VOKASI NEWS – Kegiatan edukasi interaktif mengenai penggunaan obat cair dilakukan oleh mahasiswa Kelompok 3 Kelas 2B Program Studi D-III Keperawatan VOKASI UNAIR di kawasan Car Free Day atau CFD Kabupaten Gresik. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat berkumpulnya banyak keluarga dari berbagai latar belakang.
Langkah kreatif tersebut dilakukan untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait sediaan obat cair. Beberapa jenis obat cair yang sering digunakan masyarakat antara lain sirup, suspensi, dan emulsi. Pemahaman mengenai obat cair menjadi penting untuk mencegah terjadinya kesalahan pengobatan atau medication error di tingkat rumah tangga.
Berdasarkan penelitian Universitas Airlangga di kawasan urban, sebesar 94,3 persen rumah tangga menyimpan obat di rumah. Namun, mayoritas atau sekitar 72,1 persen rumah tangga belum melakukan penataan obat secara khusus (Savira dkk., 2020). Kondisi ini menunjukkan bahwa penyimpanan dan penggunaan obat di lingkungan keluarga masih perlu mendapat perhatian.
Urgensi Literasi Obat Cair dalam Keluarga
Obat cair sering dipilih karena lebih mudah dikonsumsi oleh anak-anak, lansia, maupun orang yang mengalami kesulitan menelan tablet atau kapsul. Meski demikian, penggunaan obat cair tetap memerlukan ketelitian. Kesalahan dosis, penyimpanan, dan pemahaman batas waktu penggunaan dapat memengaruhi keamanan terapi.
Salah satu kekeliruan yang masih sering terjadi adalah kesalahan lokasi penyimpanan. Sebagian masyarakat menganggap kulkas sebagai tempat terbaik untuk menyimpan semua jenis obat setelah dibuka. Padahal, tidak semua obat cair boleh disimpan di suhu dingin, apalagi di dalam freezer. Sari dkk. (2021) menyebutkan bahwa hanya 35,6 persen masyarakat yang memahami bahwa obat sirup konvensional tidak boleh disimpan di dalam pembeku.
Kesalahan lain yang juga perlu diperhatikan adalah ketidakmampuan membedakan Expired Date atau ED dan Beyond Use Date atau BUD. ED merupakan tanggal kedaluwarsa produk sebelum kemasan dibuka, sedangkan BUD menunjukkan batas aman penggunaan obat setelah kemasan dibuka atau setelah obat diracik. Sida dkk. (2024) menyebutkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai BUD obat sirup masih rendah, yaitu sekitar 12,5 persen.
Selain itu, penggunaan alat takar rumahan juga berisiko menyebabkan kesalahan dosis. Sendok makan atau sendok teh dapur tidak memiliki ukuran yang seragam. Kapasitas sendok rumahan dapat bervariasi antara 3–9 mL, sedangkan standar sendok takar medis umumnya sebesar 5 mL. Perbedaan ukuran tersebut dapat meningkatkan risiko salah dosis, terutama pada penggunaan obat anak.
Panduan Taktis Melalui Gerakan DAGUSIBU
Sebagai langkah pencegahan, edukasi ini juga memperkenalkan gerakan DAGUSIBU yang diinisiasi oleh Ikatan Apoteker Indonesia. DAGUSIBU merupakan singkatan dari Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar. Gerakan ini bertujuan membantu masyarakat memahami pengelolaan obat secara aman sejak obat diperoleh hingga dibuang (Pratiwi dkk., 2024).
Tahap pertama adalah DA atau Dapatkan. Obat cair sebaiknya diperoleh dari fasilitas kefarmasian resmi berizin, seperti apotek, rumah sakit, atau fasilitas layanan kesehatan. Langkah ini penting untuk memastikan legalitas, keamanan, dan mutu obat yang digunakan.
Tahap kedua adalah GU atau Gunakan. Pada obat berbentuk suspensi dan emulsi, botol obat perlu dikocok terlebih dahulu sebelum dituang. Pengocokan bertujuan memastikan zat aktif tersebar merata sehingga dosis yang diminum sesuai. Masyarakat juga diimbau menggunakan alat takar bawaan obat, seperti sendok takar, gelas takar, atau spuit oral.
Tahap ketiga adalah SI atau Simpan. Obat sirup konvensional umumnya perlu disimpan pada suhu ruangan sejuk, sekitar 15–30 derajat Celsius, serta dijauhkan dari sinar matahari langsung. Masyarakat juga perlu mencatat tanggal pertama kali botol dibuka agar dapat memperkirakan batas waktu penggunaan obat setelah kemasan terbuka.
Tahap keempat adalah BU atau Buang. Obat cair yang sudah tidak digunakan sebaiknya tidak langsung dibuang sembarangan. Cairan obat dapat diencerkan terlebih dahulu dengan air, kemudian dibuang ke saluran tertutup atau tempat yang aman. Label pada botol perlu dikelupas atau dicoret, sedangkan kemasannya dihancurkan sebelum dibuang untuk mencegah penyalahgunaan maupun pemalsuan obat.
