Belajar Budaya Berkelanjutan dari Rumah Osing Banyuwangi

Belajar Budaya Berkelanjutan dari Rumah Osing Banyuwangi_Dokumen Istimewa

VOKASI NEWS – Meskipun terbuat dari kayu dan dibangun tanpa paku, Rumah Osing tetap kokoh saat diguncang gempa, mahasiswa Unair belajar nilai budaya berkelanjutan di Banyuwangi.

Mahasiswa Universitas Airlangga kembali melaksanakan kegiatan kuliah lapangan ke Banyuwangi sebagai bagian dari program pembelajaran berbasis pengalaman serta implementasi SDGs Unair. Kegiatan ini berfokus pada SDGs 4 (Quality Education) dan SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities). Disini, mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana budaya lokal, arsitektur tradisional, serta kearifan masyarakat dapat mendukung konsep pembangunan berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga merasakan langsung kekayaan budaya yang selama ini hanya mereka pelajari lewat kelas.

Keindahan Tarian Tradisional Budaya Lokal

Destinasi utama dalam kegiatan ini adalah Villa Kemarang, sebuah lokasi yang menyuguhkan keindahan alam sekaligus memperkenalkan budaya lokal Banyuwangi secara autentik. Di tempat ini, mahasiswa menyaksikan Tari Gandrung, tarian tradisional yang menjadi identitas masyarakat Osing.

Suasana penuh kehangatan menyelimuti pertunjukan ketika para penari menampilkan gerakan anggun yang sarat makna historis. Banyak mahasiswa merasa bahwa melihat tarian ini secara langsung memberikan pengalaman berbeda dibanding hanya menonton melalui video. Mereka dapat merasakan atmosfer budaya yang kuat, sekaligus menghargai bagaimana masyarakat setempat melestarikan seni tradisional ini dari generasi ke generasi.

Pengenalan arsitektur rumah adat osing

Tidak kalah menarik, mahasiswa kemudian diajak mengenal lebih dalam rumah adat Osing. Sebuah bangunan khas berbahan kayu yang dibangun tanpa paku, namun mampu berdiri kokoh meskipun diguncang gempa. Di sinilah mahasiswa benar-benar terkesan oleh kecerdasan arsitektur masyarakat Osing. 

Teknik sambungan kayu tradisional, struktur panggung, serta pemilihan material alami membuktikan bahwa konsep sustainable architecture sudah diterapkan jauh sebelum istilah tersebut dikenal secara modern. Hal ini memberikan pemahaman baru bahwa budaya lokal sebenarnya memiliki nilai keberlanjutan yang sangat tinggi dan relevan untuk masa kini.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa menyadari bahwa mempelajari budaya bukan hanya kewajiban akademik, tetapi juga cara untuk memahami identitas bangsa. Banyuwangi memberikan gambaran nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pembangunan modern. Dengan pulang membawa pengalaman langsung, mahasiswa Unair memperoleh perspektif baru mengenai bagaimana nilai budaya dapat mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia.

[BACA JUGA: Mahasiswa UNAIR Telusuri Jejak Sakral Candi Penataran]

***

Penulis: Tia Budi Riyanti, Ossa Ladaena E.B.R

Editor: Habibah Khaliyah