VOKASI NEWS – Urbanisasi yang terus meningkat mendorong migrasi penduduk ke kota untuk mencari pendidikan, pekerjaan, dan peluang usaha yang lebih luas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur pada tahun 2025 tercatat sebesar 42,09 juta jiwa. Kota Surabaya menjadi wilayah terpadat dengan kepadatan penduduk mencapai 8.727 jiwa per kilometer persegi (BPS Provinsi Jatim, 2026).
Urbanisasi Mendorong Inovasi Fasilitas Hunian Vertikal
Tingginya angka kepadatan tersebut mendorong masyarakat memilih hunian yang strategis dan dekat dengan pusat aktivitas. Pemilihan hunian tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat di wilayah perkotaan. Kebutuhan ini kemudian melahirkan berbagai inovasi di sektor properti, khususnya hunian vertikal berupa apartemen yang semakin diminati masyarakat perkotaan. Apartemen menjadi pilihan hunian vertikal yang menawarkan fasilitas kolam renang, gym/fitness center, keamanan 24 jam, lounge, dan food court bagi penghuni.
Persaingan antar pengelola apartemen untuk memberikan layanan terbaik kepada penghuni mendorong penambahan fasilitas baru yang belum tersedia secara luas. Salah satu fasilitas yang masih tergolong baru dan belum banyak diterapkan di lingkungan apartemen adalah fasilitas car wash. Fasilitas ini mulai diadakan sebagai tanggapan atas permintaan penghuni yang terinspirasi dari apartemen lain yang menyediakan layanan serupa.
Permasalahan Akuntansi dalam Pengadaan Fasilitas Car Wash
Pengadaan car wash memerlukan dana besar yang harus dicatat tepat dalam laporan keuangan agar mencerminkan kondisi keuangan entitas sebenarnya sekarang. Apartemen X mencatat pengeluaran Rp15.425.980 untuk car wash sebagai beban perbaikan dan penggantian, bukan dikapitalisasi sebagai aset tetap dalam laporan keuangan tahun 2025.
Komponen car wash dibeli dalam dua tahap tetapi membentuk satu kesatuan fungsi sehingga dapat dipertimbangkan sebagai satu unit aset tetap. Kesalahan klasifikasi mengakibatkan penyajian beban lebih besar pada periode berjalan dan nilai aset lebih rendah dalam laporan posisi keuangan perusahaan. Laporan keuangan perusahaan harus disusun sesuai PSAK 201 untuk entitas yang berorientasi laba dan ISAK 335 untuk entitas nonlaba.
Maka dari itu, Apartemen X menggunakan ISAK 335 untuk menyusun laporan keuangannya, dengan penggunaan istilah aset neto dan surplus atau defisit periode berjalan. Dengan demikian, ketepatan klasifikasi antara beban periode berjalan dan kapitalisasi pengeluaran sangat mempengaruhi surplus atau defisit, nilai aset, dan beban penyusutan setiap tahun berjalan. Ketepatan klasifikasi tersebut menjadi faktor penting dalam penyajian laporan keuangan yang akurat.
Analisis Perlakuan Akuntansi Berdasarkan PSAK 216
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan akuntansi pengadaan car wash pada Apartemen X dan kesesuaiannya dengan ketentuan PSAK 216. Rumusan masalah meliputi perlakuan akuntansi diterapkan, pemenuhan kriteria pengakuan aset tetap, dan perbedaan praktik dengan ketentuan PSAK 216 yang berlaku.
Hasil analisis diharapkan memberikan gambaran jelas penerapan standar akuntansi aset tetap dan bahan evaluasi bagi Apartemen X kedepannya untuk meningkatkan kualitas penyajian laporan keuangannya. Penyajian laporan keuangan yang wajar sangat penting bagi pengambilan keputusan manajemen, auditor, dan pihak berkepentingan lainnya terhadap Apartemen X.
[BACA JUGA: Mengenal Kesalahan Umum dalam Penggunaan Transdermal Patch]
Penulis: Eka Febriani
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



