VOKASI NEWS – Pernahkah menerima pesan yang dibagikan oleh seseorang, tetapi ternyata tidak sesuai dengan fakta sebenarnya? Atau menemukan unggahan viral yang terbukti berbeda setelah ditelusuri lebih lanjut? Kondisi seperti ini semakin sering terjadi di era digital.
Kemudahan mengakses informasi melalui media sosial memberikan berbagai manfaat. Masyarakat dapat memperoleh berita terbaru sekaligus memperluas wawasan dalam waktu singkat. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar berupa meningkatnya penyebaran hoaks di ruang digital (Kementerian Komunikasi dan Digital, 2024).
Hoaks atau informasi yang tidak benar dapat menyebar dengan cepat, bahkan hanya dalam hitungan detik. Informasi tersebut sering dikemas dengan judul menarik, gambar meyakinkan, atau narasi yang memancing emosi. Oleh karena itu, informasi dengan unsur emosional memiliki peluang lebih besar untuk dibagikan kembali oleh pengguna media sosial (Vosoughi, Roy and Aral, 2018).
Akibatnya, sebagian pengguna media sosial dapat langsung mempercayai informasi tanpa melakukan pemeriksaan fakta terlebih dahulu (ANTARA News, 2024).
Mengapa Hoaks Mudah Menyebar?
Perkembangan teknologi membuat setiap orang dapat menjadi pembuat sekaligus penyebar informasi. Melalui telepon genggam dan akses internet, sebuah unggahan dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat melalui media sosial (Kumar and Shah, 2018).
Namun, kondisi tersebut menjadi tantangan ketika informasi yang beredar belum melalui proses verifikasi. Selain itu, kebiasaan membaca hanya berdasarkan judul berita juga menjadi salah satu penyebab hoaks mudah dipercaya.
Tidak sedikit pengguna yang langsung menarik kesimpulan berdasarkan judul tanpa membaca keseluruhan informasi. Padahal, isi berita terkadang memiliki konteks yang berbeda dengan judul yang ditampilkan.
Selain faktor tersebut, algoritma media sosial juga berpengaruh terhadap penyebaran hoaks. Sistem pada berbagai platform digital cenderung menampilkan konten yang mendapatkan banyak perhatian dan interaksi.
Akibatnya, informasi bersifat sensasional memiliki peluang lebih besar untuk tersebar dibandingkan informasi yang telah melalui proses verifikasi. Di sisi lain, rendahnya literasi digital membuat sebagian masyarakat kesulitan membedakan informasi valid dan informasi menyesatkan.
Berdasarkan penelitian Vosoughi, Roy and Aral (2018), informasi palsu dengan unsur emosional dan daya tarik tertentu dapat menyebar lebih cepat melalui media sosial.
Dampak Hoaks bagi Masyarakat
Hoaks bukan hanya sekadar informasi yang keliru. Lebih dari itu, penyebaran informasi palsu dapat memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Informasi yang tidak benar dapat memicu kepanikan, memperkeruh suasana, serta menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Dalam beberapa kondisi, hoaks juga dapat memicu konflik, merusak reputasi seseorang, dan menurunkan kepercayaan terhadap media maupun lembaga resmi.
Oleh karena itu, penyebaran informasi yang belum terverifikasi perlu menjadi perhatian bersama di ruang digital.
Biasakan Memeriksa Fakta
Mencegah penyebaran hoaks tidak selalu membutuhkan kemampuan teknologi yang rumit. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membaca informasi secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan judul.
Selanjutnya, periksa sumber informasi tersebut. Pastikan informasi berasal dari media atau lembaga yang memiliki kredibilitas. Selain itu, membandingkan informasi dengan sumber terpercaya lainnya dapat membantu memastikan kebenaran suatu berita.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah memperhatikan tanggal publikasi. Sebab, banyak informasi lama yang kembali beredar dan dianggap sebagai peristiwa baru (UNESCO, 2021).
Apabila masih terdapat keraguan terhadap suatu informasi, langkah terbaik adalah tidak langsung membagikannya. Menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab berarti turut menjaga kualitas informasi di ruang digital.
Dengan membiasakan memeriksa fakta sebelum membagikan informasi, masyarakat dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman, sehat, dan saling menghargai. Setiap unggahan memiliki dampak. Oleh sebab itu, setiap informasi yang diteruskan perlu melalui proses berpikir kritis dan pemeriksaan fakta.
Pada akhirnya, kebiasaan menyaring sebelum sharing dapat membantu mengurangi penyebaran hoaks. Selain itu, langkah tersebut juga mendukung terbentuknya budaya digital yang lebih bertanggung jawab (UNESCO, 2021).
[BACA JUGA: Sistem Informasi Akuntansi: Kunci Pengambilan Keputusan yang Cepat dan Akurat di Era Digital]
Penulis: Sadinova Dyah P Novyaningtyas
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



