VOKASI NEWS – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Penyakit akibat infeksi virus dengue ini ditandai oleh fluktuasi berbagai parameter hematologi. Fluktuasi ini meliputi penurunan trombosit serta perubahan jumlah leukosit dan kadar hematokrit. Dalam penatalaksanaannya, pemeriksaan laboratorium rutin menjadi sarana penting untuk membantu mengevaluasi kondisi klinis dan memantau perjalanan penyakit.
Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count) yang dilakukan secara berkala memberikan gambaran berharga bagi tenaga kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai bagaimana leukosit, trombosit, dan hematokrit saling memengaruhi menjadi kunci dalam menentukan langkah penanganan medis yang tepat.
Perjalanan Infeksi dan Fase Kritis DBD
Perjalanan penyakit DBD secara umum terbagi menjadi tiga fase utama, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan. Pada setiap fase tersebut, respons seluler di dalam tubuh mengalami perubahan yang sangat dinamis. Fase demam ditandai dengan munculnya demam tinggi secara mendadak sebagai bentuk respons imun awal tubuh terhadap invasi virus dengue. Kondisi ini umumnya ditunjukkan melalui perubahan jumlah sel darah putih.
Memasuki fase kritis yang biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-7 demam, suhu tubuh pasien mungkin akan menurun. Namun, periode ini justru menjadi fase paling diwaspadai karena peningkatan permeabilitas pembuluh darah mulai mencapai puncaknya dan berisiko memicu komplikasi. Setelah melewati masa kritis, pasien akan memasuki fase pemulihan secara bertahap. Pada fase ini, cairan secara perlahan kembali ke dalam pembuluh darah dan kadar parameter hematologi mulai menunjukkan kestabilan kembali.
Dinamika Parameter Hematologi Pasien DBD
Pada perjalanan infeksi virus dengue, respons imun dan gangguan hemostasis terjadi secara bersamaan di dalam tubuh pasien. Kondisi ini memicu serangkaian perubahan patofisiologis pada sel-sel darah yang saling berkaitan. Infeksi ini memicu respons imun awal yang memengaruhi jumlah sel darah putih (leukosit). Perubahan ini berjalan beriringan dengan penurunan trombosit akibat destruksi perifer serta gangguan produksi di sumsum tulang.
Di saat yang sama, aktivasi respons inflamasi sistemik yang melibatkan leukosit terjadi secara simultan dengan mulainya peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kebocoran plasma ke ruang ekstravaskular yang ditandai oleh peningkatan kadar hematokrit. Puncak kebocoran tersebut sering kali bertepatan dengan titik nadir, atau jumlah trombosit terendah pada pasien.
Pentingnya Evaluasi Hematologi Secara Komprehensif
Meskipun setiap parameter hematologi menunjukkan keterkaitan patofisiologis dalam perjalanan penyakit, dinamika perubahan sel darah dapat bervariasi. Variasi ini bergantung pada hari demam dan fase infeksi saat pasien diperiksa. Kondisi ini menegaskan bahwa setiap parameter hematologi memiliki peran yang saling melengkapi dalam menggambarkan kondisi tubuh pasien.
Oleh karena itu, tenaga kesehatan diimbau untuk tidak mengevaluasi atau menilai kondisi pasien DBD hanya berdasarkan satu parameter tunggal saja. Pemantauan parameter hematologi secara berkala dan menyeluruh sangat krusial agar diperoleh gambaran klinis yang utuh demi mendukung pengambilan keputusan medis yang optimal.
[BACA JUGA: Perilaku Aman Pekerja Dimulai dari Pengetahuan, Sikap, dan Motivasi Keselamatan]
Penulis: Adinda Febriana Widyari
Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)



