Mengapa Pekerja Fabrikasi Rentan Mengalami Heat Strain? Kenali Penyebab dan Pencegahannya

VOKASI NEWS – Lingkungan kerja dengan suhu tinggi masih menjadi tantangan di berbagai sektor industri, terutama pada pekerjaan fabrikasi. Aktivitas seperti pemotongan, pengelasan, penggerindaan, perakitan, dan proses lainnya menghasilkan paparan panas secara terus-menerus. Akibatnya, paparan panas dalam waktu lama dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mempertahankan suhu normal sehingga meningkatkan risiko terjadinya heat strain. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan pekerja, tetapi juga dapat menurunkan konsentrasi, produktivitas, serta meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

Apa Itu Heat Strain?

Pada dasarnya, heat strain merupakan respons fisiologis tubuh terhadap paparan panas yang berasal dari lingkungan kerja maupun aktivitas fisik. Ketika tubuh tidak mampu melepaskan panas secara optimal, suhu tubuh dan denyut nadi akan meningkat sebagai mekanisme untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuh.

Akibatnya, gejala heat strain dapat berupa ruam pada kulit, peningkatan denyut nadi, produksi keringat yang berlebihan, rasa haus yang meningkat, pingsan, hingga kenaikan suhu tubuh. Bahkan, pada kondisi yang lebih serius, heat strain dapat berkembang menjadi heat stroke maupun kejang.

Faktor yang Memengaruhi Heat Strain

Secara umum, heat strain dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor individu. Dari sisi lingkungan, iklim kerja yang panas menjadi penyebab utama karena suhu udara, kelembapan, radiasi panas, serta pergerakan udara yang kurang baik dapat meningkatkan beban panas yang diterima tubuh.

Sementara itu, faktor individu juga berpengaruh terhadap kemampuan tubuh dalam mempertahankan suhu normal. Faktor tersebut meliputi usia, masa kerja, kebiasaan merokok, serta konsumsi air minum. Berdasarkan hasil penelitian pada pekerja fabrikasi, kejadian heat strain lebih banyak ditemukan pada pekerja yang berusia lebih tua, memiliki masa kerja lebih lama, memiliki kebiasaan merokok, serta belum memenuhi kebutuhan konsumsi air minum harian.

Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Cairan

Ketika bekerja di lingkungan panas, tubuh akan mengeluarkan keringat sebagai mekanisme alami untuk menurunkan suhu tubuh. Akibatnya, tubuh kehilangan cairan secara terus-menerus sehingga kebutuhan konsumsi air minum menjadi lebih tinggi dibandingkan saat melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan cairan menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mencegah heat strain.

Berdasarkan Direktorat Kesehatan Kerja RI (2014), pekerja yang bekerja di lingkungan panas perlu mengonsumsi air minum minimal 2,8 liter per hari. Dengan demikian, kebutuhan cairan tubuh tetap terjaga sehingga risiko gangguan akibat paparan panas dapat dikurangi.

Upaya Mencegah Heat Strain

Oleh karena itu, pencegahan heat strain memerlukan keterlibatan perusahaan maupun pekerja. Pengendalian dapat dilakukan melalui penyediaan ventilasi yang baik, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, penyediaan air minum yang mudah diakses, serta edukasi mengenai bahaya paparan panas.

Selain itu, pekerja juga dianjurkan mencukupi kebutuhan cairan minimal 2,8 liter per hari saat bekerja di lingkungan panas, menggunakan alat pelindung diri sesuai standar, mengurangi kebiasaan merokok, serta segera beristirahat apabila mulai muncul keluhan akibat paparan panas. Dengan demikian, kondisi fisiologis tubuh dapat tetap terjaga. Pada akhirnya, risiko terjadinya heat strain dapat diminimalkan sehingga kesehatan dan keselamatan pekerja tetap terpelihara.

[BACA JUGA: Breast Phantom Lokal Berbasis PVCP, Solusi Baru untuk Meningkatkan Kualitas Pemeriksaan USG]

Penulis: Farah Fauziyyah Ramadhani

Pembimbing: Indah Lutfiya

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)