Kampung Lawas Maspati: Museum Hidup dan Laboratorium Pemberdayaan di Jantung Surabaya

VOKASI NEWS – Kampung Lawas Maspati merupakan kawasan permukiman Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, ekonomi warga, dan kepedulian lingkungan perkotaan.

Surabaya identik dengan hiruk-pikuk kota metropolitan yang padat. Namun, tepat di balik gedung-gedung tinggi, terdapat sebuah lorong waktu bernama Kampung Lawas Maspati. Bagi mahasiswa, Maspati tidak hanya menjadi objek fotografi, tetapi ruang pembelajaran hidup yang menyatukan sejarah dan kreativitas masa kini. Berbicara tentang Maspati berarti berbicara tentang identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Nilai sejarah di kampung ini bukan sekadar cerita di buku teks, melainkan sesuatu yang “bernyawa”.

Ruang Hidup Sejarah

Di sinilah jejak perjuangan peristiwa 10 November masih terasa kental. Bahkan, hingga saat ini kita masih bisa menemui beberapa warga senior yang merupakan pelaku sejarah atau keturunan langsung dari para pejuang yang dulu mempertahankan kemerdekaan dari gang-gang sempit ini. Secara visual, sejarah tersebut terekam melalui bangunan-bangunan ikonik yang masih berdiri kokoh. Kita bisa menemukan Rumah Kolonial dengan karakteristik bangunan tinggi dan pintu besar yang khas, serta bangunan Sekolah Rakyat yang menjadi monumen perjuangan literasi warga lokal di masa lampau.

Ekonomi Warga

Salah satu peninggalan yang paling otentik adalah sumur kuno peninggalan zaman Belanda yang hingga kini masih terjaga sebagai sumber mata air bagi warga sekitar. Keunggulan Maspati yang paling menonjol di mata generasi muda adalah kemandirian ekonominya. Warga tidak hanya berdiam diri meratapi bangunan tua, mereka mengelola potensi lokal menjadi daya tarik wisata. Maspati sukses menciptakan branding melalui produk olahan khas seperti sirup markisa dan minuman herbal jamur yang merupakan hasil budidaya mandiri.

Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan di tengah kota bukanlah penghalang untuk produktif secara agraris dan ekonomi. Selain sejarah dan kuliner, Maspati adalah percontohan nyata untuk urban farming dan manajemen limbah. Di tengah padatnya pemukiman, mata kita akan dimanjakan oleh lorong-lorong sempit yang asri, penuh dengan tanaman hijau yang dikelola dengan sistem pengairan mandiri. Tak berhenti di situ, kesadaran lingkungan warga tercermin dari pengolahan limbah plastik.

Mereka menyulap sampah yang dulunya tidak bernilai menjadi kerajinan tangan estetis yang memiliki nilai jual. Inilah esensi dari sustainable living (hidup berkelanjutan) yang sebenarnya, yang dilakukan langsung oleh masyarakat akar rumput. Kampung Lawas Maspati adalah bukti bahwa kemajuan kota tidak harus menghancurkan akar sejarah. Sebagai mahasiswa, kegiatan dokumentasi dan riset di Maspati menghadirkan perspektif bahwa kampung tetap relevan melalui kreativitas dan penghormatan sejarah.

Maspati bukan sekadar kampung yang “lawas”, ia adalah kampung yang “abadi”.

[BACA JUGA: Pencegahan Terjadinya Gigi Berjejal (Crowding) Pada Anak Menggunakan Peranti Lingual Arch Space Maintainer]

***

Penulis: Ainnur Nurinaahman