VOKASI NEWS – Kesalahan penggunaan obat masih menjadi salah satu masalah yang sering ditemukan di masyarakat. Kurangnya pemahaman mengenai penggolongan obat dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidak tepat dan berisiko bagi kesehatan.
Edukasi Penggolongan Obat bagi Ibu PKK Pakal Naga Baru
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan edukasi penggolongan obat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya bagi 35 ibu PKK RT 01/RW 06 Pakal Naga Baru, Surabaya.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai jenis- jenis obat, manfaatnya, serta pentingnya penggunaan obat secara aman dan rasional. Ibu-ibu PKK diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam penggunaan obat sehari-hari. Selain itu, ibu juga berperan sebagai sumber informasi kesehatan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Media Edukasi untuk Meningkatkan Pemahaman Masyarakat
Untuk mendukung penyampaian materi, tim edukasi memanfaatkan media pembelajaran berupa papan penggolongan obat dan leaflet edukatif. Papan penggolongan obat digunakan sebagai media visual untuk membantu peserta mengenali perbedaan setiap golongan obat beserta contohnya. Leaflet dibagikan sebagai bahan informasi yang dapat dipelajari kembali setelah kegiatan selesai.
Mengenal Golongan Obat dan Penggunaannya yang Tepat
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai golongan obat yang umum digunakan masyarakat, yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, obat wajib apotek (OWA), serta psikotropika dan narkotika. Selain memahami logo dan ciri khas masing-masing golongan, peserta juga diberikan penjelasan mengenai indikasi, kontraindikasi, serta aturan penggunaan obat yang benar.
Peserta juga dikenalkan dengan berbagai contoh obat yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari obat bebas seperti Sanmol dan Mylanta, obat bebas terbatas seperti Paramex dan CTM, hingga obat keras seperti amoksisilin dan asam mefenamat. Selain itu, peserta memperoleh informasi mengenai ranitidin sebagai salah satu contoh obat wajib apotek yang penggunaannya tetap memerlukan pengawasan tenaga kefarmasian. Melalui contoh-contoh tersebut, peserta diajak memahami bahwa setiap obat memiliki fungsi, aturan penggunaan, serta tingkat keamanan yang berbeda sehingga tidak dapat digunakan secara sembarangan.
Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari peserta. Hal ini terlihat pada sesi diskusi ketika salah satu ibu PKK mengajukan pertanyaan mengenai manfaat asam mefenamat yang sering digunakan masyarakat. Menanggapi pertanyaan tersebut, tim edukasi menjelaskan bahwa asam mefenamat digunakan untuk membantu meredakan berbagai jenis nyeri, seperti nyeri haid, sakit gigi, maupun nyeri akibat peradangan. Pada kesempatan tersebut, tim juga menegaskan bahwa asam mefenamat termasuk golongan obat keras sehingga penggunaannya harus sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Peningkatan Pemahaman melalui Edukasi Interaktif
Salah satu peserta bahkan mengaku baru memahami perbedaan antara obat bebas dan obat keras setelah mengikuti kegiatan edukasi tersebut. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa materi yang disampaikan mampu menjawab kebutuhan informasi masyarakat terkait penggunaan obat yang aman dan tepat.
Keberhasilan kegiatan juga terlihat dari hasil evaluasi yang menunjukkan peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti edukasi. Sebelum penyampaian materi, peserta terlebih dahulu mengerjakan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal. Setelah sesi edukasi dan diskusi selesai, peserta kembali mengikuti post-test. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai peserta meningkat dari 48 pada pre-test menjadi 88 pada post-test. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa metode edukasi yang digunakan, termasuk pemanfaatan papan penggolongan obat dan leaflet, efektif dalam membantu peserta memahami materi yang disampaikan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai penggolongan obat. Selain itu juga mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih cerdas dan bijak dalam penggunaan obat. Diharapkan pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tersebut juga dapat dibagikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar sehingga manfaat edukasi dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai penggolongan obat diharapkan dapat mengurangi risiko kesalahan penggunaan obat. Selain itu, kondisi ini juga mendukung terciptanya budaya penggunaan obat yang aman, rasional, dan bertanggung jawab.
[BACA JUGA: Pentingnya Memahami Penggolongan Obat Berdasarkan Indikasi Klinis]
Penulis : Aila Nazuroh
Pembimbing: Dr. Susilo Harianto, S.Kep., Ns., M.Kep
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



