Edukasi SLE: Tingkatkan Pengetahuan Masyarakat Lamongan tentang Penyakit Lupus

Mahasiswa D-III Keperawatan Vokasi UNAIR memberikan edukasi SLE kepada masyarakat di Lamongan.

VOKASI NEWS — Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus merupakan penyakit autoimun kronis. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Akibatnya, lupus dapat memengaruhi kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf. Gejalanya pun beragam pada setiap orang sehingga masyarakat perlu mengenalinya sejak dini (Dai dkk., 2025).

Kurangnya pengetahuan tentang lupus dapat membuat masyarakat sulit mengenali gejalanya. Padahal, penyakit ini melibatkan berbagai faktor. Beberapa di antaranya ialah faktor genetik, lingkungan, hormonal, dan gangguan regulasi sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, penderita memerlukan pemeriksaan, pengobatan, dan pemantauan secara berkala (Ahmed dkk., 2025; Su dkk., 2024).

Untuk meningkatkan pemahaman tersebut, mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga mengadakan kegiatan edukasi kesehatan. Kegiatan ini mengangkat tema “Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Mengenali Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)”. Mahasiswa melaksanakan kegiatan pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 09.00 WIB, di Dusun Bulugondang RT 02/RW 01, Desa Bulumargi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.

Edukasi SLE untuk Mengenali Gejala dan Deteksi Dini

Dalam kegiatan ini, mahasiswa menjelaskan pengertian SLE dan kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh. Peserta juga mempelajari faktor penyebab dan pemicu penyakit lupus. Selain itu, materi mencakup tanda dan gejala, organ tubuh yang dapat terdampak, serta pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis.

Mahasiswa turut menjelaskan pilihan pengobatan dan cara mencegah kekambuhan. Mereka menggunakan standing banner dan leaflet sebagai media edukasi. Dengan demikian, peserta dapat mengikuti materi sekaligus membaca kembali informasi penting melalui media tersebut.

Gejala SLE dapat berbeda pada setiap orang. Bahkan, faktor lingkungan juga dapat memengaruhi aktivitas dan perkembangan penyakit. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan gejala yang muncul berulang atau berlangsung lama. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan (Su dkk., 2024; Dai dkk., 2025).

Selain mengenali gejala, masyarakat perlu memahami pentingnya mengikuti pengobatan. Penderita juga perlu memantau kondisi kesehatannya secara berkala. Langkah tersebut membantu pengelolaan penyakit dan pencegahan kekambuhan. Dengan pemahaman ini, masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi gejala yang mengarah pada SLE.

Hasil Evaluasi Menunjukkan Peningkatan Pengetahuan Masyarakat

Mahasiswa mengawali kegiatan dengan registrasi peserta dan pemeriksaan kesehatan gratis. Selanjutnya, peserta mengerjakan pre-test untuk mengukur pemahaman awal tentang SLE. Hasil tes ini menjadi gambaran pengetahuan peserta sebelum mengikuti edukasi.

Setelah itu, mahasiswa menyampaikan materi dan membuka sesi tanya jawab. Peserta juga mengikuti post-test untuk mengukur pemahaman setelah edukasi. Agar suasana lebih interaktif, panitia mengadakan kuis dan ice breaking. Kegiatan kemudian berlanjut dengan pembagian doorprize dan penutupan.

Sebanyak 25 orang mengikuti kegiatan ini. Hasil pre-test menunjukkan bahwa 17 peserta atau 68% memiliki pengetahuan dalam kategori baik. Sementara itu, 8 peserta atau 32% berada dalam kategori cukup. Hasil tersebut menunjukkan kondisi pemahaman peserta sebelum edukasi.

Setelah edukasi, jumlah peserta dalam kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 21 orang atau 84%. Sebaliknya, jumlah peserta dalam kategori cukup turun menjadi 4 orang atau 16%. Dengan demikian, kategori pengetahuan baik mengalami peningkatan sebesar 16 poin persentase. Hasil ini menunjukkan perubahan distribusi kategori pengetahuan peserta setelah mengikuti edukasi. Edukasi kesehatan secara berkelanjutan juga dapat mendukung peningkatan pengetahuan masyarakat (Moulaei dkk., 2022).

Membangun Kesadaran Masyarakat terhadap Penyakit Lupus

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat semakin mengenal penyakit SLE. Pengetahuan tersebut penting agar masyarakat lebih peka terhadap perubahan kondisi kesehatan. Terlebih lagi, gejala lupus dapat berbeda pada setiap orang. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memperhatikan gejala yang muncul secara berulang.

Jika mengalami gejala yang mengarah pada SLE, masyarakat perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan medis membantu tenaga kesehatan menentukan diagnosis dan penanganan yang sesuai. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengandalkan dugaan berdasarkan gejala yang dirasakan.

Di samping deteksi dini, kepatuhan terhadap pengobatan juga berperan penting dalam pengelolaan SLE. Penderita perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan dan memantau kondisi tubuh secara berkala. Langkah tersebut membantu mengendalikan penyakit serta mengurangi risiko kekambuhan.

Kegiatan edukasi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat. Melalui penyampaian informasi secara langsung, mahasiswa berharap peserta semakin memahami lupus. Pada akhirnya, masyarakat diharapkan mampu mengenali gejala dan memahami pentingnya pemeriksaan sejak dini.

[BACA JUGA: Tax Employment Visit 2026: Sustainable Growth How to Survive the Era of Instant Trends]

***

Penulis: Mahmudhotin Anifah

Dosen Pembimbing: Fanni Okviasanti

Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)

Bagikan Berita

● HUMAS & MEDIA

Kontak Media

Untuk konfirmasi berita, wawancara, dan kebutuhan liputan, hubungi tim Humas.

Permohonan Publikasi

Ajukan publikasi kegiatan, prestasi, atau informasi Fakultas Vokasi melalui tautan berikut.