VOKASI NEWS – Kanker payudara masih menjadi salah satu penyakit keganasan dengan angka kejadian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Salah satu terapi yang banyak digunakan dalam penanganannya adalah radioterapi, terutama setelah tindakan pembedahan. Terapi ini bertujuan mengendalikan pertumbuhan sel kanker melalui pemberian radiasi pada jaringan target. Selain itu, jaringan sehat di sekitar area penyinaran tetap diupayakan agar terlindungi.
Perkembangan teknologi radioterapi, seperti Three-Dimensional Conformal Radiation Therapy (3D-CRT), memungkinkan pemberian radiasi yang lebih presisi. Oleh karena itu, efektivitas terapi dapat meningkat sekaligus mengurangi paparan radiasi pada organ sehat di sekitar area penyinaran (Ferlay et al., 2024; Kementerian Kesehatan RI, 2017).
Ketika Kulit Mengalami Reaksi Akibat Radiasi
Meskipun teknologi radioterapi terus berkembang, efek samping akibat paparan radiasi masih dapat terjadi. Salah satu efek samping yang paling sering dijumpai pada pasien kanker payudara adalah toksisitas kulit atau Radiation-Induced Skin Reaction (RISR). Kondisi tersebut muncul karena kulit merupakan jaringan yang sensitif terhadap radiasi ionisasi.
Gejala yang muncul dapat berupa kemerahan (erythema), perubahan warna kulit, kulit kering (dry desquamation), pengelupasan kulit basah (moist desquamation), hingga kerusakan jaringan pada kondisi tertentu. Untuk menilai tingkat keparahan reaksi kulit, tenaga kesehatan menggunakan skala Radiation Therapy Oncology Group (RTOG). Skala tersebut mengelompokkan toksisitas kulit mulai dari Grade 0 hingga Grade 4 berdasarkan perubahan klinis yang terjadi.
Peran Radiografer dalam Pemantauan Pasien
Radiografer memiliki peran penting dalam pelayanan radioterapi. Selain memastikan ketepatan posisi pasien dan pelaksanaan penyinaran, radiografer juga melakukan observasi terhadap kondisi pasien selama menjalani terapi. Dengan demikian, perubahan kulit akibat radiasi dapat dikenali lebih awal dan segera dikomunikasikan kepada dokter untuk mendukung penanganan yang tepat.
Namun, penilaian toksisitas kulit tidak selalu memberikan hasil yang sama antar tenaga kesehatan. Perbedaan pengalaman kerja, pemahaman terhadap kriteria RTOG, serta banyaknya kasus yang pernah ditangani dapat memengaruhi kesesuaian hasil observasi.
Pentingnya Keseragaman Penilaian
Kajian yang dilakukan di Instalasi Radioterapi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta melibatkan 25 radiografer. Kajian tersebut bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan mengenai toksisitas kulit akibat radioterapi. Selain itu, penelitian juga membandingkan hasil penilaian toksisitas kulit oleh radiografer dengan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi menggunakan skala RTOG.
Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar radiografer memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai toksisitas kulit akibat radioterapi. Meskipun demikian, tingkat kesepakatan penilaian antara radiografer dan dokter masih berada pada kategori rendah hingga sedang. Selain itu, pengalaman kerja menunjukkan hubungan dengan tingkat kesepakatan penilaian. Artinya, semakin banyak pengalaman klinis yang dimiliki, semakin baik kemampuan dalam mengenali perubahan kulit akibat radiasi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan observasi tidak hanya memerlukan pengetahuan teoretis, tetapi juga pengalaman klinis dan pelatihan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, standardisasi penggunaan skala RTOG menjadi langkah penting agar penilaian toksisitas kulit antar tenaga kesehatan lebih konsisten. Dengan komunikasi yang baik antara radiografer dan dokter, pemantauan efek samping radioterapi dapat dilakukan secara optimal. Pada akhirnya, keselamatan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan bagi pasien kanker payudara dapat terus ditingkatkan.
Sumber:
- Ferlay J, Colombet M, Soerjomataram I, et al. Cancer Statistics for the Year 2022. International Journal of Cancer. 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Kanker Payudara. 2017.
[BACA JUGA: Strategi Penyelesaian Surat Permintaan Penjelasan Atas Data Atau Keterangan Perpajakan Perusahaan]
Penulis: Habib Ludfi
Pembimbing: Ayub Manggala Putra dan Dwi Sugeng Supriyadi
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



