VOKASI NEWS – Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Ironisnya, jumlah investor pasar modal syariah masih sangat kecil. Angka ini jauh dibandingkan pasar modal konvensional. Menurut data Bursa Efek Indonesia Syariah (2025), jumlah investor pasar modal syariah baru 217.157 orang. Sementara total investor pasar modal nasional menembus 21 juta orang. Kesenjangan memperlihatkan besarnya peluang yang belum digarap di pasar modal syariah Indonesia.
Menurut teori Ajzen (1991), niat seseorang untuk melakukan sesuatu dipengaruhi oleh tiga hal yaitu sikap, norma subjektif (pengaruh orang sekitar), dan kontrol perilaku (seberapa yakin seseorang bisa melakukannya). Khusus investasi syariah, terdapat dua faktor tambahan yang berperan. Faktor tersebut adalah literasi keuangan syariah dan religiusitas. Faktor-faktor ini dibedah untuk memahami perbedaan minat berinvestasi bisa berbeda-beda pada karakteristik wilayah tempat tinggal seseorang.
Jawa Timur sebagai Gambaran Perilaku Investor
Riset ini menyasar masyarakat muslim Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Surabaya mewakili wilayah urban di Jawa Timur. Sementara Sidoarjo dan Gresik mewakili wilayah sub-urban. Daerah dipilih karena memiliki karakteristik ekonomi dan sosial berbeda. Akses terhadap layanan keuangan antarwilayah juga beragam. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2025), Single Investor Identification (SID) Jawa Timur mencapai dua juta orang. Surabaya menyumbang 348.725 SID, Sidoarjo 141.432, dan Gresik 62.972. Angka ini membuat Jawa Timur lokasi tepat meneliti niat investasi syariah.
Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner online warga berusia 18-64 tahun. Responden yang terlibat memiliki minimal satu instrumen investasi. Total ada 326 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Sampel terdiri dari 157 warga urban Surabaya. Selain itu, terdapat 169 warga sub-urban Sidoarjo dan Gresik. Data diolah menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). Metode Multi-Group Analysis (MGA) juga digunakan membandingkan kedua kelompok.
Temuan Menarik dan Implikasi bagi Pengembangan Investasi Syariah
Temuan menunjukkan masyarakat urban dan sub-urban memiliki pendorong berbeda. Perbedaan utama terlihat pada pengaruh norma subjektif terhadap niat. Pada kelompok urban, literasi keuangan, kontrol perilaku, dan religiusitas mendorong niat berinvestasi. Sementara di kelompok sub-urban, religiusitas dan norma subjektif paling berpengaruh. Literasi keuangan dan kontrol perilaku belum berpengaruh signifikan.
Dari hasil analisis MGA, norma subjektif jadi satu-satunya faktor yang pengaruhnya benar-benar berbeda secara signifikan antara dua kelompok ini. Warga urban mengambil keputusan berdasarkan pemahaman dan keyakinan pribadi. Sebaliknya, warga sub-urban lebih terpengaruh oleh lingkungan sosial. Pengaruh datang dari keluarga, komunitas, hingga tokoh agama. Temuan memperlihatkan peningkatan investor syariah tidak dapat diseragamkan. Karakteristik wilayah terbukti memengaruhi faktor yang mendorong seseorang untuk berinvestasi. Sehingga strategi untuk memberikan pemahaman mengenai produk investasi syariah perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Strategi menggaet investor syariah tidak bisa dipukul rata di semua daerah. Di kawasan urban, literasi fokus memperkuat pemahaman dan keputusan mandiri. Di kawasan sub-urban, edukasi efektif jika melibatkan keluarga dan tokoh agama. Komunitas serta lembaga keagamaan menjadi jembatan penyampaian informasi.
Temuan ini memberikan dasar bagi Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia Syariah, dan perguruan tinggi untuk menyusun program edukasi. Program edukasi dapat disesuaikan dengan karakteristik urban dan sub-urban. Menurut Otoritas Jasa Keuangan dan BEI Syariah (2025), dengan pendekatan tepat sasaran, partisipasi investor syariah diharapkan terus meningkat sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Indonesia.
[BACA JUGA: Prioritisasi Perbaikan Fitur Aplikasi Tokopedia Melalui Implementasi Kecerdasan Buatan]
Penulis: Shelia Anggita Fransiska
Pembimbing: Hanifiyah Yuliatul Hijriah
Editor: Nawal Eka Paramita (Tim Vokasi Branding)



