Layar vs Lapangan: Ancaman Gizi Tersembunyi pada Anak Sekolah Dasar di Era Digital

VOKASI NEWS – Mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi UNAIR, Masruroh Nur Wakhdah, melakukan penelitian mengenai hubungan antara screen time, aktivitas fisik, dan status gizi anak usia SD. Penelitian ini melibatkan 135 siswa SDN Bangunrejo 2 Tuban sebagai responden. Hasilnya mengungkap adanya kecenderungan double burden of malnutrition akibat tingginya durasi penggunaan gadget dan rendahnya aktivitas fisik anak.

Fenomena Gadget dan Gizi Anak di Era Digital

Di era digital yang terus berkembang pesat, gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak usia sekolah dasar. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi kelebihan berat badan sebesar 11,9% dan obesitas 7,8% pada anak usia 5–18 tahun di Indonesia. Angka ini bahkan lebih tinggi di Jawa Timur, yaitu 13,8% untuk kelebihan berat badan dan 9,7% untuk obesitas. Selain itu, fenomena ini tidak lagi hanya terjadi di kota besar. Kondisi serupa juga telah merambah wilayah pedesaan seiring semakin luasnya akses internet dan kepemilikan smartphone.

Metode Penelitian di SDN Bangunrejo 2 Tuban

Penelitian ini melibatkan 135 siswa sebagai responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dari total 203 siswa. Untuk mengukur screen time, peneliti menggunakan Digital Screen Time Exposure Questionnaire (DSEQ). Sementara itu, tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C). Status gizi kemudian dinilai berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) dengan standar Z-score WHO. Analisis data selanjutnya dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel yang berskala ordinal.

Screen Time Tinggi, Aktivitas Fisik Rendah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65,9% responden memiliki durasi screen time lebih dari 120 menit per hari. Konten terpopuler yang diakses berupa video pendek seperti TikTok dan Reels, dengan tingkat akses mencapai 97% responden. Di sisi aktivitas fisik, 63,7% responden berada pada kategori sedang. Hanya 11,1% responden yang masuk kategori tinggi.

Double Burden of Malnutrition pada Anak SD

Dari sisi status gizi, 60% responden berada dalam kategori normal. Namun, 24,4% mengalami gizi kurang dan 15,5% mengalami gizi lebih atau obesitas. Kondisi ini mencerminkan fenomena double burden of malnutrition. Double Burden of Malnutrition merupakan masalah gizi kurang dan gizi lebih yang hadir secara bersamaan dalam satu komunitas sekolah.

Penelitian ini juga menemukan hubungan yang bermakna antara screen time, aktivitas fisik, dan status gizi anak. Durasi screen time yang lebih panjang berhubungan dengan kecenderungan gizi lebih. Begitu pula dengan frekuensi penggunaan layar yang lebih sering. Di sisi lain, anak yang kurang aktif bergerak cenderung memiliki status gizi lebih buruk.

Fakta menarik pun ditemukan dalam penelitian ini. Anak yang menggunakan layar kurang dari 120 menit per hari tidak ada yang mengalami gizi lebih. Sebaliknya, hampir setengah anak dengan aktivitas fisik rendah, yaitu 47,1%, justru mengalami gizi lebih atau obesitas.

Peran Orang Tua yang Masih Minim

Rendahnya pendampingan orang tua turut menjadi faktor yang memperparah kondisi ini. Sebanyak 37,04% orang tua mengaku tidak pernah mendampingi anak saat menggunakan gadget. Sementara itu, 53,33% orang tua lainnya mengaku hanya sesekali mendampingi. “Anak-anak sekarang lebih asyik pegang HP daripada main di luar, susah kalau sudah pegang HP,” ungkap salah satu orang tua siswa saat diwawancarai.

Selain itu, kondisi ini diperparah dengan fitur autoplay pada platform video pendek. Fitur ini membuat anak menonton tanpa batas waktu tanpa disadari orang tua.

Implikasi bagi Dunia Keperawatan dan Rekomendasi

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia keperawatan, khususnya perawat anak di puskesmas dan sekolah. Pengkajian keperawatan anak idealnya tidak hanya berfokus pada pengukuran berat dan tinggi badan. Oleh karena itu, pengkajian perlu diperluas dengan asesmen screen time dan tingkat aktivitas fisik sebagai bagian dari deteksi dini risiko obesitas.

Di sisi lain, sekolah diharapkan memperkuat program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kebijakan pembatasan gadget dan penambahan kegiatan olahraga terstruktur juga perlu diterapkan. Sementara itu, orang tua disarankan membatasi screen time anak maksimal 120 menit per hari sesuai rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) 2025. Orang tua juga disarankan menonaktifkan fitur autoplay dan mendorong anak melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari.

Dengan demikian, keseimbangan antara waktu layar dan aktivitas fisik menjadi kunci penting dalam menjaga status gizi anak usia sekolah dasar di tengah derasnya arus digitalisasi. Sinergi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan orang tua diharapkan mampu mencegah dampak jangka panjang dari fenomena ini terhadap tumbuh kembang anak.

[BACA JUGA: Posisi Bending Sulit Dipertahankan, Alat Fiksasi Ini Bantu Pemeriksaan Skoliosis Lebih Stabil]

Penulis: Masruroh Nur Wakhdah

Pembimbing: Anestasia Pangestu Mei Tyas, Amellia Mardhika

Editor: Nadya (Tim Branding Vokasi)