VOKASI NEWS – Dunia organisasi mahasiswa seringkali menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang visioner. Di Universitas Airlangga (UNAIR), salah satu nama yang mencuat dan meninggalkan jejak prestisius pada periode 2025-2026 adalah Nurun Zahrah. Mahasiswi program studi D3 Bahasa Inggris ini bukan sekadar pemimpin biasa, Zahrah adalah sosok di balik suksesnya pagelaran seni tradisi berskala internasional yang memukau ribuan pasang mata.
Kepemimpinan dalam Harmoni Tradisi
Zahrah menjabat sebagai Ketua Umum Unit Kegiatan Tari dan Karawitan (UKTK) UNAIR periode 2025-
2026, Nurun Zahrah membawa visi untuk membawa budaya lokal ke kancah global. Baginya, statusnya sebagai mahasiswi Bahasa Inggris bukan sekadar modal akademis, melainkan alat komunikasi vital untuk menjembatani kekayaan budaya Indonesia dengan dunia luar. Namun, yang membuat profilnya unik adalah keterlibatan langsungnya sebagai talent tari dan karawitan. Zahrah tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga meresapi setiap ketukan gamelan karawitan dan setiap liukan gerak tari yang ia pimpin. Hal ini dibuktikan melalui proyek terbesarnya adalah TAKTA 2025.
TAKTA (Pagelaran Tari dan Karawitan) merupakan agenda perdana pada UKTK, namun di bawah komando Nurun Zahrah, gelaran tahun 2025 mencapai level baru melalui kolaborasi lintas unit. Zahrah menggandeng Airlangga Orchestra untuk menciptakan sebuah simfoni yang belum pernah ada sebelumnya.
Perjalanan Panjang Sejak September
Keberhasilan sebuah pertunjukan besar tentu tidak terjadi secara instan. Nurun Zahrah memulai persiapan TAKTA 2025 sejak September 2025. Sebagai ketua, Zahrah harus mengoordinasikan berbagai divisi, mulai dari artistik, logistik, hingga hubungan internasional.
Tantangan terbesar terletak pada upaya menyatukan dua karakter musik yang berbeda. Selama tiga bulan penuh, Zahrah membagi waktu antara aktivitas perkuliahan dan kegiatan latihan di sanggar seni. Zahrah memastikan setiap detail berjalan sesuai standar tinggi yang telah ditetapkan, mulai dari presisi koreografi tari hingga harmonisasi musik karawitan.
Peran Nurun Zahrah juga menjadi penghubung teknis antara tangga nada pentatonis gamelan milik UKTK dengan tangga nada diatonis yang dimainkan oleh instrumen gesek dan tiup dari Airlangga Orchestra. Selain tantangan teknis, Nurun Zahrah juga berupaya menyatukan visi seluruh anggota untuk menyambut para tamu yang hadir pada malam pertunjukan tersebut.
Diplomasi Budaya: Menghadirkan Dunia ke Surabaya
Hal yang membuat TAKTA 2025 semakin monumental adalah keterlibatan mahasiswa internasional. Sekitar 30 mahasiswa asing turut hadir dan berpartisipasi dalam acara tersebut. Dalam konteks ini, latar belakang Nurun Zahrah sebagai mahasiswi Bahasa Inggris menjadi sangat penting. Zahrah berperan aktif sebagai jembatan komunikasi antara panitia dan tamu internasional. Melalui peran tersebut, para tamu tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap gerakan tari yang ditampilkan.
Kehadiran delegasi internasional menjadikan panggung UKTK sebagai ruang diplomasi budaya yang hangat. Banyak mahasiswa dari berbagai negara merasa terkesan melihat bagaimana Zahrah mampu menjalankan dua peran sekaligus, yaitu sebagai pemimpin organisasi dan sebagai penari yang tampil langsung di atas panggung.
Puncak Keajaiban 2 Desember 2025
Seluruh proses panjang tersebut mencapai puncaknya pada 2 Desember 2025 di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Panggung pertunjukan dipenuhi dengan tata musik yang megah serta pencahayaan yang memukau. Pada malam tersebut, Nurun Zahrah menunjukkan totalitas sebagai seorang pemimpin sekaligus seniman. Di satu momen, Zahrah berada di balik layar untuk memastikan koordinasi acara berjalan lancar. Pada momen lainnya, tampil di atas panggung sebagai pusat perhatian, membawakan harmoni gamelan dan gerak tari yang memikat para penonton.
Pagelaran TAKTA 2025 pun berlangsung sukses besar. Perpaduan antara kemegahan karawitan, keanggunan tari, dan iringan Airlangga Orchestra berhasil memukau penonton lokal maupun internasional. Bagi Zahrah, standing ovation dari para mahasiswa asing menjadi bukti bahwa seluruh kerja keras sejak bulan September terbayar dengan hasil yang membanggakan.
Warisan Kepemimpinan yang Artistik
Masa jabatan Zahrah sebagai Ketua UKTK UNAIR mungkin akan berakhir, tetapi standar yang dibangun selama kepemimpinan tersebut akan terus dikenang. Nurun Zahrah membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak harus menjaga jarak dengan karya yang diciptakan. Dengan menjalankan peran sebagai ketua sekaligus talent, Nurun Zahrah menunjukkan dedikasi besar terhadap pelestarian budaya. Sosok Zahrah menjadi representasi mahasiswa Universitas Airlangga yang berani bermimpi besar.
Berasal dari Program Studi D3 Bahasa Inggris, Zahrah mampu membawa seni tradisi ke panggung internasional. Kisah ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia dapat tampil sangat elegan ketika dikelola dengan ketulusan, kemampuan manajerial, serta kepekaan artistik yang kuat.
[BACA JUGA: Mitigasi Risiko Pelayanan Radiologi dengan Metode HFMEA]
***
Penulis: Dinda Aulia Rahma
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



