BMI Belum Tentu Menentukan Kekuatan Genggaman pada Dewasa Muda

VOKASI NEWS – Body Mass Index (BMI) selama ini dikenal sebagai indikator sederhana untuk menilai status gizi seseorang. Namun, penelitian terbaru dari Program Studi Sarjana Terapan Fisioterapi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menunjukkan bahwa BMI belum dapat dijadikan satu-satunya acuan dalam memprediksi kekuatan genggaman tangan (grip strength) pada kelompok dewasa muda. Oleh karena itu, diperlukan parameter lain untuk memperoleh prediksi yang lebih akurat.

Penelitian yang dilakukan melalui metode literature review tersebut mengkaji berbagai artikel ilmiah internasional yang diperoleh dari PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Kajian dilakukan untuk memahami hubungan antara BMI dan grip strength pada populasi dewasa muda yang selama ini masih menunjukkan hasil yang beragam.

Hubungan yang Masih Inkonsisten

Grip strength merupakan salah satu indikator fungsi otot yang sering digunakan untuk menilai kondisi kesehatan seseorang. Kekuatan genggaman tangan juga diketahui berkaitan dengan kualitas hidup, kemampuan fungsional, hingga risiko berbagai penyakit di masa mendatang. Sementara itu, BMI digunakan untuk mengklasifikasikan status berat badan seseorang berdasarkan tinggi dan berat badan.

Hasil telaah terhadap delapan jurnal menunjukkan bahwa hubungan antara BMI dan grip strength belum memiliki pola yang konsisten. Sebagian penelitian menemukan korelasi positif, sementara penelitian lainnya menunjukkan korelasi negatif maupun tidak signifikan.

Peneliti menemukan bahwa individu dengan BMI tinggi belum tentu memiliki kekuatan genggaman yang lebih baik. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti komposisi tubuh, massa otot, jenis kelamin, aktivitas fisik, hingga ukuran antropometri tertentu.

Komposisi Tubuh Lebih Berperan

Beberapa studi menunjukkan bahwa massa tubuh yang lebih besar dapat diikuti peningkatan massa otot sehingga menghasilkan grip strength yang lebih tinggi. Namun, pada individu dengan obesitas, peningkatan berat badan sering kali disebabkan oleh akumulasi lemak yang tidak diiringi peningkatan massa otot secara proporsional. Akibatnya, kekuatan relatif genggaman justru dapat menurun.

Body Mass Index tidak bisa dijadikan prediktor tunggal dalam menilai grip strength karena hubungan keduanya bersifat kompleks dan dipengaruhi banyak faktor,” tulis peneliti dalam hasil kajian.

Temuan lain menunjukkan bahwa parameter seperti Fat-Free Mass (FFM), lingkar lengan atas, lingkar tangan, tinggi badan, dan berat badan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memprediksi kekuatan genggaman. Parameter-parameter tersebut memberikan hasil prediksi yang lebih baik dibandingkan penggunaan BMI saja.

Penting untuk Praktik Kesehatan

Kajian ini menyimpulkan bahwa hubungan antara BMI dan grip strength pada dewasa muda masih inkonsisten. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor perancu serta keterbatasan penelitian yang tersedia saat ini. Oleh karena itu, penilaian kondisi fisik seseorang sebaiknya tidak hanya berfokus pada BMI, tetapi juga mempertimbangkan komposisi tubuh dan faktor fungsional lainnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan, akademisi, serta masyarakat. Temuan tersebut menegaskan bahwa status kesehatan dan kebugaran fisik tidak dapat dinilai hanya dari angka BMI semata.

[BACA JUGA: Tak Hanya Trombosit, Fungsi Hati juga Perlu Dipantau pada Pasien DBD]

Penulis: Muhammad Arif Amrullah

Pembimbing: Yudith Dian Prawitri, Devi Arianti

Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)