VOKASI NEWS – Mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan mengenai penggunaan antibiotik yang tepat kepada warga di Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo Gang X1 G2 No. 14, RT 01/RW 04, Kelurahan Dahanrejo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, pada Jumat (1/5/2026).
Edukasi Penggunaan Antibiotik yang Tepat kepada Masyarakat
Kegiatan yang berlangsung pukul 16.00–17.00 WIB ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang benar agar terhindar dari kesalahan penggunaan obat yang dapat berdampak pada kesehatan. Edukasi dilakukan melalui penyuluhan dan diskusi interaktif menggunakan leaflet serta papan obat sebagai media pembelajaran. Selain itu, warga juga mengikuti pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman setelah kegiatan berlangsung.
Penggunaan antibiotik yang kurang tepat masih sering ditemukan di masyarakat. Tidak sedikit orang yang langsung mengonsumsi antibiotik, seperti amoksisilin, ketika mengalami batuk, pilek, atau demam. Padahal, tidak semua penyakit tersebut disebabkan oleh infeksi bakteri sehingga tidak selalu memerlukan antibiotik sebagai pengobatan. Kesalahpahaman ini dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidak rasional dan meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan di kemudian hari.
Pentingnya Penggunaan Antibiotik Secara Rasional
Untuk membantu meningkatkan pemahaman masyarakat, mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Airlangga mengadakan kegiatan penyuluhan yang dikemas dengan santai dan tidak kaku. Materi disampaikan menggunakan papan obat dan leaflet agar warga lebih mudah memahami informasi yang diberikan. Selama kegiatan berlangsung, warga tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai penggunaan obat yang biasa dilakukan di rumah.
Dalam penyuluhan, mahasiswa menjelaskan bahwa antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik bekerja dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Namun, antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu, pilek, maupun sebagian besar kasus batuk biasa. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik harus sesuai dengan indikasi dan anjuran tenaga kesehatan.
Selain menjelaskan fungsi antibiotik, mahasiswa juga membahas beberapa kesalahan penggunaan antibiotik yang masih sering terjadi. Salah satunya adalah menghentikan konsumsi antibiotik ketika gejala penyakit mulai membaik meskipun obat belum habis. Ada pula kebiasaan menyimpan sisa antibiotik untuk digunakan kembali saat sakit di kemudian hari. Tidak jarang masyarakat juga memberikan sisa antibiotik kepada anggota keluarga lain yang mengalami gejala serupa. Padahal, tindakan tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.
Mahasiswa juga mengenalkan istilah resistensi antibiotik kepada warga. Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik akibat penggunaan tidak tepat atau berlebihan. Kondisi ini menyebabkan antibiotik yang sebelumnya efektif menjadi tidak lagi mampu mengatasi infeksi. Akibatnya, proses pengobatan menjadi lebih sulit, membutuhkan obat yang lebih kuat, dan dapat meningkatkan risiko komplikasi penyakit. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik harus dilakukan secara bijak sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Mencegah Resistensi Antibiotik melalui Edukasi Kesehatan
Selama kegiatan berlangsung, warga menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap materi yang disampaikan. Banyak warga yang mengaku baru mengetahui bahwa flu dan pilek umumnya tidak memerlukan antibiotik. Pada sesi diskusi, beberapa warga juga mengajukan pertanyaan mengenai antibiotik yang pernah mereka konsumsi, termasuk mengenai alasan antibiotik harus dihabiskan serta bahaya penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai penggunaan antibiotik masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami fungsi antibiotik dan menggunakannya dengan benar sesuai anjuran tenaga kesehatan. Dengan begitu, penggunaan antibiotik secara sembarangan dapat dihindari sehingga risiko resistensi antibiotik dapat berkurang.
[BACA JUGA: Mahasiswa D-III Keperawatan UNAIR Edukasi Penggolongan Obat kepada Ibu PKK Desa Tanjungsari]
Penulis: Cantika Pemata Ramadhani
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



