Mahasiswa Vokasi UNAIR Buktikan Masker Daun Mimba Efektif Atasi Jerawat

VOKASI NEWS – Jerawat masih menjadi salah satu keluhan kulit yang sering dialami remaja. Pada remaja Indonesia, prevalensinya mencapai 80–85 persen. Kondisi tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri, terutama saat usia sekolah dan awal masa dewasa.

Persoalan tersebut mendorong Sabila Dirwatul Kimala untuk meneliti masker herbal daun mimba. Sabila merupakan mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengobat Tradisional Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR). Penelitian tersebut mengukur pengaruh masker daun mimba terhadap penurunan derajat keparahan jerawat pada remaja.

Daun mimba memiliki nama ilmiah Azadirachta indica A. Juss. Tanaman tersebut telah digunakan dalam pengobatan tradisional karena memiliki berbagai kandungan aktif. Selain itu, daun mimba berpotensi dikembangkan sebagai bahan perawatan kulit alami.

Penelitian Melibatkan 40 Responden Remaja di Surabaya

Penelitian dilaksanakan pada 2026 menggunakan desain kuasi eksperimen. Sementara itu, pendekatan yang digunakan adalah pretest-posttest control group design. Sebanyak 40 remaja berusia 15–18 tahun di Surabaya, Jawa Timur, dilibatkan sebagai responden.

Responden dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan terdiri atas 20 responden yang menggunakan masker daun mimba. Sementara itu, kelompok kontrol terdiri atas 20 responden yang menggunakan masker berbahan dasar tepung beras.

Masker diberikan dua kali dalam seminggu selama empat minggu berturut-turut. Sebelum digunakan, seluruh sediaan masker telah melalui uji iritasi kulit. Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan awal sediaan bagi responden.

Selanjutnya, derajat keparahan jerawat diukur menggunakan instrumen Global Acne Grading System (GAGS). Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah penggunaan masker. Dengan demikian, perubahan tingkat keparahan jerawat pada setiap kelompok dapat diketahui.

Daun Mimba Dinilai Efektif Turunkan Skor Jerawat

Daun mimba dipilih karena mengandung gedunin, nimbidin, nimbin, dan azadirachtin. Senyawa tersebut memiliki aktivitas antiinflamasi dan antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Bakteri tersebut dikenal sebagai salah satu penyebab utama munculnya jerawat.

Selain melalui pendekatan farmakologis, daun mimba dikaji berdasarkan Pengobatan Tradisional Tiongkok atau Traditional Chinese Medicine (TCM). Pendekatan TCM memandang jerawat sebagai manifestasi dari akumulasi panas dalam tubuh. Sementara itu, daun mimba memiliki rasa pahit dan sifat dingin.

Dalam TCM, karakteristik tersebut digunakan secara empiris untuk membantu membersihkan panas. Selain itu, daun mimba dimanfaatkan untuk mendukung proses detoksifikasi tubuh. Kajian ini menggabungkan sudut pandang pengobatan konvensional dan tradisional.

Hasil penelitian menunjukkan penurunan skor GAGS pada kelompok perlakuan. Rerata skor GAGS turun dari 18,650 menjadi 8,900. Selain itu, hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar p = 0,001.

Setelah empat minggu, seluruh responden kelompok perlakuan berada dalam kategori jerawat ringan. Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan penurunan skor yang bermakna. Kelompok tersebut memperoleh nilai signifikansi sebesar p = 0,895.

“Perbedaan efektivitas antara kedua kelompok ini menunjukkan bahwa kandungan aktif dalam daun mimba benar-benar berperan penting dalam menurunkan derajat keparahan jerawat, bukan sekadar efek dari penggunaan masker pada umumnya,” ujar Sabila.

Berpotensi Jadi Alternatif Perawatan Alami

Uji statistik lanjutan menunjukkan perbedaan efektivitas antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Perbedaan tersebut memiliki nilai signifikansi sebesar p = 0,001. Dengan demikian, masker daun mimba dinilai efektif mengurangi derajat keparahan jerawat pada responden penelitian.

Temuan tersebut juga menunjukkan potensi masker daun mimba sebagai terapi topikal alami. Selain itu, hasil penelitian mendukung pemanfaatan daun mimba dari sudut pandang pengobatan konvensional dan tradisional. Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan kondisi kulit setiap individu.

Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan awal bagi pengembangan produk perawatan kulit berbahan alami. Produk tersebut dapat menjadi alternatif perawatan jerawat yang lebih ekonomis bagi remaja. Selain itu, uji iritasi memberikan gambaran awal mengenai keamanan sediaan.

Ke depan, penelitian lanjutan perlu melibatkan jumlah responden yang lebih besar. Durasi penelitian juga perlu diperpanjang untuk mengamati efektivitas dalam jangka panjang. Dengan demikian, hasil penelitian dapat memiliki tingkat generalisasi yang lebih kuat.

[BACA JUGA: Mahasiswa Vokasi UNAIR Raih Grand Champion di International Student Summit 2026]

Penulis: Sabila Dirwatul Kimala

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)