Langkah Nyata Mahasiswa UNAIR Tingkatkan Kesadaran Remaja terhadap Leukemia

VOKASI NEWS – Edukasi kesehatan tidak selalu harus berlangsung dengan metode ceramah satu arah. Melalui pendekatan interaktif, informasi mengenai penyakit serius dapat disampaikan secara lebih komunikatif dan dekat dengan kehidupan remaja.

Mahasiswa Kelompok 2 Keperawatan Medikal Bedah Universitas Airlangga (UNAIR) menerapkan pendekatan tersebut melalui penyuluhan leukemia di SMAN 1 Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Kegiatan ini mengajak siswa mengenali leukemia, memahami gejalanya, serta meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan sejak usia remaja.

Mengusung tema “Peningkatan Pengetahuan Remaja tentang Leukemia melalui Penyuluhan Kesehatan di SMAN 1 Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur”, kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam memperluas literasi kesehatan di lingkungan pendidikan.

Mengenal Leukemia dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Leukemia merupakan kanker pada jaringan pembentuk darah, terutama sumsum tulang. Penyakit ini menyebabkan sel darah abnormal berkembang secara tidak terkendali sehingga mengganggu produksi sel darah normal.

Dalam penyuluhan tersebut, mahasiswa Kelompok 2 membahas pengertian leukemia, jenis-jenis, faktor risiko, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, hingga pilihan pengobatan. Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana agar siswa dapat memahami informasi medis dengan lebih mudah.

Siswa juga mengenal sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, seperti pucat, mudah lelah, demam berulang, mudah memar, perdarahan, dan infeksi berulang. Mahasiswa menjelaskan bahwa gejala tersebut tidak selalu menunjukkan leukemia. Meski begitu, siswa perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan yang menetap, berulang, atau mengkhawatirkan.

Pemateri juga membuka sesi tanya jawab bersama siswa. Melalui sesi ini, siswa dapat mengajukan pertanyaan dan memperoleh penjelasan secara langsung. Dengan begitu, siswa dapat memahami materi secara lebih mendalam.

Pre-test dan Post-test Evaluasi Pemahaman Siswa

Untuk mengetahui perubahan pengetahuan peserta, mahasiswa menyelenggarakan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Sebelum penyuluhan dimulai, siswa mengerjakan pre-test untuk mengukur pemahaman awal mengenai leukemia. Setelah mengikuti penyampaian materi dan diskusi, siswa kembali mengerjakan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sejumlah peserta mampu memperoleh nilai sempurna pada tahap akhir tersebut.

Capaian ini menjadi gambaran positif atas pemahaman siswa setelah mengikuti penyuluhan. Bagi mahasiswa, hasil evaluasi juga menjadi salah satu indikator untuk melihat sejauh mana materi dapat diterima oleh peserta. Melalui evaluasi tersebut, mahasiswa tidak hanya menyampaikan informasi kesehatan, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai pemahaman siswa setelah kegiatan berlangsung.

Suasana Edukasi Interaktif dengan Hadiah Menarik

Mahasiswa Kelompok 2 turut menghadirkan sesi kuis untuk menjaga keterlibatan siswa selama kegiatan. Panitia mengajukan sejumlah pertanyaan seputar leukemia dan memberikan hadiah kepada peserta yang mampu menjawab dengan benar.

Sesi ini mendorong siswa untuk lebih aktif, berani menyampaikan jawaban, dan mengingat kembali materi yang telah mereka pelajari. Suasana kelas pun berlangsung lebih dinamis melalui interaksi antara mahasiswa dan peserta.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan dapat memadukan penyampaian materi dengan aktivitas yang menyenangkan. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan menguji pemahaman melalui kuis.

Mahasiswa Keperawatan Terapkan Peran sebagai Edukator Kesehatan

Bagi mahasiswa Kelompok 2 Keperawatan Medikal Bedah UNAIR, penyuluhan ini menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu keperawatan sekaligus berkontribusi kepada masyarakat. Dalam pelayanan kesehatan, perawat tidak hanya memberikan perawatan kepada pasien. Perawat juga berperan sebagai edukator yang membantu masyarakat memahami informasi kesehatan, mengenali risiko penyakit, dan mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatannya.

Kegiatan di SMAN 1 Sukomoro menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan komunikasi. Mahasiswa juga berlatih menyampaikan informasi medis dengan bahasa sederhana dan membangun interaksi dengan remaja. Mahasiswa juga memperoleh pengalaman dalam mengevaluasi pemahaman peserta melalui pre-test dan post-test. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar ruang kelas. Mahasiswa dapat melihat secara langsung pentingnya menyampaikan informasi kesehatan sesuai karakteristik dan kebutuhan sasaran edukasi.

Bangun Generasi Remaja yang Peduli Kesehatan

Antusiasme siswa selama penyuluhan dan hasil evaluasi pengetahuan menjadi bagian penting dari pelaksanaan kegiatan. Mahasiswa Kelompok 2 berharap informasi tersebut mendorong siswa untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungan sekitar.

BACA JUGA: Hospitality Explorer 2026: “The Great Explorer for the Great Generation”

Siswa juga perlu memilah informasi kesehatan dan memeriksa kebenarannya sebelum mempercayai suatu klaim. Ketika menemukan informasi atau gejala yang mengkhawatirkan, mereka perlu merujuk pada sumber tepercaya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Melalui edukasi di SMAN 1 Sukomoro, mahasiswa Keperawatan UNAIR menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran kesehatan dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Berbagi pengetahuan dan membangun kebiasaan mencari informasi yang benar menjadi langkah awal untuk membentuk generasi muda yang lebih kritis dan peduli terhadap kesehatan.

***

Penulis: Chantiika Claudia Kis Monic

Editor: M. Alkeshar (Tim Branding Vokasi)