Free Breathing sebagai Alternatif Peningkatan Kualitas Citra pada Pemeriksaan CCTA

VOKASI NEWS – Mahasiswa Program Studi D-IV Teknologi Radiologi Pencitraan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Maulida Maya Dwi Rahmawati, mengkaji protokol alternatif untuk pemeriksaan Coronary CT Angiography (CCTA). Coronary Artery Disease (CAD) tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi akibat penyakit tidak menular di dunia. Angka kematian akibat CAD mencapai 7,4 juta jiwa menurut data World Health Organization (WHO, dikutip dalam Naomi et al., 2021). Prevalensi CAD di Indonesia bahkan menyentuh angka 2.650.340 orang.

CCTA menjadi metode non-invasif paling akurat untuk mendeteksi kelainan arteri koroner. Metode ini sekaligus menjadi gold standard diagnosis kelainan arteri koroner (Gentile et al., 2021). Namun, protokol standar CCTA mengharuskan pasien menahan napas atau breath holding selama pemeriksaan berlangsung. Kondisi ini kerap menyulitkan penderita gangguan pernapasan seperti PPOK.

Kondisi tersebut mendorong dilakukannya kajian terhadap protokol alternatif berupa free breathing atau bernapas bebas. Studi dilakukan menggunakan modalitas CT-Scan 64-slice terhadap 25 data citra CCTA pasien. Seluruh pasien memiliki denyut jantung terkontrol pada rentang 60-70 bpm sepanjang Juli hingga Desember 2025. Menariknya, CT-Scan 64-slice bukan modalitas dengan jumlah slice paling tinggi dibandingkan tipe lain yang tersedia saat ini. Meski demikian, kualitas citra yang dihasilkan tetap mampu memvisualisasikan arteri koroner secara detail. Resolusi temporal dan spasial yang dihasilkan pun tergolong memadai untuk kebutuhan diagnosis. Sebanyak 10 data berasal dari kelompok free breathing, sedangkan 15 data lainnya berasal dari kelompok breath holding.

Perbandingan Nilai SNR, CNR, dan Noise

Kualitas citra pada kedua kelompok dinilai melalui tiga parameter objektif. Parameter tersebut meliputi Signal-to-Noise Ratio (SNR), Contrast-to-Noise Ratio (CNR), dan Noise. Pengukuran dilakukan pada empat titik arteri, yaitu aorta asendens, right coronary artery, left anterior descending, dan left circumflexa. Hasil pengukuran menunjukkan nilai rata-rata SNR dan CNR kelompok free breathing cenderung lebih tinggi dibandingkan breath holding. Perbedaan ini tampak pada hampir seluruh segmen arteri yang diukur. Namun demikian, nilai noise pada kelompok free breathing juga tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok breath holding.

Perbedaan angka tersebut selanjutnya diuji secara statistik menggunakan Independent Samples T-Test untuk data berdistribusi normal. Data yang tidak berdistribusi normal diuji menggunakan Mann-Whitney, didahului uji normalitas Shapiro-Wilk. Hasil pengujian menunjukkan seluruh parameter SNR, CNR, dan Noise pada semua titik pengukuran memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05. Nilai tersebut berarti tidak ditemukan perbedaan bermakna secara statistik antara kedua kelompok.

Free Breathing Terbukti Setara secara Statistik

Nilai signifikansi tersebut menandakan kualitas citra protokol free breathing dan breath holding tergolong setara. Kesetaraan ini berlaku pada seluruh segmen arteri koroner yang diuji, meskipun pola pernapasan kedua kelompok berbeda. Denyut jantung yang terkontrol pada rentang 60-70 bpm turut memengaruhi hasil tersebut. Gerakan jantung dilaporkan menjadi sumber artefak paling umum pada pemeriksaan CCTA, melebihi gerakan pernapasan itu sendiri (Lossau et al., 2019).

Kondisi denyut jantung yang stabil memungkinkan citra tetap tervisualisasi optimal. Hal ini berlaku meskipun pasien tidak menahan napas secara penuh selama akuisisi data. Temuan tersebut membuka peluang bagi protokol free breathing untuk diterapkan lebih luas. Protokol ini berpotensi membantu pasien yang kesulitan menahan napas selama pemeriksaan jantung, termasuk penderita PPOK, gangguan pendengaran, maupun pasien yang mudah gelisah. Penerapan protokol ini diharapkan dapat memperluas akses pemeriksaan CCTA. Perluasan akses ini tetap menjaga akurasi diagnosis kelainan arteri koroner pada pasien dengan denyut jantung normal.

[BACA JUGA: Optimalkan Citra CT Scan Pasca-Operasi, Kombinasi O-MAR dan iDose Jadi Solusi Reduksi Artefak Logam]

Penulis: Maulida Maya Dwi Rahmawati

Pembimbing: Alifatus Wahyu Nur Ma’rifah, Ayub Manggala Putra

Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)