VOKASI NEWS — Tren healing semakin populer di kalangan Generasi Z sebagai cara menjaga kesehatan mental, namun efektivitasnya bergantung pada bagaimana seseorang memaknai dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, menjaga kesehatan mental menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting dibandingkan menjaga kesehatan fisik. Berbagai tekanan akademik, pekerjaan, hingga dinamika kehidupan sosial sering kali memengaruhi kondisi emosional seseorang, terutama pada generasi muda. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, muncul tren healing yang semakin populer di kalangan Generasi Z.
Healing tidak hanya berarti berlibur atau rekreasi. Istilah ini juga dapat dimaknai sebagai upaya memulihkan keseimbangan emosi dan mental. Bentuknya bisa berupa traveling, self-care, meditasi, atau menikmati waktu di alam terbuka (Iskandar, 2025). Namun, popularitas healing yang terus meningkat memunculkan pertanyaan penting. Apakah healing benar-benar menjadi solusi bagi kesehatan mental? Atau, justru hanya memberi ilusi ketenangan yang bersifat sementara?
Healing atau Ilusi Semata?
Pada dasarnya, healing merupakan salah satu cara yang dapat membantu seseorang mengelola stres, memahami diri sendiri dengan lebih baik, serta memperbaiki kondisi emosional melalui proses regulasi emosi yang sehat. Jika dilakukan secara tepat, healing dapat memberikan berbagai manfaat, seperti mengurangi tingkat stres dan kecemasan, memulihkan energi serta konsentrasi, menjaga kesehatan mental, hingga meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup (Iskandar, 2025).
Namun, di balik manfaatnya, healing juga dapat berubah menjadi ilusi apabila dimaknai secara keliru. Tidak sedikit orang yang menjadikan healing sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab, menunda pekerjaan, atau melarikan diri dari masalah yang seharusnya diselesaikan. Selain itu, tren healing yang berkembang di media sosial sering kali mendorong perilaku konsumtif akibat keinginan untuk mengikuti gaya hidup tertentu atau rasa takut tertinggal dari orang lain (fear of missing out atau FOMO).
Akibatnya, healing yang seharusnya menjadi sarana pemulihan justru dapat menimbulkan masalah baru, seperti pemborosan finansial, ketergantungan pada hiburan atau liburan sebagai pelarian, serta kebutuhan akan validasi dari media sosial. Kondisi ini menyebabkan rasa nyaman yang diperoleh hanya bersifat sementara, sementara sumber stres yang sebenarnya tetap tidak terselesaikan (Agustin et al., 2025).
Cara Melakukan Healing yang Bijak
Lantas, bagaimana cara melakukan healing yang bijak agar tidak sekadar menjadi pelarian dari masalah, melainkan benar-benar membantu menjaga kesehatan mental?
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membedakan antara kebutuhan untuk beristirahat dan kecenderungan untuk menghindari masalah. Seseorang perlu mengenali sumber stres yang dihadapi. Refleksi diri juga penting untuk memahami kebutuhan diri. Dengan cara ini, seseorang dapat mengetahui apakah dirinya membutuhkan waktu pemulihan atau sedang menunda penyelesaian masalah.
Healing seharusnya menjadi sarana untuk memulihkan energi dan emosi, bukan alat untuk menutupi atau melarikan diri dari masalah. Aktivitas sederhana dapat menjadi alternatif yang efektif. Contohnya, berjalan santai di ruang terbuka, berolahraga, membaca buku, menjalankan hobi, melakukan teknik relaksasi, atau bermeditasi. Kegiatan tersebut juga tidak memerlukan biaya besar.
Di era digital, penggunaan media sosial yang bijak juga menjadi bagian penting dari proses healing. Terlalu sering melihat unggahan tentang liburan atau gaya hidup orang lain dapat memunculkan rasa tidak puas. Hal ini juga dapat mendorong seseorang untuk terus membandingkan diri. Oleh karena itu, waktu penggunaan media sosial perlu dibatasi.
Fokus pada kebutuhan diri sendiri juga dapat membantu menjaga kesehatan mental. Selain itu, pola tidur yang cukup tetap perlu dijaga. Meluangkan waktu untuk diri sendiri juga penting. Dukungan dari keluarga, teman, maupun tenaga profesional dapat dicari ketika diperlukan (Putri & Hidayah, 2024).
Membangun Ketahanan Mental yang Berkelanjutan
Healing tidak hanya menjadi aktivitas sesaat untuk memperoleh kenyamanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan mental yang berkelanjutan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa healing dapat menjadi solusi maupun ilusi, tergantung pada bagaimana seseorang memaknai dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Healing dapat bermanfaat bagi kesehatan mental.
Hal ini terjadi jika healing dilakukan untuk memulihkan diri dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Namun, apabila hanya digunakan sebagai pelarian tanpa menyelesaikan akar permasalahan, healing berisiko menjadi ilusi yang memberikan ketenangan sementara.
[BACA JUGA: Dosis Obat Cair yang Terlihat Sederhana Menyimpan Risiko Kesalahan Fatal]
Penulis: Cenny Armelia Putri
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



