VOKASI NEWS – Pesatnya perkembangan teknologi finansial telah menghadirkan instrumen investasi baru yang melampaui batas konvensional, salah satunya adalah aset cryptocurrency. Generasi Z di Kota Surabaya menjadi kelompok yang menarik untuk dikaji karena kedekatannya dengan ekosistem digital.
Berdasarkan data Bappebti tahun 2024, lebih dari 60% investor aset cryptocurrency di Indonesia berasal dari Generasi Z (rentang usia 18–30 tahun). Kelompok ini tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Sebagai pusat ekonomi Jawa Timur, Surabaya menjadi wilayah strategis dengan populasi Generasi Z mencapai lebih dari 920.000 jiwa.
Pengaruh Literasi Keuangan, Media Sosial, dan FoMO
Minat investasi sendiri merupakan cerminan dari keinginan kuat individu untuk melakukan kegiatan investasi dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa depan (Salsa, 2025). Dalam hal ini, literasi keuangan berperan penting sebagai kemampuan dalam mengelola keuangan dan mengambil keputusan finansial.
Selain itu, peran media sosial sebagai platform digital yang memungkinkan pengguna berbagi informasi secara real-time juga menjadi faktor penentu yang sulit dipisahkan dari keseharian Generasi Z (Asta & Ilham, 2023). Di sisi lain, muncul fenomena psikologis Fear of Missing Out (FoMO), yakni kecemasan sosial akibat ketakutan tertinggal dari tren atau peluang yang sedang ramai dibicarakan, yang turut memengaruhi keputusan investasi (Przybylski et al., 2013).
Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif kausal untuk menguji hubungan sebab-akibat antar variabel. Data diperoleh melalui kuesioner kepada 100 responden Generasi Z di Surabaya. Responden didominasi oleh pelajar dan mahasiswa (51%).
Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Analisis ini bertujuan untuk menguji pengaruh literasi keuangan, media sosial, dan FoMO terhadap minat investasi.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat investasi cryptocurrency secara simultan. Secara parsial, literasi keuangan terbukti mendorong individu untuk lebih percaya diri dalam berinvestasi. Hal ini terjadi karena pemahaman risiko yang lebih baik.
Media sosial ditemukan sebagai faktor paling dominan dengan koefisien regresi tertinggi sebesar 0,339. Temuan ini sejalan dengan Theory of Uses and Gratifications. Teori tersebut menyatakan bahwa individu aktif memanfaatkan media untuk memenuhi kebutuhan informasi dan sosial. Sementara itu, variabel FoMO juga terbukti memotivasi individu untuk berpartisipasi dalam aset digital. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran kehilangan peluang besar.
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa minat investasi Generasi Z di Surabaya dipicu oleh kombinasi antara pemahaman finansial, paparan informasi masif dari media sosial, dan dorongan psikologis untuk tetap relevan dengan tren.
Meskipun minat investasi digital sangat tinggi dengan 83% responden menyatakan keinginan untuk mencoba berinvestasi dalam waktu dekat, sangat penting bagi institusi pendidikan dan regulator untuk terus memperkuat literasi keuangan berbasis digital. Penguatan ini bertujuan agar keputusan investasi yang diambil oleh generasi muda tidak hanya didasarkan pada rasa takut tertinggal tren (FoMO), melainkan pada analisis rasional dan manajemen risiko yang matang.
[BACA JUGA: Mahasiswa Vokasi Universitas Airlangga Sabet Emas di Ajang Internasional ICVIAS 2025]
Penulis: Dinda Bariroh Barid
Pembimbing: Dr. Hanifiyah Yuliaful Hijriah S.EI., M.SEI.
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



