VOKASI NEWS – Bagi mahasiswa keperawatan, mempelajari penggolongan obat merupakan bagian penting dalam mata kuliah farmakologi. Berbagai jenis obat beserta aturan yang dipelajari untuk memastikan keamanan dan ketepatan terapi bagi pasien. Namun, memahami teori di ruang kelas hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat dengan cara yang mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga saat melaksanakan proyek edukasi kesehatan mengenai penggolongan obat kepada ibu-ibu PKK di Perumahan Graha Bunder Asri, Gresik. Kegiatan yang dibimbing oleh Dr. Susilo Harianto, S.Kep., Ns., M.Kep. ini menjadi wadah bagi siswa untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari sekaligus memahami bagaimana masyarakat menerima informasi kesehatan.
Pembelajaran Farmakologi sebagai Dasar Edukasi Kesehatan
Selama perkuliahan, mahasiswa mempelajari berbagai golongan obat, mulai dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek (OWA), obat keras, hingga narkotika dan psikotropika. Setiap golongan memiliki aturan penggunaan yang berbeda dan berkaitan erat dengan keamanan pasien. Namun, saat berinteraksi langsung dengan masyarakat, siswa menemukan bahwa masih banyak informasi dasar mengenai obat yang belum dipahami secara menyeluruh.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah masih banyak peserta yang belum mengetahui arti logo yang tertera pada kemasan obat. Sebagian peserta mengaku lebih sering memperhatikan nama obat atau khasiatnya dibandingkan simbol yang terdapat pada kemasan. Padahal, logo tersebut memiliki fungsi penting sebagai penanda jenis obat sekaligus petunjuk mengenai cara memperoleh dan menggunakan obat secara tepat.
Tantangan Penyampaian Informasi Obat kepada Masyarakat
Temuan tersebut menjadi pengalaman belajar yang berharga bagi siswa. Informasi yang dianggap sederhana oleh tenaga kesehatan ternyata belum dipahami oleh masyarakat. Dari situ siswa belajar bahwa pendidikan kesehatan tidak cukup hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan informasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Dalam kegiatan edukasi, siswa berupaya menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berbagai contoh penggunaan obat yang sering ditemui di rumah digunakan untuk membantu peserta memahami perbedaan setiap golongan obat. Pendekatan ini membuat suasana diskusi menjadi lebih aktif dan mendorong peserta untuk berbagi pengalaman terkait penggunaan obat dalam keluarga.
Logo Kemasan Obat sebagai Media Literasi Kesehatan
Melalui interaksi tersebut, siswa juga belajar bahwa kemampuan komunikasi merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki tenaga kesehatan. Materi yang telah dipelajari selama perkuliahan perlu diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Kemampuan inilah yang tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.
Kegiatan ini menunjukkan bagaimana vokasi pendidikan menjelaskan teori dengan praktik secara nyata. Mahasiswa tidak hanya belajar memahami konsep farmakologi, tetapi juga belajar menjadi edukator kesehatan yang mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Pengalaman terjun langsung ke lapangan memberikan pemahaman bahwa ilmu kesehatan akan memberikan manfaat yang lebih luas ketika dapat disampaikan secara sederhana, tepat, dan mudah dipahami.
[BACA JUGA: Pahami Golongannya, Lindungi Kesehatan Keluarga]
Penulis: Leli Rohmatus Syahada
Pembimbing: Dr. Susilo Harianto, S.Kep., Ns., M.Kep.
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



