VOKASI NEWS – Surabaya bukan sekadar kota metropolitan yang sibuk dengan urusan bisnis. Di balik gedung-gedung pencakar langitnya, tersimpan narasi sejarah yang kuat dan kekayaan budaya yang eksotis. Potensi pariwisata inilah yang mendorong Revy Febrianti, mahasiswi Program Studi Diploma Bahasa Inggris Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, untuk menyusun sebuah proyek tugas akhir yang berfokus pada aksesibilitas informasi bagi wisatawan mancanegara.
Melalui laporan akhir berjudul “Identifying Translation Method and Strategies in Bilingual Guidebook Surabaya Wandering: History, Culture, and Adventure Awaits“, Revy mengeksplorasi bagaimana bahasa dapat menjadi kunci utama dalam mempromosikan destinasi lokal. Produk yang dihasilkan bukan sekadar tulisan biasa, melainkan sebuah buku panduan wisata dwibahasa (Indonesia-Inggris) yang dirancang untuk menemani langkah turis saat menjelajahi sudut-sudut Kota
Metode Literal untuk Menjaga Keaslian Informasi
Dalam proses dialihbahasakan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, pemilihan metode penerjemahan menjadi fondasi yang sangat krusial. Berdasarkan hasil analisis dalam tugas akhirnya, metode yang paling dominan digunakan adalah metode penerjemahan literal. Penggunaan metode ini bertujuan agar pesan yang disampaikan dalam teks sumber tetap akurat dan tidak melenceng dari fakta sejarah atau deskripsi objek wisata yang ada di Surabaya.
Meskipun menggunakan pendekatan literal, hasil terjemahan tetap diupayakan agar tidak kaku. Revy memastikan bahwa setiap informasi, mulai dari sejarah Tugu Pahlawan hingga keunikan kuliner lokal, tersampaikan dengan struktur yang mudah dipahami tanpa menghilangkan esensi budaya aslinya.
Strategi Adaptasi Budaya dalam Terjemahan
Menghadapi perbedaan budaya antara penutur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tentu memberikan tantangan tersendiri. Oleh karena itu, penerapan strategi penerjemahan yang tepat sangat diperlukan untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Salah satu strategi yang menonjol dalam buku panduan ini adalah addition atau penambahan informasi. Strategi ini digunakan untuk memberikan konteks tambahan pada istilah-istilah yang mungkin terdengar asing bagi telinga turis asing.
Selain itu, strategi transposition diterapkan untuk menyesuaikan perubahan tata bahasa, sehingga teks bahasa Inggris mengalir secara alami. Tidak lupa, strategi borrowing tetap dipertahankan untuk kata-kata ikonik Surabaya yang tidak memiliki padanan kata tepat, guna menjaga identitas lokal. Misalnya, istilah nama makanan atau transportasi khusus yang menjadi ciri khas daerah.
Dukungan Penuh terhadap Pariwisata Surabaya
Proyek ini diharapkan dapat menjadi referensi yang valid bagi para pelancong yang ingin merasakan pengalaman “Surabaya Wandering” yang sesungguhnya. Menurut Sidarta Prassetyo selaku dosen pembimbing, karya ini merupakan wujud nyata kontribusi mahasiswa vokasi dalam mendukung industri pariwisata melalui keahlian praktis di bidang bahasa.
Dengan adanya buku panduan dwibahasa ini, kendala bahasa yang sering dialami wisatawan internasional diharapkan dapat berkurang. Surabaya kini memiliki sarana promosi yang lebih inklusif, yang tidak hanya mengandalkan visual, tetapi juga narasi yang kuat dan mudah dipahami oleh dunia.
[BACA JUGA: Muhammad Levi Raih Gelar Mahasiswa Berprestasi dari Prodi D4 Perbankan dan Keuangan UNAIR]
***
Penulis: Revy Febrianti



