VOKASI NEWS – Mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga mengadakan kegiatan pendidikan kesehatan mengenai pencegahan skabies bagi santri Pondok Pesantren Daruttaqwa 3 di Kebomas, Gresik. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah yang berfokus pada upaya pencegahan penyakit kulit, khususnya skabies pada remaja yang tinggal di lingkungan pesantren terutama sasarannya di wilayah sekitar tempat kampus kami berdiri.
Meningkatkan Pemahaman Santri tentang Skabies
Penyakit kulit dapat menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang perlu diperhatikan di lingkungan tempat tinggal bersama. Salah satunya adalah skabies, yaitu gangguan kulit akibat infestasi tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Kondisi ini umumnya ditandai dengan rasa gatal yang cenderung memburuk pada malam hari, disertai ruam atau lesi pada kulit.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, mahasiswa memberikan informasi kepada santri mengenai karakteristik skabies, penyebab, gejala, faktor risiko, dan mekanisme penularannya. Penjelasan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar peserta mampu mengenali tanda-tanda penyakit tersebut serta memahami pentingnya melakukan tindakan pencegahan.
Skabies terutama menular melalui kontak kulit langsung yang berlangsung cukup lama dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui barang yang terkontaminasi, seperti pakaian, handuk, atau perlengkapan tidur. Oleh karena itu, santri diimbau untuk menghindari kebiasaan bertukar barang pribadi dan lebih memperhatikan kebersihan diri maupun lingkungan.
Kebersihan Diri sebagai Langkah Pencegahan
Salah satu materi utama yang disampaikan adalah penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari. Santri diajak untuk membiasakan diri menjaga kebersihan tubuh, merawat kebersihan kamar, serta mencuci dan menangani pakaian maupun perlengkapan tidur dengan benar.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa upaya pencegahan perlu disertai kewaspadaan terhadap munculnya gejala. Apabila mengalami gatal yang terus-menerus, terutama pada malam hari, atau menemukan ruam yang mencurigakan, santri dianjurkan untuk menyampaikan keluhan kepada pengasuh dan memeriksakan diri kepada tenaga kesehatan. Pemeriksaan dan pengobatan yang sesuai diperlukan untuk mengatasi infestasi sekaligus membantu mencegah penyebaran kepada orang lain.
Penyampaian Materi secara Interaktif
Untuk mempermudah pemahaman peserta, edukasi didukung oleh penggunaan leaflet dan banner yang berisi informasi mengenai skabies serta langkah-langkah pencegahannya. Media tersebut menjadi sarana pendukung agar santri dapat memahami dan mengingat kembali materi yang telah diberikan.
Kegiatan juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab sehingga peserta dapat mengajukan pertanyaan terkait masalah kesehatan kulit. Selain itu, mahasiswa menggunakan pre-test dan post-test untuk mengetahui gambaran pengetahuan santri sebelum dan setelah mengikuti penyuluhan. Dengan pendekatan ini, edukasi tidak hanya berpusat pada penyampaian informasi, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif peserta.
Kolaborasi Mahasiswa dalam Pelaksanaan Kegiatan
Kelancaran kegiatan didukung oleh kerja sama anggota Kelompok 4 kelas GR-3A yang menjalankan tugas berdasarkan pembagian tanggung jawab. Rahma Fitria Anifa Muazaroh berperan sebagai ketua sekaligus koordinator. Siti Haliza Putri dan Salwa Putri Rahmadani bertanggung jawab terhadap pelaksanaan acara, sementara Aidah Suroyya menangani publikasi dan dokumentasi.
BACA JUGA: Fakultas Vokasi UNAIR Perkuat Kapasitas Kader Kesehatan Banyuwangi melalui Program PINTAR-TB
Pada bagian pendukung, Rizky Kusuma mengelola perlengkapan, Siti Muberokah mengoordinasikan konsumsi, Silfia Nur Azizah menangani hubungan masyarakat dan perizinan, serta Nabilla Ary Surya Wijaya bertugas di bidang sekretariat dan bendahara. Pelaksanaan proyek ini berada di bawah bimbingan Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.M.B.
Mendorong Perilaku Sehat di Lingkungan Pesantren
Edukasi pencegahan skabies ini menjadi bentuk penerapan pembelajaran keperawatan melalui kegiatan promotif dan preventif di masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan pengetahuan mengenai penyakit kulit, tetapi juga mendorong santri untuk membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan diri dan lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, santri diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan, menghindari penggunaan barang pribadi secara bergantian, serta segera mencari pertolongan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada skabies. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan pesantren yang lebih bersih, sehat, dan mendukung pencegahan penularan penyakit kulit.
***
Penulis: Silfia Nur Azizah
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



