Hubungan Kematangan Budaya Keselamatan dengan Kinerja Pekerja di Sektor Pembangkit Listrik

Ilustrasi budaya keselamatan kerja pada sektor pembangkit listrik berdasarkan hasil penelitian mahasiswa

VOKASI NEWS – Kecelakaan kerja masih menjadi masalah besar di banyak industri, terutama pada sektor yang memiliki risiko tinggi, seperti pembangkitan tenaga listrik. Menurut International Labour Organization (ILO, 2018), lebih dari 2,78 juta pekerja meninggal akibat penyakit dan kecelakaan kerja setiap tahun. Sementara itu, BPJS Ketenagakerjaan (2024) mencatat lebih dari 300 ribu kasus kecelakaan kerja terjadi setiap tahun di Indonesia. Trennya juga terus meningkat pada sektor konstruksi, manufaktur, serta pertambangan. Data tersebut menunjukkan bahwa peraturan dan praktik formal keselamatan belum cukup untuk menekan angka kecelakaan kerja.

Berangkat dari kondisi tersebut, Della Ayu Putri Alifiyah, mahasiswa Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, mengangkat Safety Culture Maturity Level (SCML) sebagai topik skripsinya. Melalui penelitian berjudul “Analisis Safety Culture Maturity Level dan Kinerja Keselamatan Kerja pada PT X”, Della bertujuan mengidentifikasi hubungan antara tingkat kematangan budaya keselamatan perusahaan pembangkit listrik dengan kinerja keselamatan para pekerjanya.

Metode dan Sasaran Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan deskriptif analitik terhadap 135 pekerja PT X yang dipilih melalui teknik Simple Random Sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SCML yang terdiri atas 13 elemen budaya keselamatan. Elemen tersebut mencakup komitmen manajemen hingga pengelolaan risiko dan bahaya.

Kinerja keselamatan kerja diukur melalui dua dimensi, yaitu kepatuhan terhadap prosedur (safety compliance) dan keterlibatan aktif pekerja dalam kegiatan keselamatan (safety participation). Selanjutnya, peneliti menganalisis data menggunakan distribusi frekuensi, tabulasi silang, uji Chi-Square, serta Fisher-Freeman-Halton Exact Test untuk mengetahui hubungan antarvariabel.

Temuan Utama di Lapangan

Skor rata-rata SCML PT X berada pada angka 3,68 sehingga menempatkan perusahaan pada level Compliant. Level ini menunjukkan bahwa perusahaan telah mematuhi regulasi keselamatan. Namun, budaya keselamatan belum sepenuhnya menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari pekerja. Elemen Risks and Hazards Management memperoleh tingkat kematangan tertinggi. Sebaliknya, elemen Training and Competency masih menjadi aspek dengan tingkat kematangan paling rendah.

Kinerja keselamatan kerja secara keseluruhan berada pada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 4,17. Nilai safety compliance (4,28) juga lebih tinggi dibandingkan safety participation (4,05). Temuan tersebut menunjukkan bahwa pekerja telah mampu mematuhi prosedur keselamatan dengan baik. Meskipun demikian, keterlibatan aktif dalam kegiatan keselamatan masih dapat terus ditingkatkan.

Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara SCML dan kinerja keselamatan kerja (p=0,046). Hubungan signifikan juga ditemukan pada jenis kelamin (p=0,023) dan usia pekerja (p<0,001). Sementara itu, masa kerja tidak terbukti berhubungan secara signifikan dengan kinerja keselamatan (p=0,151). Temuan ini mengindikasikan bahwa lamanya seseorang bekerja tidak secara otomatis menjamin perilaku kerja yang lebih aman.

Rekomendasi bagi Perusahaan

“Perusahaan sudah cukup baik dalam mengelola risiko dan bahaya di lapangan, tetapi pelatihan dan pengembangan kompetensi keselamatan pekerja masih perlu mendapat perhatian lebih besar,” ujar Della saat menjelaskan temuan skripsinya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Della menyarankan PT X menyusun jadwal pelatihan keselamatan kerja secara berkelanjutan bagi setiap unit kerja. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah menerapkan Training Need Analysis (TNA) sebagai dasar penyusunan program pelatihan. Selain itu, sesi berbagi hasil investigasi insiden maupun near miss disarankan menjadi bagian tetap dari Toolbox Meeting harian. Dengan cara tersebut, pembelajaran dari setiap insiden dapat tersampaikan secara langsung kepada seluruh tim kerja. Program tahunan seperti Bulan K3 dan Benchmark juga dapat dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi capaian pelatihan, bukan sekadar ajang sosialisasi maupun kampanye penggunaan alat pelindung diri.

Penguatan budaya keselamatan tidak cukup berhenti pada kepatuhan terhadap prosedur. Keterlibatan aktif seluruh pekerja lintas usia dan lintas unit kerja tetap dibutuhkan agar kinerja keselamatan dapat terus meningkat secara berkelanjutan di sektor pembangkitan tenaga listrik.

[BACA JUGA: Keterbatasan Alat Bukan Hambatan: Phased Array Torso Coil sebagai Alternatif MRI Lutut]

***
Penulis: Della Ayu Putri Alifiyah

Pembimbing: Tofan Agung Eka Prasetya

Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)