Mengukur Glukosa Darah: Boleh Mandiri, Namun Harus Tetap Terarah

VOKASI NEWS – Sebuah penelitian mahasiswa D-IV Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Aisha Syamsa Hawwa, mengulas keandalan Point of Care Testing (PoCT) dalam memantau kadar glukosa darah secara mandiri dibandingkan dengan standar baku laboratorium.

Point of Care Testing untuk Self Monitoring

Bagi penderita diabetes melitus, menusuk ujung jari untuk pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri barangkali sudah menjadi rutinitas yang lekat. Metode ini dikenal dengan istilah Point of Care Testing (PoCT), menggunakan alat ukur portable yang mampu memberikan hasil dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan dan kepraktisannya, sering muncul pertanyaan klasik sekaligus penting. Apakah perangkat ini benar-benar dapat diandalkan bila dibandingkan dengan instrumen laboratorium yang menjadi standar baku?

Diabetes melitus saat ini telah menjadi salah satu tantangan kesehatan global. Kondisi ini menuntut adanya kedisiplinan yang ketat dalam memantau kadar glukosa darah puasa. Penerapan Point of Care Testing memungkinkan siapa saja mengukur glukosa darah secara mandiri hanya dengan satu tusukan kecil di ujung jari. Meskipun mudah dan praktis, hasil pengukuran glukosa darah pada PoCT harus dievaluasi. Bagi tenaga medis, keputusan yang diambil untuk menentukan tindakan klinis terhadap pasien adalah prioritas. Oleh karena itu, pengujian performa perangkat tersebut perlu ditinjau untuk mengetahui sejauh mana kesesuaian antara PoCT terhadap standar baku.

Kesesuaian dengan Standar Baku Laboratorium

Berbekal antusiasme dan integritas yang nyata, sebuah penelitian dilakukan untuk menganalisis kesesuaian hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa. Studi ini mempertemukan kepraktisan PoCT mandiri dengan alat otomatis (automated analyzer) milik Rumah Sakit Universitas Airlangga. Adapun rangkaian uji yang digunakan untuk mendukung penelitian ini meliputi Korelasi Spearman, Analisis Bland-Altman, Regresi Passing Bablok, dan Clarke Error Grid. Masing-masing berperan untuk membuktikan keandalan PoCT dalam mengukur glukosa darah puasa, sekaligus menguji kelayakannya di hadapan standar laboratorium yang utama.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya korelasi kuat yang searah antara PoCT dengan alat otomatis. Selisih hasil pengukuran kadar glukosa darah puasa metode PoCT menampilkan angka yang sedikit lebih tinggi dibanding alat otomatis. Namun, selisih tersebut tidak signifikan secara statistik, sehingga kedua metode dapat dikatakan cukup sejalan. Konfirmasi ini diperkuat dengan analisis regresi yang menyatakan tidak terdapat penyimpangan sistematis, artinya PoCT memiliki keselarasan baik terhadap alat otomatis.

Bagian paling relevan dan krusial dari penelitian ini terletak pada analisis klinis Clarke Error Grid. Metode ini menilai dampak medis secara nyata. Penelitian ini menemukan bahwa persentase kesesuaian klinis metode PoCT memenuhi kriteria minimal (≥95%). Angka ini berarti hasil pengukuran kadar glukosa darah antara kedua metode merepresentasikan kondisi glikemik serupa. Hal ini menandakan bahwa perbedaan numerik minor pada PoCT dan alat otomatis tidak akan menggeser arah keputusan terapi dokter. Dengan demikian, perangkat ini tetap aman digunakan secara praktis bagi penderita diabetes melitus.

Clinical Perspective untuk Safe Effective

Meskipun demikian, studi ini mencatat adanya satu outlier (data pencilan) yang berada di luar zona aman Clarke Error Grid. Keberadaan outlier tersebut menunjukkan kegagalan PoCT dalam mendeteksi hipoglikemia. Pada kasus ini, alat otomatis menampilkan kondisi kritis yang nyata, sedangkan PoCT justru memperlihatkan hasil pengukuran normoglikemia. Temuan ini menjadi alarm pengingat bahwa PoCT tetap memiliki keterbatasan pada kondisi klinis tertentu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa PoCT terbukti cukup andal untuk pemantauan glukosa darah dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, PoCT belum cukup andal untuk keperluan diagnosis yang memerlukan presisi dan akurasi analitis tinggi.

[BACA JUGA: Rancang Bangun Sistem Injeksi Kontras Semi-Otomatis Berbasis Mikrokontroler untuk Optimalisasi Flow Rate dan Volume pada Pemeriksaan MRI Dynamic]

Penulis: Aisha Syamsa Hawwa

Pembimbing: Taufiqurrahman Sidqi, Amalia Ajrina, Nur Septia Handayani, Anita Kurniati

Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)