Dari Dapur Tradisional ke Panggung Nasional: Sego Tempong Jadi Kebanggaan Banyuwangi

Dari Dapur Tradisional ke Panggung Nasional: Sego Tempong Jadi Kebanggaan Banyuwangi_Dokumen Istimewa

VOKASI NEWS – Kuliner tradisional Banyuwangi, Sego Tempong, menunjukkan peran penting dalam penguatan identitas daerah melalui gastronomi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menetapkan hidangan ini sebagai ikon kuliner resmi daerah. Kebijakan tersebut bertujuan memperkuat citra Banyuwangi sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal.

Sego Tempong dikenal sebagai hidangan nasi dengan lauk sederhana, sayuran rebus, serta sambal pedas khas yang disajikan segar. Karakter rasa pedas dan kuat mencerminkan kebiasaan serta selera masyarakat setempat. Daya tarik ini menjadikan Sego Tempong mudah dikenali dan relevan sebagai representasi kuliner Banyuwangi. Wisatawan domestik dan mancanegara mulai menjadikan hidangan ini sebagai salah satu tujuan wisata kuliner saat berkunjung ke daerah tersebut.

Sego Tempong sebagai Identitas Kuliner Daerah

Pemerintah daerah menilai kuliner tradisional memiliki fungsi strategis dalam membangun identitas kota. Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi menyampaikan bahwa Sego Tempong bukan sekadar sajian harian, tetapi simbol karakter lokal yang kuat dan konsisten. Penetapan ini didukung oleh keberlanjutan pelaku usaha kuliner yang mempertahankan resep dan teknik penyajian secara turun-temurun.

Keberadaan Sego Tempong juga memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi wisata gastronomi. Warung tradisional hingga rumah makan modern menyajikan menu ini dengan pendekatan yang beragam tanpa menghilangkan ciri utama. Variasi penyajian tersebut membantu memperluas jangkauan pasar sekaligus menjaga nilai autentik kuliner lokal.

Peran Media Digital dalam Meningkatkan Popularitas

Perkembangan media digital turut mendorong peningkatan popularitas Sego Tempong. Sejumlah kreator konten kuliner membagikan pengalaman mencicipi hidangan ini melalui platform media sosial. Salah satu video di akun TikTok @aufaubaidillah410 yang menampilkan Sego Tempong di Bangsal, Mojokerto, tercatat memperoleh lebih dari 7,8 juta penayangan serta ratusan ribu interaksi. Respons tersebut menunjukkan minat publik yang luas terhadap kuliner khas Banyuwangi.

Sejumlah figur publik juga ikut memperkenalkan Sego Tempong kepada audiens yang lebih besar. Konten yang diunggah komedian dan food vlogger Melki Bajaj, misalnya, menyoroti cita rasa ikan asap dan sayuran khas dalam hidangan tersebut. Ulasan tersebut memperkuat persepsi positif sekaligus memperluas pengenalan Sego Tempong di luar wilayah asalnya.

Relevansi terhadap Pembangunan Berkelanjutan

Mahasiswa Manajemen Perhotelan Universitas Airlangga menilai fenomena Sego Tempong relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan. Kuliner tradisional dinilai mampu memperkuat identitas kota, melestarikan budaya lokal, serta mendukung ekonomi masyarakat. Pandangan ini juga sejalan dengan diskusi akademik bersama dosen Manajemen Perhotelan Universitas Airlangga yang menekankan peran gastronomi sebagai pilar branding daerah.

[BACA JUGA: Belajar Budaya Berkelanjutan dari Rumah Osing Banyuwangi]

Melalui pendekatan tersebut, Sego Tempong berkembang dari hidangan dapur tradisional menjadi aset budaya yang mendukung pariwisata dan ekonomi lokal. Keberlanjutan kuliner ini bergantung pada kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga kualitas serta nilai budayanya.

***

Penulis: Naura Athallah Putri, Bayu Andriani, Amelia Damayanti

Editor: Fatikah Rachmadianty