VOKASI NEWS – Lingkungan kerja industri menyimpan berbagai risiko kesehatan kerja. Salah satu risiko yang masih sering ditemukan adalah stres kerja. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan pekerja, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan potensi kecelakaan kerja.
Permasalahan tersebut juga ditemukan di area Losd UPT Depo Lokomotif Sidotopo yang menjadi lokasi perawatan dan perbaikan lokomotif. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai hubungan intensitas kebisingan dan beban kerja fisik terhadap stres kerja pada pekerja area Losd. Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar untuk memperkuat upaya perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Aktivitas Perawatan Memiliki Risiko Tinggi
Area Losd merupakan lokasi pelaksanaan perawatan dan perbaikan lokomotif yang melibatkan berbagai aktivitas teknis. Pekerjaan dilakukan menggunakan mesin, peralatan mekanik, serta proses pemeliharaan komponen lokomotif yang menghasilkan suara dengan intensitas cukup tinggi. Selain itu, sebagian besar aktivitas masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan tenaga fisik yang besar selama jam kerja.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan fisik maupun psikologis apabila tidak disertai pengendalian yang memadai. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2026 di UPT Depo Lokomotif Sidotopo menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 52 pekerja dipilih sebagai responden melalui teknik simple random sampling. Pengukuran kebisingan dilakukan menggunakan Sound Level Meter, beban kerja fisik diukur melalui denyut nadi menggunakan pulse oximeter, sedangkan tingkat stres diukur menggunakan kuesioner DASS-21. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji Spearman.
Beban Kerja Fisik Berhubungan dengan Stres Kerja
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja terpapar kebisingan melebihi Nilai Ambang Batas (NAB). Namun, analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas kebisingan dan stres kerja. Nilai signifikansi sebesar 0,248 mengindikasikan bahwa kebisingan bukan faktor yang berhubungan langsung dengan munculnya stres kerja pada pekerja area Losd. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi pekerja terhadap lingkungan kerja yang telah dihadapi dalam jangka waktu lama.
Sementara itu, hasil pengukuran beban kerja fisik menunjukkan temuan yang berbeda. Beban kerja fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja. Nilai signifikansi kurang dari 0,001 menunjukkan bahwa semakin tinggi beban kerja fisik yang diterima, semakin besar kemungkinan pekerja mengalami stres kerja. Aktivitas mengangkat, mendorong, menarik, serta bekerja dengan posisi tubuh tertentu secara berulang menjadi faktor yang meningkatkan beban fisiologis selama proses perawatan lokomotif.
Temuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya. Beban fisik yang tinggi dapat meningkatkan kelelahan, menurunkan kapasitas kerja, serta memicu stres apabila berlangsung secara terus-menerus. Dengan demikian, pengendalian risiko tidak hanya berfokus pada faktor lingkungan, seperti kebisingan, tetapi juga perlu memperhatikan keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan fisik pekerja (Caesara et al., 2024; Fiqri, Saptaputra, & Handayani, 2024).
Hasil Penelitian Menjadi Dasar Pengendalian K3
Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa pengendalian risiko stres kerja perlu dilakukan secara menyeluruh. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui rekayasa teknik berupa pemasangan sound barrier pada area sumber kebisingan, peningkatan pengawasan penggunaan alat pelindung telinga, serta pengaturan beban kerja sesuai kapasitas fisik pekerja.
Selain itu, pelatihan manajemen stres juga dapat membantu meningkatkan kemampuan pekerja dalam menghadapi tekanan kerja sehingga kondisi psikologis tetap terjaga selama menjalankan pekerjaan. Oleh karena itu, temuan penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi perusahaan dalam mengembangkan program keselamatan dan kesehatan kerja yang lebih komprehensif.
Pengendalian lingkungan kerja, peningkatan kapasitas pekerja, serta evaluasi beban kerja secara berkala menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif. Pendekatan tersebut juga diharapkan mampu mengurangi risiko stres kerja sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan perawatan lokomotif di UPT Depo Lokomotif Sidotopo.
[BACA JUGA: Nasabah Bank Syariah Surabaya Memilih Emas Syariah Bukan Sekadar karena Untung]
Penulis: Kahila Ramadhani Zainul Putri
Pembimbing: Fadilatus Sukma Ika Noviarm
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



