VOKASI NEWS – Kolaborasi mahasiswa lintas disiplin UNAIR menghasilkan obat kumur herbal berbahan ekstrak kulit delima (Punica granatum) dengan teknologi nanopartikel perak. Inovasi ini mengantarkan tim dari empat fakultas menjadi finalis KIM UNAIR 2026 dan kandidat PKM-RE 2026.
Tim tersebut melibatkan mahasiswa Fakultas Vokasi, Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran Gigi, dan Fakultas Keperawatan. Kolaborasi tersebut menggabungkan berbagai bidang keilmuan dalam mengembangkan kandidat obat kumur berbasis bahan alam untuk mendukung penanganan masalah kesehatan gigi dan mulut.
Mengembangkan Kandidat Obat Kumur untuk Gingivitis
Gingivitis merupakan peradangan pada jaringan gusi yang umumnya berkaitan dengan akumulasi plak bakteri. Apabila tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi masalah periodontal yang lebih serius.
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim memanfaatkan ekstrak kulit buah delima sebagai bahan utama formulasi obat kumur. Kulit delima diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk flavonoid, tanin, dan senyawa fenolik yang memiliki potensi aktivitas biologis.
Pemanfaatan kulit buah delima juga menjadi salah satu bentuk eksplorasi bahan alam yang dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan. Tim kemudian mengombinasikannya dengan teknologi nanopartikel perak untuk mengembangkan formulasi yang memiliki karakteristik lebih optimal.
Menggabungkan Ekstrak Herbal dan Nanopartikel Perak
Inovasi utama produk terletak pada penggunaan nanopartikel perak (silver nanoparticles/AgNP) dalam formulasi. Teknologi tersebut dikembangkan sebagai bagian dari sistem penghantaran senyawa aktif dari ekstrak kulit delima.
Nanopartikel perak juga diketahui memiliki aktivitas antimikroba sehingga berpotensi memberikan fungsi tambahan dalam formulasi. Kombinasi bahan alam dan nanoteknologi tersebut menjadi pendekatan yang dikembangkan tim untuk menghasilkan kandidat obat kumur dengan potensi aktivitas biologis yang lebih optimal.
Pengembangan produk dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari formulasi sediaan dan karakterisasi fisik maupun kimia hingga pengujian aktivitas secara in vitro. Tahapan lanjutan juga dirancang melalui pengujian in vivo untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan kandidat produk sebelum dikembangkan lebih jauh.
Kolaborasi Empat Fakultas
Kolaborasi lintas fakultas menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangan inovasi tersebut. Setiap anggota tim berkontribusi berdasarkan bidang keilmuan masing-masing, mulai dari formulasi, karakterisasi laboratorium, pengujian biologis, analisis data, hingga penyusunan dan diseminasi hasil riset.
Keterlibatan mahasiswa Vokasi UNAIR dalam tim juga menunjukkan peran pendidikan vokasi dalam pengembangan inovasi berbasis riset yang berorientasi pada penerapan. Pengetahuan dan keterampilan praktis yang dimiliki mahasiswa dapat dikombinasikan dengan keilmuan dari bidang lain untuk menghasilkan solusi terhadap permasalahan kesehatan.
Keberhasilan menjadi finalis KIM UNAIR 2026 menjadi tahap awal bagi tim untuk mengembangkan gagasan tersebut melalui kompetisi dan riset berikutnya. Proposal inovasi juga diarahkan untuk mengikuti PKM-RE 2026.
Melalui pengembangan obat kumur herbal berbasis ekstrak kulit delima dan nanopartikel perak, tim berharap inovasi tersebut dapat terus dikaji secara ilmiah dan berpotensi dikembangkan menjadi kandidat produk kesehatan. Kolaborasi lintas fakultas diharapkan turut memperkuat budaya inovasi mahasiswa UNAIR dalam menghasilkan karya yang berbasis riset dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
[BACA JUGA: Vox Championship 2026: Pererat Solidaritas Mahasiswa Melalui Kompetisi Olahraga Antarprodi]
Penulis: Abimanyu Ikbal Yudho Wicaksono
Editor: Alkeshar (Tim Vokasi Branding)


