VOKASI NEWS – Penggunaan obat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga dan memulihkan kesehatan. Saat mengalami keluhan ringan, banyak masyarakat memilih melakukan swamedikasi atau pengobatan sendiri dengan membeli obat yang tersedia di apotek maupun toko obat. Namun, tidak semua obat dapat digunakan secara bebas. Setiap obat memiliki golongan tertentu yang menunjukkan tingkat keamanan, aturan perolehan, serta pengawasan penggunaannya.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami arti simbol yang tertera pada kemasan obat. Kurangnya pengetahuan tersebut dapat menyebabkan kesalahan dalam memilih dan menggunakan obat sehingga berisiko menimbulkan efek samping, interaksi obat, maupun kegagalan terapi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penggolongan obat menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.
Mengenal Jenis-Jenis Penggolongan Obat
Di Indonesia, obat digolongkan berdasarkan tingkat keamanan dan pengawasannya. Penggolongan ini ditunjukkan melalui simbol khusus pada kemasan obat. Obat bebas ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Golongan obat ini umumnya digunakan untuk mengatasi keluhan ringan seperti demam, sakit kepala, atau flu ringan.
Obat bebas terbatas ditandai dengan lingkaran berwarna biru dan dapat diperoleh tanpa resep dokter, tetapi penggunaannya harus memperhatikan aturan yang tercantum pada kemasan. Biasanya disertai peringatan khusus yang perlu dipahami sebelum digunakan. Sementara itu, obat keras ditandai dengan lingkaran merah yang memuat huruf K.
Obat golongan ini hanya dapat diperoleh dengan resep dokter karena memiliki risiko efek samping yang lebih tinggi apabila digunakan secara tidak tepat. Selain itu, terdapat pula golongan narkotika dan psikotropika yang penggunaannya diawasi secara ketat karena berpotensi menyebabkan ketergantungan apabila disalahgunakan.
Risiko Kesalahan Penggunaan Obat
Kurangnya pemahaman mengenai penggolongan obat dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Salah satu contoh yang sering terjadi adalah penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik. Kondisi ini terjadi ketika bakteri menjadi kebal terhadap pengobatan sehingga infeksi menjadi lebih sulit diatasi.
Selain itu, penggunaan obat keras tanpa pengawasan tenaga kesehatan juga dapat menimbulkan efek samping yang serius. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa simbol pada kemasan obat bukan sekadar tanda, melainkan informasi penting yang membantu menentukan cara memperoleh dan menggunakan obat secara aman.
Edukasi Penggolongan Obat di Desa Singorejo
Sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggolongan obat, mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan edukasi kepada ibu-ibu PKK di Desa Singorejo RT 04 RW 04, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Kegiatan dilakukan secara tatap muka dengan memanfaatkan media visual berupa papan obat interaktif dan leaflet. Sebelum penyampaian materi, peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mengenai penggolongan obat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta belum memahami arti simbol pada kemasan obat serta perbedaan antara obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat keras.
Materi kemudian disampaikan melalui diskusi interaktif, tanya jawab, dan kuis edukatif yang mendorong partisipasi aktif peserta. Pendekatan ini dipilih agar informasi dapat dipahami dengan lebih mudah dan menarik. Salah satu peserta kegiatan, Ibu Siti Aminah, mengaku memperoleh pengetahuan baru setelah mengikuti edukasi tersebut. “Sebelumnya saya hanya mengetahui obat dari warna kemasannya saja. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi memahami arti simbol pada obat dan lebih berhati-hati saat membeli maupun menggunakannya,” tuturnya.
Hasil dan Dampak Edukasi
Setelah kegiatan selesai, peserta mengikuti post-test sebagai bentuk evaluasi. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 25%, dengan rata-rata nilai meningkat dari 60 menjadi 75. Peningkatan ini menunjukkan bahwa peserta mulai memahami arti simbol penggolongan obat dan pentingnya memperhatikan aturan penggunaan obat sebelum mengonsumsinya. Antusiasme peserta selama kegiatan menunjukkan tingginya ketertarikan masyarakat terhadap materi yang disampaikan. Hal ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan yang dikemas secara interaktif mampu meningkatkan minat belajar masyarakat terhadap informasi kesehatan yang sebelumnya dianggap rumit.
Pemahaman mengenai penggolongan obat merupakan langkah awal untuk mewujudkan penggunaan obat yang aman dan rasional. Melalui edukasi yang tepat, masyarakat dapat mengenali jenis-jenis obat, memahami aturan penggunaannya, serta menghindari risiko akibat penggunaan obat yang tidak sesuai. Kegiatan edukasi di Desa Singorejo menunjukkan bahwa pendekatan interaktif dan penggunaan media visual dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Strategi tersebut terutama berperan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggolongan obat.
Penulis: Muhammad Dzaky Afnan Ghifari
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



