Mengenal Sick Building Syndrome, Keluhan Kesehatan di Balik Gedung Perkantoran

VOKASI NEWS – Sebagian besar pekerja kantor menghabiskan lebih dari delapan jam sehari di dalam ruangan tertutup. Kondisi ini membuat kualitas lingkungan kerja, mulai dari suhu, kelembapan, hingga sirkulasi udara, menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Mahasiswa Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Talitha Naurah Setiawan, mengangkat isu mengenai Sick Building Syndrome (SBS), yaitu kumpulan keluhan kesehatan tidak spesifik yang dirasakan seseorang saat berada di dalam gedung dan mereda ketika keluar dari gedung tersebut.

Apa Itu Sick Building Syndrome?

Salah satu dampak yang kerap muncul namun jarang disadari adalah Sick Building Syndrome, atau biasa disingkat SBS. Kondisi ini merupakan kumpulan keluhan kesehatan tidak spesifik yang dirasakan seseorang saat berada di dalam gedung. Keluhan tersebut biasanya mereda ketika yang bersangkutan keluar dari gedung.

Keluhan SBS penting untuk diperhatikan karena berpotensi menurunkan produktivitas kerja. Pekerja yang mengalami gejala ini cenderung lebih sulit berkonsentrasi dan lebih cepat merasa lelah selama jam kerja. Meski begitu, kondisi ini tidak selalu terdiagnosis sebagai penyakit tertentu secara medis.

Gejala SBS

Gejala SBS bervariasi antarindividu. Beberapa keluhan yang paling sering dialami pekerja kantor meliputi mata kering atau iritasi, sakit kepala, hidung tersumbat atau iritasi saluran pernapasan, kulit kering, serta rasa lesu dan mudah lelah.

Ciri khas yang membedakan SBS dari penyakit lain adalah gejala tersebut cenderung membaik ketika pekerja meninggalkan gedung. Perbaikan ini biasanya terlihat saat waktu istirahat maupun saat pulang kerja.

Gejala SBS memang tidak spesifik dan mirip dengan kelelahan biasa. Akibatnya, banyak pekerja tidak menyadari bahwa keluhan tersebut berkaitan dengan kondisi ruang kerja. Kondisi ini membuat keluhan jarang dilaporkan atau ditindaklanjuti.

Faktor Penyebab SBS di Lingkungan Kerja

Beberapa faktor berkaitan dengan munculnya keluhan SBS. Suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin dari standar kenyamanan dapat memicu ketidaknyamanan fisik. Kelembapan udara yang tidak sesuai turut memengaruhi kondisi selaput lendir mata dan saluran pernapasan.

Sirkulasi udara yang buruk juga menjadi faktor risiko yang umum dibahas dalam kajian kesehatan lingkungan kerja. Kondisi ini misalnya terjadi pada gedung dengan sistem ventilasi tertutup dan penggunaan AC sentral tanpa pertukaran udara segar yang memadai.

Selain faktor fisik bangunan, kualitas tidur pekerja turut berperan. Pekerja dengan kualitas tidur yang buruk cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap gejala SBS saat berada di lingkungan kerja yang kurang mendukung.

Risiko dan Dampak bagi Pekerja

Dampak SBS tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap performa kerja secara keseluruhan. Pekerja yang mengalami keluhan ini berisiko menurunnya konsentrasi, produktivitas, serta tingkat kehadiran kerja. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat memengaruhi kenyamanan psikologis pekerja terhadap lingkungan kerjanya.

Langkah Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Pencegahan SBS dapat dimulai dari pemantauan kondisi lingkungan kerja secara berkala. Langkah ini mencakup pengukuran suhu dan kelembapan ruangan, memastikan sistem ventilasi berfungsi baik, serta menjaga kebersihan sistem pendingin udara. Selain itu, dukungan terhadap pola istirahat pekerja, misalnya melalui pengaturan jam kerja yang wajar, turut membantu menurunkan risiko munculnya keluhan ini.

Kesadaran terhadap Sick Building Syndrome diharapkan dapat mendorong perusahaan dan pekerja untuk lebih memperhatikan kualitas lingkungan kerja. Perhatian ini penting demi menjaga kesehatan dan produktivitas jangka panjang.

[BACA JUGA: Digitalisasi Penatausahaan Pajak Daerah Dukung Efektivitas Pelayanan Pajak]

Penulis: Talitha Naurah Setiawan

Pembimbing: Indah Lutfiya, S.KM., M.Kes

Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)