Satu Pekarangan Tiga Pengetahuan: Edukasi TOGA, Jamu, OHT, dan Fitofarmaka di Gresik

VOKASI NEWS – Kekayaan hayati Indonesia yang melimpah mendukung pemanfaatan tanaman obat tradisional sebagai bagian dari budaya kesehatan masyarakat secara turun-temurun. Namun, sekitar 50% masyarakat belum memahami klasifikasi Obat Bahan Alam (OBA) secara komprehensif. Pemahaman tersebut meliputi pengertian hingga aspek keamanannya. Oleh karena itu, mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menggelar penyuluhan kesehatan. Kegiatan tersebut bertujuan menjembatani kesenjangan informasi mengenai OBA.

Kegiatan edukasi dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, di rumah Ibu Winingsih, Perumahan Graha Bunder Asri (GBA), Kembangan, Kebomas, Gresik. Sasaran utama program pengabdian masyarakat ini adalah ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Pemilihan sasaran tersebut dinilai strategis. Pasalnya, ibu berperan sebagai pengurus utama sekaligus pengambil keputusan kesehatan dalam keluarga.

Mengenal Klasifikasi Obat Bahan Alam

Materi edukasi mengacu pada klasifikasi resmi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). BPOM membagi OBA menjadi tiga kelompok. Pertama, Jamu merupakan obat tradisional yang khasiat dan keamanannya dibuktikan berdasarkan pengalaman empiris secara turun-temurun. Selanjutnya, Obat Herbal Terstandar (OHT) telah melalui uji praklinis pada hewan laboratorium. Selain itu, bahan bakunya juga telah distandarisasi. Adapun kelompok ketiga adalah Fitofarmaka. Produk ini telah melewati uji praklinis dan uji klinis pada manusia. Oleh sebab itu, khasiatnya sejajar dengan obat modern.

“Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan mampu memahami dosis, waktu penggunaan, cara penggunaan, serta penyimpanan obat yang tepat sesuai anjuran tenaga kesehatan,” ujar Susilo Harianto selaku dosen pengampu mata kuliah Farmakologi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga. Selain penyampaian materi, kegiatan juga didukung media visual berupa poster dan papan penggolongan obat. Media tersebut membantu peserta mengenali simbol pada setiap kelompok obat herbal.

Peningkatan Pemahaman Melalui Edukasi

Sebelum pemaparan materi dimulai, tingkat pengetahuan peserta diukur menggunakan lembar pre-test. Hasil analisis awal menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman peserta terhadap kategori produk tradisional. Pengetahuan responden mengenai Jamu berada pada kategori baik sebesar 55,56%. Sementara itu, pemahaman mengenai OHT mencapai 44,44%. Sebaliknya, tingkat pengenalan terhadap Fitofarmaka masih tergolong rendah. Sebanyak 50,00% responden berada pada kategori kurang.

Kondisi tersebut kemudian diatasi melalui pendekatan Teknologi Tepat Guna (TTG). Pendekatan ini memanfaatkan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di sekitar pekarangan rumah sebagai contoh nyata. Setelah penyampaian materi dan diskusi interaktif selesai, peserta kembali mengerjakan lembar post-test. Hasil evaluasi akhir menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Selain itu, seluruh ibu-ibu PKK memberikan respons positif terhadap penggunaan obat yang aman, tepat, dan rasional.

[BACA JUGA: Jangan Salah Memilih Obat: Mahasiswa Keperawatan Edukasi Penggolongan Obat kepada Masyarakat]

Nama Penulis : Syafa Rahmalia Utami

Nama Pembimbing : Susilo Harianto S.Kep., Ns., M.Kep

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)