Di Balik Penyakit Jantung Koroner, Sindrom Metabolik Masih Mengintai

Di Balik Penyakit Jantung Koroner, Sindrom Metabolik Masih Mengintai

VOKASI NEWS – Penyakit jantung koroner sering dianggap sebagai penyakit yang muncul akibat penyumbatan pembuluh darah. Padahal, sebelum penyumbatan terjadi, tubuh biasanya telah memberikan banyak “sinyal”. Lingkar perut yang terus bertambah, kadar lemak darah yang meningkat, hingga tekanan darah yang mulai sulit dikendalikan sering kali dianggap sebagai masalah yang berdiri sendiri. Faktanya, berbagai kondisi tersebut dapat saling berkaitan dan membentuk sindrom metabolik, yaitu kumpulan gangguan yang mampu mempercepat kerusakan pembuluh darah hingga memicu penyakit jantung koroner.

Sindrom Metabolik pada Pasien Penyakit Jantung Koroner

Gambaran tersebut tercermin pada pasien penyakit jantung koroner di RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya. Hasil penelitian selama periode 2025–2026 menunjukkan bahwa gangguan metabolik masih banyak ditemukan pada pasien yang telah mengalami penyakit jantung koroner. Dari 30 pasien yang dianalisis, lebih dari separuh memenuhi kriteria sindrom metabolik karena memiliki sedikitnya tiga komponen yang tidak normal.

Obesitas Sentral sebagai Komponen Dominan

Obesitas sentral menjadi salah satu temuan yang paling menonjol. Sebanyak 83,33% pasien memiliki lingkar perut di atas batas normal, menunjukkan tingginya penumpukan lemak di area abdomen. Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan bentuk tubuh. Lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam memiliki aktivitas metabolik yang tinggi sehingga dapat memicu peradangan kronis, mengganggu metabolisme lemak dan glukosa, serta meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah.

Perbedaan Karakteristik Gangguan Metabolik Berdasarkan Jenis Kelamin

Gangguan metabolik lainnya juga banyak ditemukan. Tujuh dari sepuluh pasien memiliki kadar trigliserida di atas nilai normal. Menariknya, seluruh pasien perempuan dalam penelitian mengalami obesitas sentral, sedangkan peningkatan kadar trigliserida lebih banyak dijumpai pada pasien laki-laki. Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakteristik sindrom metabolik dapat berbeda pada setiap kelompok pasien, meskipun sama-sama berkontribusi terhadap perkembangan penyakit jantung koroner.

Sindrom Metabolik sebagai Silent Killer

Sindrom metabolik sering dijuluki sebagai silent killer karena berkembang perlahan tanpa menimbulkan gejala yang khas. Banyak orang baru mengetahui adanya gangguan metabolik setelah muncul komplikasi, salah satunya penyakit jantung koroner. Padahal, sebagian besar komponennya dapat dikenali melalui pemeriksaan kesehatan sederhana, seperti pengukuran lingkar perut, pemeriksaan profil lipid, dan pemantauan tekanan darah secara berkala.

Peran Teknologi Laboratorium Medik dalam Deteksi Dini

Di sinilah peran Teknologi Laboratorium Medik menjadi sangat penting. Hasil pemeriksaan laboratorium tidak hanya membantu menegakkan diagnosis, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kondisi metabolik seseorang sebelum muncul komplikasi yang lebih berat. Data yang akurat memungkinkan tenaga kesehatan menyusun strategi pencegahan dan penatalaksanaan yang lebih tepat.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan jantung tidak dimulai ketika nyeri dada muncul, melainkan jauh sebelumnya. Mengenali dan mengendalikan faktor-faktor risiko metabolik sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah berkembangnya penyakit jantung koroner. Hal ini bermanfaat untuk sekaligus meningkatkan kualitas hidup di masa mendatang.

[BACA JUGA: Ketika SP2DK Datang, Satu Kesalahan Aset Bisa Berujung Masalah Besar]

Penulis: Elvy Rofiqotul Hidayah

Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)