Edukasi Skabies di Pesantren, Mahasiswa Keperawatan VOKASI UNAIR Perkuat Kesadaran Santri

VOKASI NEWS – Mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan VOKASI UNAIR melaksanakan edukasi kesehatan mengenai pencegahan skabies kepada remaja di Pondok Pesantren Darut Taqwa 3, Kebomas, Gresik. Kegiatan tersebut berlangsung pada 2 Oktober 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Project Keperawatan Medikal Bedah. Edukasi mengangkat tema “Pencegahan Penyakit Kulit: Skabies pada Remaja di Pondok Pesantren Darut Taqwa 3, Kebomas, Gresik”. Kegiatan dilaksanakan oleh mahasiswa kelompok 4 kelas GR-3A dengan dosen pengampu Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.M.B. Sebanyak 25 remaja atau santri mengikuti edukasi tersebut.

Pemilihan santri sebagai sasaran kegiatan didasarkan pada pentingnya pemahaman mengenai kesehatan kulit dan pencegahan skabies di lingkungan pesantren. Hunian yang padat serta aktivitas bersama antarsantri menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam pencegahan penularan.

Ketua Pelaksana Koordinasikan Persiapan Kegiatan

Dalam kegiatan tersebut, Rahma Fitria Anifa Muazaroh dipercaya sebagai Ketua Pelaksana. Perannya mencakup koordinasi tim sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Rahma bertanggung jawab memastikan setiap anggota memahami tugas masing-masing. Pembagian tugas dilakukan agar seluruh kebutuhan kegiatan dapat dipersiapkan sebelum hari pelaksanaan.

Tim dibagi ke dalam beberapa bagian. Pembagian tersebut meliputi acara, publikasi dan dokumentasi, perlengkapan, konsumsi, hubungan masyarakat dan perizinan, serta sekretariat dan bendahara. Koordinasi juga dilakukan dengan pihak yang terlibat dalam kegiatan. Komunikasi tersebut bertujuan menyesuaikan pelaksanaan edukasi dengan kondisi di lapangan.

Pembagian tugas tidak hanya bertujuan membagi pekerjaan. Setiap anggota juga memiliki tanggung jawab yang jelas. Dengan koordinasi sejak awal, seluruh anggota dapat saling mendukung selama kegiatan berlangsung.

Edukasi Skabies Dilakukan secara Interaktif

Rangkaian edukasi dimulai dengan registrasi peserta dan pembukaan. Mahasiswa kemudian menyampaikan tujuan kegiatan kepada para santri. Sebelum materi diberikan, peserta mengikuti pre-test. Tahap ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman awal peserta mengenai skabies.

Mahasiswa kemudian memberikan edukasi kesehatan secara langsung kepada para santri. Materi mencakup pengertian dan penyebab skabies, tanda dan gejala, cara penularan, faktor risiko, pencegahan, serta penanganannya. Peserta mendapatkan penjelasan bahwa skabies atau kudis merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah rasa gatal yang intens, terutama pada malam hari.

Mahasiswa juga menjelaskan cara penularan skabies. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung atau penggunaan barang pribadi secara bersama-sama. Para santri diajak memperhatikan kebiasaan sehari-hari. Mereka diberikan pemahaman untuk tidak berbagi pakaian, handuk, selimut, dan perlengkapan pribadi lainnya.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan faktor risiko dan langkah pencegahan. Mahasiswa menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Perawatan pakaian serta perlengkapan pribadi juga menjadi bagian dari materi. Peserta diajak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai salah satu upaya mencegah penularan skabies.

Diskusi dan Evaluasi Lengkapi Edukasi

Sesi edukasi tidak hanya berisi penyampaian materi. Mahasiswa juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan. Media edukasi berupa leaflet dan banner digunakan untuk membantu peserta memahami informasi mengenai skabies. Media tersebut menjadi pendukung selama proses penyampaian materi.

Setelah sesi edukasi dan diskusi selesai, peserta mengikuti post-test. Evaluasi ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk melihat pemahaman peserta setelah mendapatkan materi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan evaluasi, penyampaian kesimpulan, dan dokumentasi bersama. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang berlangsung pada pukul 15.30–17.00 WIB.

Koordinasi Tim Berlanjut hingga Lapangan

Koordinasi menjadi bagian penting selama pelaksanaan kegiatan. Rahma sebagai Ketua Pelaksana memastikan setiap anggota menjalankan tugas sesuai pembagian yang telah disepakati. Siti Haliza Putri dan Salwa Putri Rahmadani bertanggung jawab pada bagian acara. Aidah Suroyya menangani publikasi dan dokumentasi. Rizky Kusuma bertugas pada bagian perlengkapan.

Siti Muberokah bertanggung jawab terhadap konsumsi. Silfia Nur Azizah menangani hubungan masyarakat dan perizinan. Sementara itu, Nabilla Ary Surya Wijaya bertugas pada bagian sekretariat dan bendahara. Selama kegiatan berlangsung, koordinasi dilakukan agar setiap rangkaian berjalan secara berurutan. Ketika terdapat kebutuhan di lapangan, anggota saling membantu dan menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi peserta.

Bagi seorang Ketua Pelaksana, koordinasi tidak berhenti pada tahap persiapan. Komunikasi antaranggotanya juga perlu dijaga selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut menjadi salah satu bagian penting untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai tujuan. Kerja sama tim juga membantu setiap bagian menjalankan tugasnya secara optimal.

Edukasi Skabies Jadi Penerapan Ilmu Keperawatan

Edukasi skabies menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu keperawatan dalam aspek promotif dan preventif. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan informasi mengenai penyakit. Mereka juga mengajak peserta memahami kebiasaan sehari-hari yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit. Materi mengenai kebersihan diri, kebersihan lingkungan, cara penularan, dan pencegahan menjadi bagian dari edukasi.

BACA JUGA: Renogram X Radjar: Aksi Nyata Mahasiswa UNAIR di Desa Jembul

Melalui kegiatan tersebut, para santri diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan tempat tinggal. Bagi Rahma, kegiatan ini juga menjadi pengalaman dalam mengelola kegiatan secara langsung. Ia terlibat dalam proses persiapan, koordinasi anggota, komunikasi dengan pihak terkait, hingga memastikan kegiatan berjalan di lapangan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan membutuhkan kerja sama dari seluruh anggota. Setiap bagian memiliki peran yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan kegiatan. Pada akhirnya, edukasi pencegahan skabies tidak hanya menjadi sarana meningkatkan pengetahuan para santri. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu keperawatan, mengembangkan kemampuan komunikasi, dan belajar mengelola kegiatan di masyarakat.

***

Penulis: Rahma Fitria Anifa Muazaroh

Pembimbing: Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.M.B

Editor: Alkeshar (Tim Vokasi Branding)