VOKASI NEWS – Perkembangan teknologi informasi di bidang kesehatan telah membawa perubahan dalam pelayanan medis, salah satunya melalui digitalisasi hasil radiologi. Digitalisasi tersebut memudahkan pasien mengakses data medis sehingga membantu meningkatkan pemahaman terhadap informasi kesehatan. Selain itu, digitalisasi juga mendukung komunikasi yang lebih baik antara pasien dan tenaga kesehatan sekaligus memperkuat pelayanan yang berorientasi pada pasien.
Salah satu bentuk digitalisasi hasil radiologi yang mulai banyak diterapkan ialah Picture Archiving and Communication System (PACS). Menurut Abbasi et al. (2020), PACS merupakan sistem yang mampu menyimpan, mengelola, dan mendistribusikan citra radiologi secara digital. Dengan demikian, hasil pemeriksaan dapat ditampilkan secara cepat, praktis, dan aman. Berbeda dengan sistem konvensional yang mengandalkan film radiologi, PACS memungkinkan pasien mengakses hasil pemeriksaan melalui berbagai perangkat elektronik.
Bagaimana PACS Bekerja?
Dalam implementasinya, PACS menjadi bagian dari sistem informasi rumah sakit yang saling terintegrasi. Proses dimulai ketika petugas memasukkan data pasien ke dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Selanjutnya, data diteruskan ke Radiology Information System (RIS) sebagai dasar pelaksanaan pemeriksaan radiologi.
Setelah radiografer menyelesaikan pemeriksaan menggunakan berbagai modalitas, seperti CT-Scan maupun X-ray, citra radiologi dikirim dan disimpan ke dalam PACS. Radiolog kemudian melakukan interpretasi hasil pemeriksaan. Sementara itu, petugas melaksanakan quality control untuk memastikan kualitas hasil pemeriksaan. Setelah seluruh proses selesai, sistem menghasilkan token akses dalam bentuk QR Code yang dapat digunakan pasien untuk melihat hasil radiologi secara mandiri. Selain itu, sistem juga menerapkan batas waktu akses sebagai upaya menjaga keamanan dan kerahasiaan data pasien.
Kemudahan PACS dalam Pelayanan Radiologi
RSUD Nganjuk merupakan salah satu rumah sakit yang telah menerapkan PACS dalam pelayanan radiologi. Melalui sistem tersebut, pasien dapat mengakses hasil pemeriksaan menggunakan QR Code. Oleh karena itu, hasil radiologi dapat diperoleh lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Hasil penelitian terhadap 251 pasien menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai penggunaan PACS tergolong mudah. Kemudahan tersebut meliputi proses masuk ke sistem, kejelasan tampilan hasil radiologi, kemudahan menemukan hasil pemeriksaan, serta kemampuan mengakses kembali hasil radiologi secara daring. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi kesehatan yang dirancang sederhana dan mudah dipahami mampu meningkatkan pengalaman pasien dalam memperoleh layanan kesehatan.
Meskipun demikian, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Sebagian pasien, terutama kelompok lanjut usia maupun pengguna yang belum terbiasa menggunakan layanan digital, masih memerlukan pendampingan ketika pertama kali mengakses sistem. Oleh karena itu, kemudahan teknologi perlu didukung oleh kemampuan pengguna agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
Di samping itu, komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien juga memegang peranan penting. Penjelasan mengenai cara mengakses hasil radiologi membantu pasien menggunakan PACS dengan lebih mudah.
Komunikasi Menjadi Pendukung Keberhasilan PACS
Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memperoleh penjelasan dengan baik dari tenaga kesehatan cenderung memiliki tingkat kepuasan lebih tinggi dibandingkan pasien yang hanya memperoleh penjelasan secukupnya. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa interaksi yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien memberikan peluang kepuasan yang lebih besar dibandingkan kemudahan penggunaan teknologi semata.
Temuan tersebut sejalan dengan Chen et al. (2025) yang menyatakan bahwa kualitas komunikasi yang jelas, empatik, dan informatif secara signifikan memengaruhi kepuasan pasien. Hasil ini memperlihatkan bahwa keberhasilan implementasi PACS tidak hanya bergantung pada kemampuan sistem dalam menyajikan hasil radiologi secara cepat. Sebaliknya, keberhasilan tersebut juga dipengaruhi oleh kemampuan tenaga kesehatan dalam mendampingi pasien selama proses penggunaan.
Oleh karena itu, rumah sakit perlu terus memperkuat pelayanan radiologi digital melalui penyediaan media edukasi sederhana, demonstrasi singkat penggunaan PACS sebelum pasien meninggalkan instalasi radiologi, serta peningkatan kompetensi komunikasi tenaga kesehatan. Dengan demikian, kolaborasi antara inovasi teknologi dan pelayanan yang berpusat pada pasien diharapkan mampu mewujudkan pelayanan radiologi yang aman (safe), tepat waktu (timely), efektif (effective), efisien (efficient), berkeadilan (equitable), dan berpusat pada pasien (patient-centered) sesuai prinsip STEEEP yang dikembangkan oleh Institute of Medicine (2001).
[BACA JUGA: One Call, One Hope: Educating the Community on How to Contact Ambulance Services in Emergency Situations]
***
Penulis: Amanda Salsabila
Pembimbing: Berliana Devianti Putri dan Karnoto Abdul Aziz
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



