VOKASI NEWS – Pekerja konstruksi merupakan salah satu kelompok pekerja yang menghadapi tuntutan aktivitas fisik tinggi setiap hari. Aktivitas seperti mengangkat material, memasang kaca, hingga menyelesaikan pekerjaan finishing membutuhkan tenaga, ketelitian, dan konsentrasi yang baik. Apabila kondisi tersebut tidak diimbangi dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang optimal, risiko kelelahan kerja dapat meningkat. Dampaknya tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga keselamatan kerja.
Kondisi tersebut menjadi dasar dilaksanakannya penelitian pada pekerja sipil PT X di Surabaya yang bertugas pada pekerjaan pemasangan kaca. Penelitian melibatkan 32 pekerja untuk menggambarkan beban kerja fisik, kebiasaan merokok, status gizi, dan tingkat kelelahan kerja. Pengukuran dilakukan menggunakan metode Cardiovascular Load (%CVL) untuk beban kerja fisik, Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk status gizi, serta kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) untuk menilai tingkat kelelahan kerja.
Kelelahan Kerja Masih Menjadi Tantangan di Sektor Konstruksi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja memiliki beban kerja fisik pada kategori 30–60 persen berdasarkan pengukuran %CVL. Hasil tersebut menunjukkan perlunya perbaikan meskipun belum bersifat mendesak. Mayoritas responden juga berada pada kelompok usia 43–53 tahun, memiliki masa kerja kurang dari enam tahun, didominasi perokok sedang, serta memiliki status gizi normal berdasarkan hasil pengukuran IMT.
Menariknya, meskipun sebagian besar pekerja memiliki beban kerja fisik kategori sedang, tingkat kelelahan kerja mayoritas responden masih berada pada kategori rendah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kelelahan kerja tidak hanya dipengaruhi oleh beratnya aktivitas fisik. Berbagai faktor lain yang berkaitan dengan karakteristik individu maupun kondisi kerja juga turut berperan.
Hasil Tabulasi Menunjukkan Pola yang Menarik
Selain menggambarkan karakteristik responden, hasil tabulasi juga memperlihatkan beberapa kecenderungan. Pada beban kerja fisik, terlihat adanya peningkatan proporsi kelelahan kerja seiring meningkatnya kategori beban kerja. Meskipun demikian, pola tersebut belum tampak secara konsisten pada setiap kategori.
Kecenderungan serupa juga terlihat pada kelompok usia. Semakin bertambah usia pekerja, proporsi kelelahan kerja sedang hingga tinggi mulai meningkat dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Sebaliknya, masa kerja tidak menunjukkan pola peningkatan yang jelas sehingga tingkat kelelahan tampak bervariasi pada setiap kelompok masa kerja.
Pada karakteristik lainnya, pekerja dengan kebiasaan merokok yang lebih tinggi menunjukkan kecenderungan mengalami peningkatan tingkat kelelahan. Pola yang hampir sama juga terlihat pada status gizi. Proporsi kelelahan sedang hingga tinggi mulai meningkat pada pekerja dengan status gizi berlebih dibandingkan pekerja dengan status gizi normal. Meskipun penelitian ini bersifat deskriptif dan tidak menguji hubungan antarvariabel, hasil tersebut memberikan gambaran mengenai berbagai kecenderungan yang ditemukan selama penelitian.
Penerapan K3 Menjadi Upaya Pencegahan Kelelahan Kerja
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, PT X telah menerapkan berbagai program keselamatan dan kesehatan kerja. Program tersebut meliputi toolbox talk, toolbox meeting, daily check up, safety induction, safety patrol, inspeksi APAR, inspeksi kotak P3K, serta pengukuran lingkungan kerja secara berkala. Berbagai program tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman sekaligus mendukung kesehatan pekerja selama menjalankan aktivitas di proyek.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan dalam meningkatkan upaya pencegahan kelelahan kerja. Pemantauan beban kerja fisik, penerapan pola hidup sehat, pengendalian kebiasaan merokok, serta pemeliharaan status gizi perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan memperhatikan berbagai faktor tersebut, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, aman, dan produktif sehingga risiko kelelahan maupun kecelakaan kerja dapat diminimalkan.
[BACA JUGA: Ketika Restitusi Pajak Berujung Pemeriksaan]
***
Penulis: Denita Nur Pasha Salsabillah
Pembimbing: Indah Lutfiya
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



