VOKASI NEWS – Desa Tiwet, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, kembali menjadi sorotan setelah sebuah penelitian mengungkap tingkat resiliensi warga pasca bencana banjir berulang. Penelitian ini dilakukan pada 6 hingga 11 Mei 2026. Lokasinya berada di kawasan permukiman warga pada dataran rendah dekat aliran Sungai Bengawan Solo.
Banjir di wilayah tersebut dapat terjadi dua hingga tiga kali dalam setahun. Genangan air bahkan mampu bertahan hingga hampir satu bulan sebelum benar-benar surut. Kondisi geografis tersebut mendorong perlunya kajian mengenai kemampuan warga untuk bertahan dan bangkit kembali setelah menghadapi bencana.
Salah satu perangkat desa yang diwawancarai pada April 2026 menjelaskan bahwa banjir bukan lagi kejadian luar biasa. Bencana tersebut telah menjadi siklus tahunan yang harus dihadapi warga. “Ketika hujan ekstrem terjadi, debit air sungai meningkat dan meluap hingga masuk ke permukiman warga,” jelas perangkat desa tersebut. Pernyataan ini memperkuat data Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang mencatat banjir sebagai bencana paling dominan di Indonesia sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Metode dan Sasaran Penelitian
Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sebanyak 85 responden dilibatkan dari total populasi 106 warga. Para responden dipilih melalui teknik purposive sampling.
Instrumen yang digunakan adalah Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC-25). Alat ukur tersebut telah diadaptasi ke bahasa Indonesia untuk menilai kompetensi pribadi dan ketangguhan seseorang. Setiap responden mengisi kuesioner secara mandiri dengan pendampingan langsung. Hal tersebut dilakukan agar data yang terkumpul benar-benar mencerminkan kondisi psikologis mereka pasca bencana.
Proses pengambilan data berlangsung sesuai prinsip etik penelitian. Penelitian ini telah memperoleh nomor etik 49.KKEP.5.2026 yang disetujui oleh komite etik Fakultas Vokasi Universitas Airlangga.
Gambaran Hasil Resiliensi Warga
Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa sebanyak 50 responden atau 59 persen berada pada kategori resiliensi sedang. Sementara itu, 34 responden atau 40 persen telah mencapai kategori resiliensi tinggi. Hanya 1 responden atau 1 persen yang termasuk kategori rendah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh warga Desa Tiwet memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik.
Data juga menunjukkan pola berdasarkan jenis kelamin, usia, dan pendidikan terakhir responden. Responden laki-laki tercatat memiliki resiliensi lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sebanyak 56 persen laki-laki berada pada kategori resiliensi tinggi. Kelompok usia 46 hingga 59 tahun juga menunjukkan proporsi resiliensi tinggi paling besar dibandingkan kelompok usia lainnya.
Selain itu, mayoritas responden dengan latar belakang pendidikan perguruan tinggi berada pada kategori resiliensi tinggi. Persentasenya mencapai 77 persen dari total responden dalam kelompok tersebut. Pola tersebut sejalan dengan kajian yang menyebutkan bahwa dukungan sosial dan pengalaman hidup turut membentuk kapasitas resiliensi seseorang dalam jangka panjang.
Rekomendasi bagi Penguatan Kapasitas Warga
Hasil penelitian ini merekomendasikan penguatan program berbasis komunitas dengan memperhatikan perbedaan gender, usia, dan latar belakang pendidikan warga. Dukungan psikososial serta pelatihan kesiapsiagaan bencana juga dinilai penting. Upaya tersebut khususnya diperlukan bagi kelompok perempuan dan warga usia produktif yang masih mengembangkan strategi dalam menghadapi tekanan pasca bencana.
Institusi pendidikan, pemerintah desa, dan lembaga terkait diharapkan dapat menindaklanjuti temuan ini melalui program edukasi berkelanjutan. Dengan demikian, warga Desa Tiwet dapat semakin siap dan tangguh menghadapi banjir yang datang berulang setiap tahun.
[BACA JUGA: Investasi Kesehatan Remaja Melalui Deteksi Dini Hiperglikemia dan Hiperurisemia]
***
Penulis: Khofifah Agustina Rahmawati AS
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



