Mitigasi Risiko Pelayanan Radiologi dengan Metode HFMEA

VOKASI NEWS – Pelayanan radiologi memiliki peran strategis dalam menunjang ketepatan diagnosis dan pengambilan keputusan klinis di rumah sakit. Setiap proses pemeriksaan radiologi menuntut ketelitian tinggi karena berhubungan langsung dengan keselamatan pasien. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat berbagai risiko operasional yang dapat muncul, mulai dari kesalahan identifikasi pasien hingga gangguan teknis alat. Risiko-risiko ini perlu dikelola secara sistematis agar mutu pelayanan tetap terjaga.

Berdasarkan kondisi di RSUD Padangan Kabupaten Bojonegoro, instalasi radiologi menghadapi tantangan operasional yang berpotensi memengaruhi kualitas layanan. Antrean pemeriksaan, keterbatasan sumber daya manusia, serta kompleksitas alur pelayanan menjadi faktor yang meningkatkan peluang terjadinya kegagalan proses. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan terstruktur untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko sejak dini.

Pendekatan HFMEA dalam Layanan Radiologi

Healthcare Failure Mode and Effect Analysis atau HFMEA merupakan metode analisis risiko proaktif yang banyak digunakan di layanan kesehatan. Metode ini bertujuan mengidentifikasi potensi kegagalan, menilai tingkat risiko, serta merumuskan strategi mitigasi sebelum kejadian merugikan terjadi. HFMEA menilai risiko berdasarkan tingkat keparahan dampak (severity) dan frekuensi kejadian (probability).

Penerapan HFMEA pada layanan radiologi dilakukan melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan tenaga kesehatan terkait. Diskusi ini mencakup identifikasi risiko, penilaian tingkat risiko, analisis decision tree, serta penyusunan rekomendasi mitigasi. Pendekatan ini memungkinkan pengambilan keputusan berbasis pengalaman lapangan dan standar keselamatan pasien.

Identifikasi Risiko Operasional Radiologi

Hasil analisis menunjukkan terdapat lima potensi risiko utama di instalasi radiologi RSUD Padangan. Risiko tersebut meliputi pengendalian dosis radiasi pada pemeriksaan citobed di IGD, ketepatan input identitas pasien pada SIMRS, keamanan pemberian obat kontras, ketepatan pemasangan marker radiologi, serta kegagalan pelayanan berupa pengulangan expose rontgen.

Kelima risiko ini dinilai memiliki tingkat keparahan dan frekuensi yang berbeda. Penilaian hazard score menunjukkan tiga risiko berada pada kategori sedang dan dua risiko berada pada kategori rendah. Risiko kategori sedang berpotensi berdampak signifikan terhadap keselamatan pasien sehingga memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaannya.

Prioritas dan Strategi Mitigasi Risiko

Risiko dengan kategori sedang meliputi kesalahan input identitas pasien, keamanan pemberian obat kontras, dan ketepatan pemasangan marker radiologi. Risiko ini dinilai signifikan karena dapat memengaruhi ketepatan diagnosis dan keselamatan pasien. Meskipun kontrol telah tersedia, risiko tetap memerlukan mitigasi lanjutan agar kejadian tidak diinginkan dapat dicegah.

Strategi mitigasi yang diusulkan mencakup penerapan prosedur double cross check identitas pasien, pemeriksaan ureum dan kreatinin sebelum pemberian kontras, serta penegakan standar operasional pemasangan marker dengan monitoring berkala. Selain itu, penguatan komunikasi antarpetugas dan peningkatan kepatuhan terhadap SOP menjadi faktor kunci dalam menurunkan risiko operasional.

Sementara itu, risiko pengendalian dosis radiasi dan pengulangan expose rontgen termasuk kategori rendah. Risiko ini dinilai masih dapat diterima karena dampaknya relatif kecil dan telah dikendalikan melalui protokol keselamatan radiasi yang berjalan. Optimalisasi prinsip ALARA tetap diperlukan sebagai upaya pencegahan jangka panjang.

Mendukung Mutu dan Keselamatan Pasien

Hasil analisis HFMEA selaras dengan indikator mutu pelayanan radiologi RSUD Padangan, khususnya pada aspek kelengkapan identifikasi pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa analisis risiko dapat menjadi alat pendukung dalam program peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Dengan pendekatan yang sistematis, risiko operasional dapat dikelola secara lebih efektif.

Penerapan HFMEA di instalasi radiologi diharapkan mampu meningkatkan kesadaran risiko, memperkuat budaya keselamatan, serta mendorong perbaikan berkelanjutan. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan pasien dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit daerah.

[BACA JUGA: Pendidikan Vokasi sebagai Pilar Kesiapan Generasi Muda Menghadapi Dunia Kerja]

***

Penulis: Muhammad Dedy Kurniawan

Pembimbing: Muhaimin dan Weni Purwanti

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)