BizTech : AI Dinilai Mampu Gantikan Pekerjaan, Tapi Tidak Emotional Intelligence

VOKASI NEWS – BizTech Talkshow FV UNAIR membahas pentingnya emotional intelligence sebagai kemampuan manusia yang tidak dapat digantikan oleh Artificial Intelligence di dunia kerja digital.

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat mulai mengubah pola kerja di berbagai sektor industri. Teknologi kini mampu membantu manusia menyelesaikan pekerjaan secara lebih cepat dan efisien, mulai dari pengolahan data hingga proses kreatif seperti desain dan pembuatan konten. Di tengah transformasi digital tersebut, kemampuan emotional intelligence dinilai menjadi aspek penting yang tetap tidak dapat digantikan oleh AI.

Menjawab isu tersebut, Kolaborasi acara BizTech Talkshow menghadirkan diskusi bertema “AI Bisa Menggantikan Pekerjaan, Tapi Tidak Empati: Pentingnya Emotional Intelligence di Dunia Kerja.” Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Himpunan Mahasiswa (HIMA) dari tiga program studi, yaitu Manajemen Perkantoran Digital, Perbankan dan Keuangan, serta Teknik Informatika, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga. Acara tersebut berlangsung di Gedung Airlangga Convention Center (ACC), Kampus C pada Sabtu, 9 Mei 2026. Acara tersebut menghadirkan Daud Kurnia Tanamas sebagai pembicara utama.

AI Membuka Kreativitas Tanpa Batas

Dalam pemaparannya, Daud menjelaskan bahwa AI membawa banyak peluang baru bagi dunia kerja, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Menurutnya, perkembangan AI membuat proses eksplorasi ide menjadi lebih luas dan fleksibel, khususnya dalam bidang desain dan content creation.

“Sekarang kreativitas dalam design jadi tidak terbatas. Dengan AI, ide-ide yang sebelumnya sulit diwujudkan kini bisa dibuat lebih cepat dan eksplorasinya jauh lebih luas.” ungkapnya.

Emotional Intelligence Tetap Dibutuhkan

Meski AI mampu menggantikan berbagai pekerjaan teknis, Daud menegaskan bahwa teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan kemampuan manusia dalam memahami emosi, membangun relasi, dan menciptakan komunikasi yang bermakna. Emotional Intelligence menjadi kemampuan penting yang harus dimiliki individu agar tetap relevan di tengah perkembangan teknologi.

Menurutnya, dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan memahami orang lain. Ia menilai bahwa Emotional Intelligence menjadi nilai utama yang membedakan manusia dengan teknologi.

Persiapan Menghadapi Dunia Kerja Digital

Selain membahas perkembangan AI, Daud juga mengajak peserta untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja sejak dini. Tidak hanya berfokus pada penguasaan teknologi, mahasiswa dan generasi muda juga perlu memperkuat berbagai soft skills, seperti critical thinking, problem solving, kemampuan berkomunikasi, serta membangun relasi profesional.

Daud berharap peserta mampu melihat perkembangan AI sebagai peluang untuk terus belajar dan berinovasi. Menurutnya, kemampuan manusia dalam berempati dan memahami nilai kemanusiaan akan tetap menjadi kompetensi yang dibutuhkan di masa depan.

“Teknologi akan terus berkembang, tetapi manusia tetap memiliki kemampuan untuk memahami perasaan, membangun hubungan, dan menciptakan makna. Itu yang tidak bisa digantikan AI.” pungkasnya.

[BACA JUGA: CAKRAIN TLM 2026: Membangun Kebersamaan dan Solidaritas]

Penulis : Rahmadia Inata Putri

Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)