Keseimbangan Statis Lansia Laki-Laki dan Perempuan: Adakah Perbedaan?

VOKASI NEWS – Gangguan keseimbangan menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami oleh kelompok lanjut usia. Data global mencatat bahwa jatuh merupakan penyebab utama cedera pada lansia, dengan sekitar 25% kasus berhubungan langsung dengan gangguan keseimbangan. Di Indonesia, prevalensi gangguan keseimbangan pada lansia mencapai angka 63,8% hingga 68,7%. Kondisi ini meningkatkan risiko cedera serius, disabilitas permanen, hingga kematian.

Tubuh manusia mempertahankan keseimbangan melalui integrasi tiga sistem sensorik utama, yaitu sistem visual, sistem vestibular, dan sistem somatosensorik atau proprioseptif. Seiring bertambahnya usia, ketiga sistem ini mengalami penurunan fungsi secara bertahap. Penurunan massa dan kekuatan otot akibat sarkopenia juga memperburuk kemampuan tubuh dalam menjaga stabilitas postur. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat lansia jauh lebih rentan mengalami jatuh dibandingkan kelompok usia muda.

Peran Jenis Kelamin dalam Keseimbangan

Perbedaan anatomi dan fisiologi antara laki-laki dan perempuan secara teoritis memberikan pengaruh terhadap kemampuan keseimbangan. Perempuan memiliki panggul lebih lebar sehingga menghasilkan Q-angle yang lebih besar dan pusat gravitasi yang lebih rendah. Secara teori, pusat gravitasi yang lebih rendah seharusnya memberikan stabilitas statis lebih baik, namun Q-angle yang besar dapat memengaruhi distribusi beban saat bergerak. Perbedaan ini membuat kajian keseimbangan berdasarkan jenis kelamin menjadi topik yang relevan untuk diteliti.

Lansia perempuan mengalami penurunan hormon estrogen yang lebih cepat setelah menopause, yang mempercepat kehilangan massa tulang dan otot. Kondisi ini secara langsung memengaruhi fungsi sistem proprioseptif dan vestibular yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan. Lansia laki-laki mengalami penurunan hormon testosteron yang lebih lambat sehingga kekuatan otot dapat dipertahankan dalam jangka waktu lebih lama. Perbedaan hormonal ini secara teoritis membuat laki-laki memiliki respons postural yang lebih baik dibandingkan perempuan.

Metode Penelitian dengan Romberg Test

Penelitian dilakukan di Klinik Asy-Syifa Husada, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, dengan melibatkan peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS). Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 38 lansia berusia 60 tahun ke atas berpartisipasi, terdiri dari 19 laki-laki dan 19 perempuan dengan jumlah yang seimbang. Keseimbangan statis diukur menggunakan Romberg Test pada kondisi mata terbuka dan mata tertutup, masing-masing selama 30 detik. Tes dinyatakan positif apabila lansia tidak mampu mempertahankan keseimbangan selama 30 detik penuh.

Tidak Ada Perbedaan Signifikan

Pada kondisi mata terbuka, seluruh 38 responden atau 100% mampu mempertahankan keseimbangan dengan hasil negatif. Hal ini terjadi karena sistem visual berfungsi sebagai pengontrol utama yang membantu tubuh mengenali posisi terhadap lingkungan sekitar. Pada kondisi mata tertutup, sebanyak 7 responden (18,4%) mengalami gangguan keseimbangan dengan proporsi lebih tinggi pada perempuan (26,3%) dibandingkan laki-laki (10,5%). Gangguan yang tercatat meliputi sway ke arah posterior, anterior, dan membuka mata saat kondisi mata tertutup.

Berdasarkan uji Fisher’s Exact Test, diperoleh nilai p = 0,405 yang berarti tidak terdapat perbedaan signifikan keseimbangan statis antara lansia laki-laki dan perempuan. Nilai odds ratio sebesar 0,329 menunjukkan bahwa laki-laki cenderung lebih rendah mengalami gangguan keseimbangan dibandingkan perempuan. Tidak adanya perbedaan signifikan ini diduga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan responden yang homogen dan jumlah sampel yang terbatas. Faktor aktivitas fisik, kekuatan otot, dan fungsi kognitif yang tidak dikontrol dalam penelitian ini juga berpotensi memengaruhi hasil.

Rekomendasi untuk Pencegahan Jatuh

Meskipun perbedaan tidak signifikan secara statistik, pemahaman mengenai faktor risiko berbasis jenis kelamin tetap penting dalam upaya pencegahan jatuh pada lansia. Intervensi fisioterapi berupa latihan keseimbangan sebaiknya tetap mempertimbangkan perbedaan kondisi fisiologis antara laki-laki dan perempuan. Program latihan yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik berdasarkan jenis kelamin berpotensi menghasilkan pencegahan jatuh yang lebih efektif. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar, kondisi lebih bervariasi, dan alat ukur yang lebih sensitif untuk mendapatkan simpulan yang lebih kuat.

[BACA JUGA: Mahasiswa UNAIR Ajak Ibu-Ibu Posyandu Lebih Bijak dalam Menggunakan Obat]

Penulis: Zulfa Fatimah Az Zahro

Pembimbing: Arni Kusuma Dewi dan Ahmad Riyono

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)