VOKASI NEWS – Ketika mengalami keluhan kesehatan ringan, seperti demam, batuk, flu, nyeri kepala, atau gangguan pencernaan, banyak masyarakat memilih melakukan pengobatan mandiri (self-medication) sebelum berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kemudahan memperoleh obat di apotek, toko obat, warung terdekat, maupun fasilitas kesehatan menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya praktik tersebut. Namun demikian, kemudahan tersebut sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai fungsi, cara kerja, dosis, efek samping, dan aturan penggunaan obat yang benar.
Kurangnya pengetahuan mengenai obat dan dampaknya pada sistem tubuh dapat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan. Misalnya, penggunaan obat yang tidak sesuai indikasi, dosis yang tidak tepat, penghentian terapi sebelum waktunya, hingga penggunaan antibiotik tanpa resep masih sering ditemukan di masyarakat. Akibatnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan kegagalan terapi, munculnya efek samping, hingga terjadinya resistensi antibiotik.
Resistensi antibiotik merupakan kondisi ketika bakteri mampu bertahan hidup dan tetap berkembang meskipun telah diberikan antibiotik yang seharusnya dapat menghambat atau membunuhnya. Oleh karena itu, edukasi mengenai penggunaan obat yang aman dan tepat perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Pentingnya Penggolongan Obat Berdasarkan Sistem Tubuh
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi mengenai penggolongan obat berdasarkan sistem tubuh. Penggolongan ini membantu masyarakat memahami bahwa setiap obat memiliki target kerja yang berbeda sesuai dengan organ atau sistem tubuh yang mengalami gangguan.
Selain itu, penggolongan obat berdasarkan sistem tubuh membantu masyarakat mengenali fungsi obat dengan lebih baik. Dengan demikian, masyarakat dapat menghindari penggunaan obat secara sembarangan dan lebih memahami manfaat serta risiko penggunaannya.
Edukasi Penggolongan Obat di Desa Semampir
Melalui kegiatan edukasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga di Desa Semampir, masyarakat diperkenalkan pada berbagai golongan obat yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, pada sistem pernapasan masyarakat dikenalkan dengan obat yang digunakan untuk mengatasi batuk, asma, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronis. Beberapa contoh obat yang dibahas antara lain salbutamol sebagai bronkodilator, ambroxol sebagai mukolitik, dan budesonide sebagai antiinflamasi saluran napas.
Selain itu, peserta juga memperoleh informasi mengenai penggunaan antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan. Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan guna mencegah terjadinya resistensi bakteri.
Obat pada Sistem Kardiovaskular dan Persarafan
Selanjutnya, masyarakat diperkenalkan pada obat-obatan yang bekerja pada sistem kardiovaskular. Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengatasi hipertensi, penyakit jantung koroner, dan gagal jantung.
Beberapa contoh obat yang dijelaskan meliputi amlodipin, captopril, bisoprolol, dan furosemid. Melalui edukasi ini, masyarakat memahami pentingnya kepatuhan minum obat serta risiko menghentikan pengobatan tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, peserta juga diperkenalkan pada berbagai jenis obat yang bekerja pada sistem persarafan. Golongan ini mencakup analgesik dan antikonvulsan yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri maupun gangguan saraf.
Paracetamol dan ibuprofen menjadi contoh obat yang sering digunakan untuk mengurangi nyeri dan demam. Namun demikian, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai efek samping yang dapat muncul apabila obat digunakan secara berlebihan atau dalam jangka panjang tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Penggolongan Obat pada Sistem Pencernaan
Sementara itu, gangguan pencernaan merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami masyarakat. Oleh sebab itu, edukasi juga mencakup pengenalan obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan pada sistem pencernaan.
Peserta memperoleh informasi mengenai antasida, omeprazol, dan lansoprazol yang digunakan untuk membantu mengatasi peningkatan asam lambung dan gangguan lambung lainnya. Selain penggunaan obat, masyarakat juga diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga pola makan sehat dan menghindari makanan yang dapat memicu keluhan.
Tidak hanya itu, materi juga membahas penggolongan obat berdasarkan sistem tubuh pada sistem perkemihan, muskuloskeletal, endokrin, integumen, pendengaran, penglihatan, sistem imun, kanker, serta penyakit endemik dan pandemik.
Metode Edukasi yang Digunakan
Materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. Selain itu, mahasiswa menggunakan papan obat interaktif dan leaflet yang berisi gambar serta informasi singkat mengenai berbagai jenis obat.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Banyak peserta mengajukan pertanyaan mengenai obat yang selama ini mereka konsumsi. Pertanyaan tersebut umumnya berkaitan dengan dosis, waktu penggunaan, dan efek samping yang mungkin terjadi.
Dengan demikian, diskusi interaktif menjadi sarana yang efektif untuk meluruskan berbagai informasi yang kurang tepat mengenai penggunaan obat. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya penggunaan obat yang benar.
Mendorong Penggunaan Obat yang Rasional
Melalui edukasi penggolongan obat berdasarkan sistem tubuh, masyarakat memperoleh pengetahuan baru mengenai pentingnya memahami fungsi obat sebelum menggunakannya. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan obat secara rasional dan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mengurangi risiko efek samping obat, resistensi antibiotik, dan berbagai masalah kesehatan akibat penggunaan obat yang tidak tepat. Pada akhirnya, penggolongan obat berdasarkan sistem tubuh dapat menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus mendukung penggunaan obat yang aman, efektif, dan bertanggung jawab.
[BACA JUGA: Mahasiswa Keperawatan Unair Kenalkan Penggolongan Obat Berdasarkan Tingkat Keamanan]
Penulis: Layli Nurhasanah Kusumawardani
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



