan yang sederhana. Hampir setiap keluarga pasti menyimpan obat di rumah mereka. Namun, belum tentu semua orang memahami fungsi dan cara penggunaan obat tersebut. Warga juga belum tentu tahu kapan obat sebaiknya digunakan.

Persiapan kegiatan memakan waktu cukup panjang. Mahasiswa menyusun materi, membuat leaflet, merancang papan edukasi, hingga menyiapkan pre-test dan post-test sebagai bahan evaluasi. Tantangan terbesar justru bukan menyusun isi materi, melainkan mencari cara agar istilah-istilah medis bisa dipahami oleh masyarakat. Penyuluhan ini dirancang agar terasa seperti ngobrol santai, bukan seperti perkuliahan.

Hari pelaksanaan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Sejak awal kegiatan, peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi. Suasana semakin hidup ketika memasuki sesi diskusi. Banyak pengalaman pribadi yang diceritakan oleh warga, mulai dari kebiasaan menyimpan sisa antibiotik untuk digunakan kembali hingga memilih obat hanya berdasarkan warna atau merek yang sudah dikenal.

Ruang Belajar dan Evaluasi Bersama

Cerita-cerita tersebut menjadi pelajaran berharga. Memberikan edukasi kesehatan terbukti tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi. Tenaga kesehatan juga harus menjadi pendengar yang baik agar bisa memahami kebiasaan masyarakat sebelum memberikan solusi yang tepat.

Hasil evaluasi setelah kegiatan berlangsung memberikan semangat baru. Dibandingkan sebelum penyuluhan, pemahaman peserta meningkat cukup signifikan. Semakin banyak peserta yang mampu mengenali berbagai golongan obat dan memahami pentingnya menggunakan obat sesuai indikasi. Angka-angka itu memang menggembirakan, tetapi ada hal yang dinilai lebih bermakna.

Dampak Positif bagi Masyarakat dan Mahasiswa

Peserta terlihat mulai berani bertanya, saling berdiskusi, bahkan mencoba menjawab pertanyaan yang diberikan. Suasana yang awalnya canggung perlahan berubah menjadi ruang belajar bersama, dan di situlah tujuan kegiatan mulai tercapai. Kegiatan ini juga mengubah cara pandang mahasiswa D3 Keperawatan. Selama ini, peran tenaga kesehatan terkesan lebih banyak dilakukan ketika seseorang sudah datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Nyatanya, mencegah kesalahan penggunaan obat melalui edukasi ternyata sama pentingnya. Memberikan informasi yang benar bisa menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan keluarga. Pengalaman di Desa Domas menjadi pengingat bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah akan terasa lebih bermakna ketika bisa dibagikan kepada masyarakat. Dari kegiatan ini, mahasiswa bukan hanya belajar menyampaikan edukasi kesehatan, tetapi juga belajar membangun komunikasi, bekerja sama dalam tim, serta memahami kondisi masyarakat secara langsung.

Semoga langkah kecil yang dilakukan dapat menjadi awal bagi meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan obat secara lebih tepat, aman, dan rasional. Karena pada akhirnya, perubahan besar sering kali dimulai dari satu percakapan sederhana, satu pertanyaan, dan satu kesediaan untuk terus belajar bersama.

[BACA JUGA: Kenali Obat, Lindungi Keluarga]

Penulis: Reynaldi Octavian Susanto

Editor: Nawal Eka Paramita (Tim Vokasi Branding)