VOKASI NEWS – Keselamatan kebakaran menjadi salah satu tantangan utama di industri minyak dan gas bumi. Seluruh proses produksi melibatkan bahan yang mudah terbakar. Selain itu, kebocoran hidrokarbon, tekanan operasi yang tinggi, dan keberadaan sumber penyalaan dapat berkembang menjadi kebakaran besar apabila pengendalian risiko tidak dilakukan secara optimal. Oleh karena itu, sistem proteksi kebakaran aktif berperan sebagai lapisan pertahanan pertama untuk mengurangi dampak keadaan darurat.
Salah satu komponen penting dalam sistem tersebut adalah Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Peralatan ini berfungsi sebagai sarana pemadaman awal sebelum api berkembang di luar kendali. Namun, efektivitas APAR tidak hanya ditentukan oleh keberadaannya di lokasi kerja. Kesesuaian jenis, jumlah, dan penempatannya juga harus disesuaikan dengan karakteristik bahaya di setiap area kerja.
Kesesuaian APAR Menentukan Efektivitas Pemadaman
Hasil evaluasi di Central Processing Area PT X menunjukkan bahwa area gas compressor telah menggunakan APAR karbon dioksida. Jenis APAR tersebut sesuai dengan potensi kebakaran akibat gas bertekanan tinggi. Sebaliknya, area unloading crude oil masih menggunakan media pemadam yang kurang optimal untuk menangani kebakaran bahan bakar cair. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan media pemadam harus didasarkan pada klasifikasi bahaya. Dengan demikian, penyediaan APAR tidak hanya bergantung pada ketersediaan peralatan.
Selain jenis APAR, jumlah peralatan juga menjadi faktor penting dalam kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat. Berdasarkan Permenaker Nomor 04 Tahun 1980, area gas compressor memerlukan 13 unit APAR. Sementara itu, area unloading crude oil membutuhkan 18 unit APAR. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa masing-masing area hanya dilengkapi dua unit APAR. Akibatnya, kebutuhan perlindungan berdasarkan luas area dan jarak jangkauan belum terpenuhi. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat respons pada fase awal kebakaran.
Pemeliharaan APAR Tidak Boleh Diabaikan
Evaluasi juga menunjukkan bahwa sebagian besar komponen pemasangan APAR telah memenuhi persyaratan. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian. Misalnya, beberapa titik belum dilengkapi rambu pemasangan APAR. Selain itu, beberapa tabung juga mengalami korosi. Kondisi tersebut dapat mengurangi kecepatan akses dan keandalan APAR saat digunakan dalam keadaan darurat.
Oleh karena itu, pemeliharaan APAR tidak hanya berfokus pada inspeksi rutin. Kelayakan fisik peralatan serta kemudahan identifikasi juga perlu menjadi perhatian. Pada akhirnya, kualitas sistem proteksi kebakaran ditentukan oleh kesiapan setiap komponen untuk berfungsi secara optimal ketika dibutuhkan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penguatan sistem proteksi kebakaran memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Langkah tersebut meliputi pemilihan media pemadam yang sesuai, penyediaan jumlah APAR yang memadai, serta penempatan sesuai standar keselamatan. Selain itu, penambahan APAR, pemasangan rambu, penggantian tabung yang mengalami korosi, dan penataan ulang lokasi APAR menjadi rekomendasi penting untuk meningkatkan efektivitas pengendalian kebakaran. Dengan demikian, penerapan rekomendasi tersebut tidak hanya mendukung kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga memperkuat budaya keselamatan kerja di industri minyak dan gas. Lebih dari itu, upaya pencegahan kebakaran merupakan bentuk perlindungan terhadap pekerja, aset perusahaan, dan keberlanjutan operasional.
[BACA JUGA: Learning About the Blood Circulatory System Through a Simple Blood Flow Simulation]
Penulis: Safina Adelia Ayu Syahrani
Pembimbing: Neffrety Nilamsari
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding



