VOKASI NEWS – Pengetahuan tentang persiapan dan perawatan setelah operasi menjadi bekal penting bagi pasien dan keluarga. Untuk mendekatkan informasi tersebut kepada masyarakat, mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga, mengadakan edukasi perioperatif bagi ibu hamil dan lanjut usia di Posyandu Cerme, Kabupaten Gresik, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek Keperawatan Medikal Bedah Praktikum Kelompok 1 kelas 3A. Edukasi dirancang untuk membantu peserta memahami rangkaian perawatan sebelum, selama, dan setelah operasi. Materi disampaikan menggunakan poster dan leaflet dengan bahasa sederhana agar informasi lebih mudah dipahami dan dapat dibaca kembali bersama keluarga.
Memahami Tahapan Perawatan Operasi
Perioperatif mencakup tiga tahap, yaitu praoperasi, intraoperasi, dan pascaoperasi. Pada tahap praoperasi, pasien perlu mempersiapkan kondisi fisik dan psikologis serta menyampaikan riwayat penyakit, alergi, dan obat atau suplemen yang sedang dikonsumsi kepada tenaga kesehatan. Ibu hamil juga perlu menyampaikan informasi terkait usia dan kondisi kehamilan.
Saat operasi berlangsung, tim kesehatan melakukan pemantauan untuk mendukung keselamatan pasien. Setelah operasi, perhatian beralih pada pemulihan, termasuk pengelolaan nyeri, pemenuhan nutrisi, perawatan luka, dan mobilisasi secara bertahap sesuai kondisi serta arahan tenaga kesehatan. Menurut Wang dkk., (2024), edukasi praoperasi dapat membantu pasien memahami proses pemulihan, meskipun manfaatnya dapat berbeda menurut jenis tindakan dan bentuk edukasi yang diberikan.
Meluruskan Mitos dan Mengenali Tanda Bahaya
Salah satu pesan penting dalam kegiatan ini ialah agar masyarakat tidak langsung mempercayai pantangan makanan yang beredar tanpa memeriksa kebenarannya. Telur, ikan, dan daging merupakan sumber protein yang dapat mendukung perbaikan jaringan. Namun, jenis dan jumlah makanan setelah operasi tetap harus disesuaikan dengan kondisi medis, alergi, toleransi makanan, serta instruksi tenaga kesehatan.
Peserta juga diperkenalkan pada teknik napas perlahan untuk membantu relaksasi dan cara melakukan mobilisasi secara bertahap. Latihan perlu dihentikan apabila menimbulkan ketidaknyamanan, lalu kondisi tersebut disampaikan kepada tenaga kesehatan. Tinjauan sistematis mengenai intervensi nonfarmakologis menunjukkan bahwa pendekatan tertentu dapat membantu mengelola kecemasan praoperasi (Agüero-Millan dkk., 2023).
Perdarahan, demam, sesak napas, nyeri yang semakin berat, penurunan kesadaran, atau perubahan tidak biasa pada luka merupakan tanda yang perlu segera dilaporkan kepada tenaga kesehatan. Pada lansia, keluarga atau pendamping juga perlu memperhatikan perubahan perilaku dan orientasi selama masa pemulihan.
Edukasi di Posyandu menjadi kesempatan untuk mendekatkan informasi kesehatan kepada masyarakat sekaligus mendorong pasien dan keluarga berkomunikasi aktif dengan tenaga kesehatan. Melalui pemahaman yang tepat, persiapan operasi dan perawatan setelahnya diharapkan dapat dijalani dengan lebih terarah dan aman.
[BACA JUGA: Sekolah Rakyat 2026 BEM Vokasi UNAIR Warnai Kegiatan Edukasi dan Kreativitas di SD Budi Dharma]
Penulis: Siti Muzdalifah
Dosen Pengampu: Hafna Ilmy Muhalla; Susilo Harianto; Cucuk Rahmadi Purwanto; Fanni Okviasanti
Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)
Referensi:
Agüero-Millan, B., Abajas-Bustillo, R., & Ortego-Maté, C. (2023). Efficacy of nonpharmacologic interventions in preoperative anxiety: A systematic review of systematic reviews. Journal of Clinical Nursing, 32(17–18), 6229–6242.
Wang, F., Zhang, J., Guan, Y., & Xie, J. (2024). The effect of preoperative education on postoperative pain and function after orthopedic surgery: A systematic review and meta-analysis. Patient Education and Counseling, 124, 108406. https://doi.org/10.1016/j.pec.2024.108406


