VOKASI NEWS – Kesehatan mental kini menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan manusia. Di tengah tekanan kehidupan modern, kesejahteraan psikologis memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kesadaran tersebut juga tercermin dalam berbagai karya sastra, salah satunya novel Tertolak Sebagai Manusia karya Osamu Dazai yang mengangkat pergulatan batin seseorang dalam menghadapi tekanan sosial.
Keterasingan Menjadi Awal Rapuhnya Kondisi Mental
Novel Tertolak Sebagai Manusia menceritakan perjalanan hidup Oba Yozo, seorang laki-laki yang sejak kecil merasa berbeda dan kesulitan memahami cara berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Perasaan terasing membuat Yozo mengalami kecemasan yang terus berkembang hingga memengaruhi cara ia menjalani kehidupan.
Untuk menutupi kegelisahannya, Yozo memilih mengenakan “topeng” berupa sikap ceria dan humor di hadapan orang lain. Cara tersebut menjadi mekanisme pertahanan diri agar tetap diterima oleh lingkungan, meskipun di baliknya ia terus menyimpan tekanan psikologis yang semakin berat.
Ketika Lingkungan Gagal Memahami
Seiring berjalannya waktu, kondisi psikologis Yozo terus memburuk karena tidak memiliki ruang yang aman untuk mengungkapkan perasaannya. Kepura-puraan yang dipertahankan justru perlahan menghilangkan jati dirinya.
Kondisi tersebut tergambar melalui salah satu kutipan paling terkenal dalam novel:
“Kehilangan hak untuk disebut sebagai manusia. Aku sudah sepenuhnya bukan manusia lagi.”
Kutipan tersebut menggambarkan betapa dalamnya rasa putus asa yang dialami seseorang ketika merasa tidak lagi memiliki tempat di tengah masyarakat. Perasaan terasing yang terus dibiarkan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang serius apabila tidak memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar.
Sastra sebagai Media Meningkatkan Empati
Novel karya Osamu Dazai tidak hanya menghadirkan kisah fiksi, tetapi juga mengajak pembaca memahami kompleksitas kondisi psikologis seseorang. Melalui tokoh Yozo, pembaca diajak melihat bahwa gangguan kesehatan mental tidak selalu tampak dari luar. Seseorang dapat terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang menyembunyikan beban emosional yang berat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa empati, komunikasi, dan kepedulian memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental. Lingkungan yang terbuka dan tidak memberikan stigma akan membantu seseorang lebih berani mencari pertolongan ketika mengalami tekanan psikologis.
Membangun Kesadaran Kesehatan Mental
Isu kesehatan mental juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Good Health and Well-Being), yang menekankan pentingnya kehidupan sehat, termasuk kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis.
Melalui novel Tertolak Sebagai Manusia, Osamu Dazai menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi individu. Lingkungan sosial juga memiliki peran yang besar. Karya ini mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis orang di sekitarnya. Novel tersebut juga mendorong upaya mengurangi stigma terhadap individu yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental tidak hanya dilakukan melalui layanan kesehatan, tetapi juga melalui terciptanya lingkungan yang mampu menerima, mendengarkan, dan mendukung setiap individu. Novel ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sederhana terhadap sesama dapat menjadi langkah awal dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, inklusif, dan berempati.
[BACA JUGA: Persiapkan Pemimpin Masa Depan, PSDM BEM VOKASI Sukses Gelar “PSDM GOES TO SCHOOL Vol.1”]
Penulis: Ananda Yulitania Gunawan
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



