VOKASI NEWS – Obesitas masih menjadi tantangan kesehatan besar di Indonesia maupun dunia. World Health Organization mencatat sekitar empat juta orang yang meninggal setiap tahunnya akibat dari kelebihan badan dan obesitas. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia turut menunjukkan bahwa hampir 30 persen orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Angka kejadian obesitas pada perempuan cenderung lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Kondisi tersebut mendorong pencarian alternatif terapi, salah satunya melalui pemanfaatan tanaman herbal seperti Daun Jati Belanda.
Daun Jati Belanda atau Guazuma ulmifolia Lamk. Dikenal secara turun-temurun sebagai bahan ramuan pelangsing tubuh. Tanaman mengandung tanin, flavonoid, musilago, dan sejumlah senyawa aktif lain yang dipercaya mampu menghambat penyerapan lemak dalam usus. Dalam perspektif Traditional Chinese Medicine, daun jati belanda ini bersifat dingin dan memiliki rasa pahit sehingga dianggap membantu mengeliminasi lembab serta menurunkan berat badan.
Potensi tersebut menjadi dasar kajian literatur berjudul Efektivitas Herbal Daun Jati Belanda Guazuma ulmifolia Lamk. terhadap Obesitas. Kajian tersebut disusun oleh Spandhyas Ayu Fitriana, mahasiswa Program Studi D-IV Pengobat Tradisional, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga. Kajian tersebut menelaah tujuh jurnal ilmiah yang terbit pada rentang 2015 hingga 2026 melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect.
Rentang Dosis dan Bentuk Sediaan
Hasil telaah menunjukkan bahwa rentang dosis 50 hingga 250 miligram per kilogram berat badan pada tikus percobaan cenderung memberikan efek antiobesitas paling konsisten. Efek tersebut lebih optimal dibandingkan pemberian dosis yang sangat rendah maupun sangat tinggi. Apabila dikonversi menggunakan metode normalisasi luas permukaan tubuh, rentang tersebut setara dengan sekitar 0,57 hingga 2,8 gram ekstrak per hari bagi orang dewasa dengan berat badan 70 kilogram (Fahmi dan Muhtadi, 2022).
Bentuk sediaan yang digunakan pada penelitian-penelitian tersebut berupa ekstrak etanol daun melalui metode maserasi, serta ekstrak air atau dekoksi kulit batang dan buah yang merefleksikan penggunaan tradisional sebagai teh (Rodrigues dkk., 2025). Seluruh sediaan diberikan secara oral, meski frekuensi dan durasi pemberian bervariasi antarpenelitian.
Aman pada Hewan Uji, Namun Perlu Uji Klinis
Ketujuh jurnal yang ditelaah tidak melaporkan efek samping serius maupun gejala toksisitas akut pada hewan uji selama masa penelitian berlangsung. Meski begitu, evaluasi keamanan secara menyeluruh seperti pemeriksaan histopatologi organ serta biomarker fungsi hati dan ginjal belum menjadi fokus utama pada mayoritas studi tersebut.
“Dari tujuh jurnal yang ditelaah, dosis daun Jati Belanda yang digunakan bervariasi luas, mulai dari 25 hingga 1000 miligram per kilogram berat badan pada model hewan uji,” ujar Spandhyas Ayu Fitriana. “Hingga saat ini, belum ada standar dosis tunggal untuk manusia.”
Hal senada disampaikan Dwi Setiani Sumardiko, dosen pembimbing kajian tersebut. “Bukti awal ini menunjukkan potensi daun Jati Belanda sebagai terapi herbal pendukung obesitas,” katanya. “Namun, uji klinis dengan desain yang lebih kuat pada manusia tetap diperlukan sebelum dapat direkomendasikan secara luas bagi masyarakat.”
Kajian ini diharapkan menjadi rujukan awal bagi pengembangan riset lanjutan mengenai standardisasi dosis, bentuk sediaan, serta keamanan jangka panjang daun Jati Belanda. Penelitian tersebut mendukung pemanfaatannya sebagai alternatif terapi obesitas berbasis bahan alam.
[BACA JUGA: Dari Surat Imbauan ke Surat Tagihan Pajak (STP): Alur Penyelesaian Sengketa Pajak]
Penulis: Spandhyas Ayu Fitriana
Pembimbing: Dwi Setiani Sumardiko dan Myrna Adianti
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