Stop Gunakan Sendok Rumahan
Melalui penyuluhan ini, para orang tua diimbau menghentikan kebiasaan menakar obat anak menggunakan sendok dapur. Kebiasaan “asal tuang” dapat menyebabkan dosis obat tidak sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan.
Masyarakat diajak mengenali alat ukur medis standar, seperti sendok takar, gelas takar, dan spuit oral. Penggunaan alat takar yang sesuai dapat membantu memastikan volume obat yang diberikan lebih tepat. Hal ini penting karena dosis yang terlalu sedikit dapat membuat terapi kurang efektif, sedangkan dosis berlebihan dapat meningkatkan risiko efek samping.
Edukasi mengenai alat takar menjadi salah satu materi penting karena berkaitan langsung dengan kebiasaan keluarga di rumah. Dengan memahami cara menakar obat cair secara benar, orang tua dapat lebih aman saat memberikan obat kepada anak maupun anggota keluarga lain.
Menepis Hoaks tentang Obat Sirup
Selain membahas cara penggunaan dan penyimpanan obat cair, kegiatan ini juga berfokus meluruskan mitos bahwa semua obat sirup berbahaya. Isu tersebut sempat berkembang setelah kasus gagal ginjal akut pada anak beberapa tahun lalu.
BPOM memang pernah menarik sejumlah produk yang mengandung cemaran etilen glikol atau EG dan dietilen glikol atau DEG melebihi batas aman. Namun, produk obat sirup yang telah memiliki izin edar resmi dan memenuhi ketentuan tetap aman digunakan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Masyarakat didorong untuk memilah informasi sebelum mempercayai kabar mengenai obat. Informasi terkait keamanan obat sebaiknya diperoleh dari sumber tepercaya, seperti apoteker, dokter, Kementerian Kesehatan, dan BPOM. Ramdani (2024) juga menegaskan bahwa pengetahuan dan persepsi masyarakat berperan dalam membentuk minat serta kepercayaan terhadap penggunaan sediaan sirup setelah isu cemaran EG dan DEG.
Mendorong Keluarga Lebih Cermat Menggunakan Obat Cair
Edukasi bijak obat cair di Car Free Day Gresik menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan informasi kesehatan kepada masyarakat. Melalui lokasi yang terbuka dan ramai dikunjungi keluarga, pesan mengenai penggunaan obat cair dapat disampaikan dengan lebih mudah dan komunikatif.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat cair secara benar. Dengan literasi yang lebih baik, masyarakat dapat mengurangi risiko kesalahan penggunaan obat di rumah.
[BACA JUGA: Edukasi Golongan Obat di Desa Pucuk]
Penggunaan obat cair yang aman tidak hanya bergantung pada jenis obat yang dikonsumsi, tetapi juga pada cara menakar, menyimpan, membaca informasi kemasan, dan memahami batas waktu penggunaan. Melalui edukasi yang berkelanjutan, keluarga diharapkan semakin bijak dalam menggunakan obat cair demi mendukung terapi yang aman, tepat, dan bertanggung jawab.
Referensi
Pratiwi, A.R., Bariqna’im, K.H., Nursaputri, E., Halim, H., Sabana, H., Adelia, I.C., Hafidz, N.I.M., Nisfiyah, N.L., Da Silva, P.A.F., Hamidah, S. and Harahap, A.A. (2024) ‘Edukasi DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) Obat dengan Benar di Dusun Jojoran Wetan, Desa Triwidadi, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta’, Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 4(1), pp. 19–24.
Ramdani, D.V.A. (2024) ‘Hubungan Pengetahuan dan Persepsi Masyarakat terhadap Minat Beli Sediaan Sirup di Apotek Terkait Isu Cemaran Etilen Glikol dan Dietilen Glikol’, Jurnal Farmasi Sains dan Terapan, 11(2), pp. 72–79.
Sari, O.M., Anwar, K. and Putri, I.P. (2021) ‘Tingkat Pengetahuan dalam Penyimpanan dan Pembuangan Obat di Rumah pada Masyarakat Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan’, Cendekia Journal of Pharmacy, 5(2).
Savira, M. dkk. (2020) ‘Praktik Penyimpanan dan Pembuangan Obat dalam Keluarga’, Jurnal Farmasi Komunitas, 7(2).
Sida, N.A., Sabarudin, Mahmudah, R., Nuralifah and Parawansah (2024) ‘Peningkatan Pemahaman Masyarakat Mengenai Beyond Use Date (BUD) Obat sebagai Upaya Pencegahan Kesalahan dalam Pengobatan’, Jurnal Abdi dan Dedikasi kepada Masyarakat Indonesia, 2(2).
Penulis: Kelompok 3 GR-2B
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



