Edukasi Regulasi Obat Bahan Alam: Kelompok 4 Keperawatan UNAIR Pacu Literasi Lansia Gresik Kenali 3 Golongan Herbal BPOM

VOKASI NEWS – Tren penggunaan obat bahan alam masih banyak dijumpai di masyarakat, termasuk di lingkungan pedesaan. Produk herbal sering dianggap lebih aman karena berasal dari bahan alami. Namun, penggunaan obat bahan alam tetap perlu disertai pemahaman yang tepat agar tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan.

Merespons kondisi tersebut, Kelompok 4 Mata Kuliah Farmakologi Program Studi D-III Keperawatan VOKASI UNAIR menggelar penyuluhan interaktif mengenai penggolongan obat tradisional. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Ketapang Lor, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik.

Penyuluhan tersebut menyasar kelompok lanjut usia atau lansia serta ibu-ibu penggerak arisan lokal. Kelompok ini dipilih karena memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan kesehatan keluarga, termasuk dalam memilih dan menggunakan produk herbal sehari-hari.

Meningkatkan Literasi Obat Herbal di Masyarakat

Pemanfaatan herbal di tingkat keluarga sering kali belum diimbangi dengan literasi regulasi yang memadai. Masih banyak warga yang belum dapat membedakan produk herbal yang aman, terdaftar, dan sesuai aturan dengan produk yang berisiko.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa D-III Keperawatan VOKASI UNAIR mengintegrasikan edukasi farmakologi dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Penyampaian materi dilakukan secara sederhana, komunikatif, dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Edukasi tersebut bertujuan membantu masyarakat lebih memahami jenis obat bahan alam yang beredar. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan lebih bijak sebelum membeli, mengonsumsi, maupun merekomendasikan produk herbal kepada anggota keluarga.

Papan Obat Bantu Visualisasi Penggolongan Herbal

Mengingat audiens didominasi oleh kelompok lansia, tim mahasiswa merancang media pembelajaran interaktif bernama “Papan Obat”. Media ini digunakan untuk memetakan perbedaan fungsi, tingkatan pembuktian, serta logo resmi dari tiga klasifikasi obat bahan alam.

Tiga golongan obat bahan alam yang diperkenalkan meliputi jamu, Obat Herbal Terstandar atau OHT, dan fitofarmaka. Ketiganya memiliki tingkat pembuktian manfaat dan keamanan yang berbeda sehingga perlu dikenali oleh masyarakat.

Melalui media visual tersebut, peserta dapat melihat perbedaan logo dan contoh produk secara lebih mudah. Pendekatan ini membantu peserta memahami materi yang sebelumnya mungkin terasa asing atau terlalu teknis.

Jamu sebagai Obat Tradisional Berbasis Empiris

Jamu merupakan golongan dasar dalam obat bahan alam di Indonesia. Khasiat dan keamanannya didasarkan pada pengalaman penggunaan secara turun-temurun atau empiris.

Golongan jamu memiliki logo berupa lingkaran dengan simbol pohon berwarna hijau di dalamnya. Contoh produk yang umum dikenal masyarakat antara lain jamu gendong, kunyit asam, beras kencur, serta beberapa produk jamu kemasan.

Dalam edukasi ini, warga juga diingatkan agar berhati-hati terhadap jamu ilegal yang memberikan klaim kesembuhan terlalu cepat atau berlebihan. Produk yang tidak jelas izin edarnya berisiko mengandung Bahan Kimia Obat atau BKO yang dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi lansia.

OHT dan Fitofarmaka Memiliki Pembuktian Lebih Lanjut

Obat Herbal Terstandar atau OHT berada satu tingkat di atas jamu. Khasiat OHT telah dibuktikan melalui uji pra-klinik pada hewan percobaan. Selain itu, bahan bakunya telah melalui proses standardisasi untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk.

OHT memiliki logo berupa lingkaran dengan simbol tiga bintang berwarna hijau. Beberapa contoh produk OHT yang dikenal masyarakat antara lain produk herbal untuk membantu meredakan diare, keluhan nyeri haid, gangguan tidur, atau kebutuhan kesehatan tertentu sesuai aturan pakai.

Sementara itu, fitofarmaka merupakan golongan tertinggi dalam obat bahan alam. Produk fitofarmaka telah melalui standardisasi bahan baku, uji pra-klinik, dan uji klinis pada manusia. Dengan tingkat pembuktian tersebut, fitofarmaka dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.

Fitofarmaka memiliki logo berupa lingkaran dengan simbol menyerupai jari-jari atau kristal berwarna hijau. Dalam penyuluhan ini, peserta diajak memahami bahwa semakin tinggi golongan obat bahan alam, semakin kuat pula pembuktian ilmiah yang mendukung keamanan dan manfaatnya.

Kampanye KLIK Sebelum Membeli Obat Herbal

Sebagai penutup materi, Kelompok 4 Keperawatan VOKASI UNAIR memperkenalkan kampanye KLIK sebelum membeli obat tradisional. KLIK merupakan singkatan dari Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.

Peserta diajak untuk memeriksa kemasan produk agar tetap utuh dan tidak rusak. Selanjutnya, peserta perlu membaca label, termasuk aturan pakai, komposisi, dan peringatan yang tertera pada kemasan.

Pemeriksaan izin edar juga menjadi bagian penting. Masyarakat diimbau memastikan produk memiliki nomor izin edar yang jelas. Selain itu, tanggal kedaluwarsa harus diperiksa sebelum produk dibeli maupun dikonsumsi.

Edukasi Berlangsung Hangat dan Interaktif

Penyuluhan yang berlangsung di lingkungan pemukiman warga tersebut berjalan dinamis dan interaktif. Peserta aktif memperhatikan materi, bertanya, serta berbagi pengalaman mengenai penggunaan obat herbal di keluarga.

Untuk menunjang kegiatan, mahasiswa juga menyediakan fasilitas skrining fisik dasar berupa cek tekanan darah gratis. Layanan ini diberikan sebagai langkah sederhana untuk membantu mendeteksi dini risiko hipertensi pada lansia.

Suasana edukasi dibuat santai melalui diskusi kelompok kecil, pembagian makanan ringan, serta pemberian suvenir berupa centong nasi sebagai bentuk apresiasi kepada peserta. Pendekatan humanis tersebut membuat kegiatan terasa lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.

Melalui transfer pengetahuan farmakologi yang terstruktur, Kelompok 4 Keperawatan VOKASI UNAIR berharap kegiatan ini dapat mencetak keluarga yang lebih cerdas obat di Desa Ketapang Lor. Edukasi ini juga diharapkan mendukung terwujudnya masyarakat desa yang lebih mandiri, sehat, dan bijak dalam menggunakan obat bahan alam.

[BACA JUGA: Tiga Bulan di IHC RS Lavalette, Mahasiswa TLM Unair Dapatkan Pengalaman Kerja Nyata dan Pembelajaran Berharga]

Penulis: Siti Muzdalifah

Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)